Kitorang bodoh semua, Flo

Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Tuhan untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Tuhan untuk memalukan apa yang kuat dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Tuhan, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Tuhan untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Tuhan (1Kor 1,27-29).

Kutipan teks itu sesuai dengan kalender liturgi hari ini dan bukannya sengaja diambil demi melanjutkan wacana mengenai Kak Flo kemarin. Kalimat itu pun sudah cukup menjadi bahan renungan tanpa cas cis cus lagi. Akan tetapi, tentu tak ada salahnya memperluas cakrawala pemahaman dengan memperhatikan bacaan Injil hari ini.

Kerajaan Surga itu diumpamakan seperti tuan yang bepergian jauh dan memercayakan pengelolaan hartanya kepada hamba-hambanya dalam bentuk talenta. Ini bak Kristus yang meninggalkan para murid-Nya dan memercayakan harta-Nya. Apa harta yang dipercayakan-Nya? Bukan aneka materi yang kita miliki, melainkan jiwa-roh kita sendiri. Itu mengapa muncul ungkapan Teilhard de Chardin: we are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual beings having a human experience.

Bagaimana para hamba itu mengelola harta rohani itu? Dua hamba menggerakkannya, seorang hamba memendamnya. Dua orang menghayati harta itu sebagai milik tuannya yang mesti dikembangkan. Yang seorang memperlakukannya seolah-olah sebagai harta miliknya sendiri: sukakgue mau gue apain! Ternyata, dua orang yang bergerak itulah yang dihargai tuannya. Barangkali kenyataan hidup kita berkebalikan dengan perumpamaan itu: sepertiga mendorong diri kita untuk bergerak, dua pertiganya malas!

Tak seorang pun bisa mengetahui seberapa besar talenta (jiwa-roh)nya sebelum ia menguaknya sampai batas tetapi toh pada kenyataannya tak banyak orang mau mewujudkannya. Kenapa? Di mata dunia orang seperti ini dianggap bodoh (lha ya mau-maunya olah rohani wong jelas-jelas hidup ini ya yang fisik-fisik ini). Padahal, di hadapan Tuhan, tak ada orang yang bisa memegahkan dirinya karena bodoh juga. Jadi, sudahlah, memang kitorang ini bodoh!

Ya Tuhan, bantulah aku untuk semakin peka mendengar bisikan-Mu dan bergerak seturut panggilan-Mu itu.


SABTU BIASA XXI A/2
30 Agustus 2014

1Kor 1,26-31
Mat 25,14-30

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s