Mau Bikin Menara Babel?

Saya kasih tahu rahasia, tapi jangan bilang siapa-siapa ya: tak sedikit orang yang studi ilmu ketuhanan yang malah luput menghayati kesucian hidup (ini sih memang bukan rahasia lagi). Saya tak malu mengakui bahwa bahkan romo, yang juga manusia itu, termasuk saya sendiri di dalamnya, bisa luput. Ada momen-momen ketika orang benar-benar tak lagi bisa menghayati bahwa ia bukanlah Sang Pencipta. Secara kognitif ia menerima bahwa Tuhanlah pemilik kehidupan ini, tetapi secara afektif ia mencengkeram kehidupan itu sedemikian rupa sehingga malah jadi tegang, terbebani, mencari pengakuan, menggonggong ke sana kemari.

Dalam komunitas internasional seperti yang saya hidupi, bisa jadi seseorang oleh pimpinannya ditugasi menangani pekerjaan baru yang menuntut kesiapsediaan anggota. Apa yang terjadi? Orang bisa berujar,”Saya tidak punya modal apa-apa untuk tugas itu,” atau, “Saya tak dipersiapkan untuk tugas itu,” atau, “Saya bukan orang yang tepat untuk itu,” dan semacamnya. Pokoknya, orang bisa berdalih macam-macam untuk memenuhi sungut-sungut atau kekecewaan alias ketidakpuasan dalam hidupnya. Pada kelompok orang ini, bisa ditemukan gagasan dasar bahwa mereka identik dengan pekerjaan yang dijalankan, apalagi kalau ternyata pekerjaannya menuai hasil bagus dan puja-puji dari banyak orang (kalau gagal, ya menyalahkan pihak lain). Orang menepuk dada,”Aku getuloh!” Inilah karyaku, pekerjaanku, usahaku, rumahku, anak-anakku, negaraku, dan seterusnya.

Tentu secara objektif orang lain tahu bahwa rumah yang kita beli itu ya memang rumah kita, tetapi mengapa kita mesti berpikir bahwa properti itu kita beli semata karena kemampuan kita? Mengapa kita mesti beranggapan bahwa kesuksesan kita sebagai artis, misalnya, semata-mata karena jerih payah kita sendiri? Bahkan, mengapa juga kita mesti bangga bahwa kecerdasan otak itu semata karena usaha kita mengasahnya? Lupa ya bahwa semua yang membangun identitas diri kita ini eksis karena Allah mengizinkannya dengan aneka macam faktor: kemurahan hati orang lain, pengorbanan seorang ibu, simpati orang asing, kesetiaan teman, pertobatan orang lain (yang berhasil mengatasi keirihatiannya, misalnya)?

Jika orang menyadari hal ini, ia akan lebih berhati-hati lagi dalam mengklaim “inilah prestasiku”, “inilah karyaku”, “inilah sumbanganku”, dan sebagainya. Untuk itu orang tidak perlu kehilangan greget atau semangat membara dalam bekerja. Ia tetap bekerja sekeras mungkin, tetapi pekerjaannya itu diletakkan dalam konteks partisipasi dengan kerja Allah pencipta sendiri. Allah masih dalam proses mencipta dan kita terlibat di dalamnya: berhasil atau tidak, kita bukan segala-galanya di situ.

Inspirasi itu saya gali dari hidup St. Bartolomeus yang dipestakan Gereja Katolik hari ini. Bartolomeus ini tinggal di desa Kana sebelah desa asal Yesus (jaraknya 13 kilo keleus). Sama-sama desa kecil yang kalau dibully kira-kira jadinya seperti Bekasi, tak ada dalam peta. Maklum saja kalau saat dikabari Filipus bahwa ada nabi dari desa sebelah, ia berkomentar,”Apa sih hebatnya desa itu? Apa yang baik dari situ?” Tanggapan Filipus sederhana,”Ayo, lihat saja sendiri!” Bartolomeus itu rupanya pemikir juga, maka tanggapan sederhana Filipus itu nuansanya bisa dibaca: sudah, gak usah berfilosofi macam-macam, datang dan lihat saja sendiri. Yesus pun kiranya menyodorkan hal yang sama: mari, ikutlah aku.

Pada praktiknya, yang tadi saya sebut sebagai rahasia, orang bisa berdalih untuk mengikuti Yesus: ya, tapi saya gak punya background studi, saya gak punya persiapan, ya itu bukan ‘agama’ saya, dan bla bla bla lainnya. Persiapan memang baik, tetapi jika itu dimutlakkan, malah Allah sendiri tak diberi tempat di situ. Panggilan kita sederhana: menjumpai Yesus, mengalaminya, berbagi dengannya, menjadi saksinya, menuntun orang pada Tuhan. Itu bisa dijalankan dalam segala jenis pekerjaan (halal tentunya). Indikatornya sederhana: sukses tidak sombong, gagal tidak stres cari-cari pembombong.

Tuhan, semoga aku semakin dapat mengalami bahwa pekerjaanku semata adalah menjalankan kehendak-Mu. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. BARTOLOMEUS RASUL
(Hari Senin Biasa XXI B/1)
24 Agustus 2015

Why 21,9b-14
Yoh 1,45-51

2 replies

  1. …….Maka dari itu, tidak seorang pun dapat mengklaim bahwa ia sudah sempurna dalam beriman. Tetaplah mohon rahmat agar hari ini, tidak mengingkarinya dalam tindakan dan perkataan….bermenung atas ini rasanya…betapa jauhnya saya dari-Nya….God help me please….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s