Cinta kok Maksa

Hari-hari belakangan ini berita Kampung Pulo lumayan menyita perhatian dan Ahok bisa jadi bahan perbantahan di sana-sini. Saya tidak ikut-ikutan saja ya karena kepentingan yang saya sodorkan tidak eksklusif untuk salah satu pihak, entah teman Ahok atau lawan Ahok. Dalam kasus penggusuran (ini bahasanya siapa?) atau relokasi (ini bahasa apa?) itu, aneka macam kepentingan bisa tunggang-tunggangan. Kelemahan pihak yang satu bisa jadi santapan empuk bagi pihak yang lain. Maka saya sodorkan santapan lain saja yang kiranya lebih keras.

Saya belum pernah mendengar ungkapan bahkan dari orang yang sedang jatuh cinta ala monyet sekalipun: aku harus mencintai kamu. Modalitas ‘harus’ tidak klop dengan cinta. Yang pernah saya dengar: saya harus kawin dengan dia, anak saya harus dapat dia, saya harus tampil ciamik di hadapannya, dia harus memilih saya, dan bla bla bla seterusnya. Akan tetapi, itu semua tidak identik dengan cinta. Begitu orang menyematkan kata ‘harus’, ia mesti waspada bahwa kata kerja atau kata sifat setelah modalitas itu lebih cocok dikategorikan dalam ranah kekuasaan daripada cinta. Cinta senantiasa membebaskan orang untuk memilih.

Lha kalau gak ada modalitas ‘harus’, jadi anarkis dong, karena terserah setiap orang mau milih apa! Tampaknya begitu, tetapi cinta yang membebaskan itu kan gak cuma terhubung dengan kekuasaan, tapi juga keadilan. Kekuasaan memang penting: untuk merealisasikan cinta nan bebas dan adil. Tanpa kekuasaan, cinta jadi nglomprot tanpa daya, tanpa komitmen. Akan tetapi, kekuasaan juga tak bisa ongkang-ongkang begitu saja karena di hadapannya bisa dipertanyakan tolok ukur keadilan yang dipakainya: jangan-jangan eksklusif, jangan-jangan menganaktirikan orang lemah, dan seterusnya. Kekuasaan cinta berelasi erat dengan prinsip keadilan. Tanpa prinsip keadilan, kekuasaan benar-benar korup, bahkan sekalipun mengatasnamakan pemberantasan korupsi!

Ujung dari kekuasaan yang tak terkoreksi oleh keadilan cinta adalah kekerasan, yang menandakan frustrasinya kekuasaan dalam memercayai kekuatan cinta nan adil. Provokator kekerasan tidak selalu dari pihak penguasa (supaya punya alasan untuk menghalalkan kekerasan), tetapi bisa juga dari kaum tertindas (karena tak menemukan jalan untuk memperbaiki situasi hidupnya). Kaum tertindas yang kemudian punya otoritas pun akan menerapkan pola yang sama jika tak sungguh punya komitmen pada keadilan. Maklum, power tends to corrupt. Maka, tiap orang perlu memilih di mana keberpihakannya: pada Allah atau pada ilah (seturut bacaan pertama), pada Yesus wong edan dari Nazaret yang mengklaim dirinya sebagai roti hidup dari surga atau pada penguasa macam Herodes. Pilihan kepada ilah dan orang macam Herodes berujung pada pemaksaan dengan kekerasan. Pilihan kepada Allah dan Yesus berujung pada dialog, yang kerap kali buntu dan pemilihnya jadi korban kekerasan. Ini pilihan susah. Para murid Yesus sendiri rupanya terpengaruh oleh sikap orang banyak: pergi meninggalkannya.

Ya Tuhan, semoga aku semakin memahami kuasa-Mu, cinta-Mu, dan keadilan-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXI B/1
23 Agustus 2015

Yos 24,1-2a.15-17.18b
Ef 5,21-32
Yoh 6,60-69

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s