Iblis Itu ialah…

Minggu kemarin Yesus ‘menyanjung Petrus’ dan menyerahkan kunci surga padanya, kok minggu ini langsung menghardiknya sebagai iblis! Lha wong Petrus itu ya kemlinthi sih, sudah jelas sanjungan Yesus itu menunjuk kuasa roh baik, bukan kemampuannya sendiri, kok bisa-bisanya ngendhas-ndhasi (entah apa bahasa Inggrisnya, tapi maksudnya memberi wejangan seolah-olah dialah yang tahu segalanya yang akan terjadi pada orang lain) gurunya! Petrus bilang, “Kamu Mesias, jadi gak akan menderita; kalau perlu aku akan di depanmu melawan apa saja yang membuatmu menderita!”

Dasar Petrus, tak tahu diri! Mentang-mentang habis disanjung Yesus, dia tak sadar bahwa tempatnya sebagai pengikut ya adanya di belakang, bukan di depan! Di depan malah dia menghalang-halangi Yesus, dan itu kenapa Yesus menyebutnya sebagai iblis yang berencana membatalkan misinya.

Loh, sebetulnya Petrus itu kan niatnya baik ya?

Memang, tetapi niat baik saja tidak cukup. Ambillah misalnya niat heroik orang tua yang sejak kecil hidupnya susah, entah karena perang, karena krisis, karena tempat hidup yang gersang, dan sebagainya. Pokoknya hidup serba sulit dan menderita. Setelah sukses dan punya anak, ia memegang prinsip: jangan sampai anakku hidupnya susah seperti aku dulu, aku harus usahakan supaya ia bisa hidup nyaman seperti aku sekarang! Niat baik orang tua seperti ini membuat anak rapuh, manja, minta diperhatikan, sulit mandiri, harga diri meroket, tak bisa berempati pada situasi sulit dan penderitaan seperti kultur antri (halah….Florence lagi Florence lagi)! Nah…padahal tadi kan maksud ortu baik!

Lha apa ya saya mesti membiarkan anak saya menderita, Romo?

Penderitaan gak usah dicari. Yesus juga gak memberi saran untuk mencari penderitaan. Ia cuma menegaskan bahwa jalan Mesias itu mesti melalui penderitaan. Yang dibuatnya juga cuma ‘kotbah’, menyembuhkan orang sakit dll, tapi justru karena kotbahnya itu adalah Sabda Allah sendiri, atau justru, menurut refleksi Yohanes, karena Yesus adalah Sabda Allah sendiri, ia ditentang orang dan karena itu muncul penderitaannya. Ini sudah dinubuatkan Yeremia dengan hidupnya: Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari.

Paulus sendiri memberi nasihat: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Penderitaan itu bahkan sudah muncul sejak orang mesti memilih yang baik, yang sesuai dengan Sabda Tuhan, karena menuntut ingkar diri (self-denial dalam arti positif) atau askese: bangun kesiangan karena begadang, tinggal bisa misa sore, tapi kok ada tawaran tiket nganggur konser; sakitnya tuh di sini!

Jadi? Kalau anak menderita karena konsekuensi dari mendengarkan Sabda Allah, biarkan saja! Kalau perlu malah ditegasi supaya anak belajar ambil risiko dari nilai yang baik (kerja keras, mandiri, sendiri, minta maaf, berterima kasih, dll)! Tapi jangan biarkan anak sakit tak diobati dong!


MINGGU BIASA XXII A/2
31 Agustus 2014

Yer 20,7-9
Rm 12,1-2
Mat 16,21-27

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s