Bahayanya Seragam

Ada gak orang yang rendah hati di hadapan Tuhan, tetapi sombong di hadapan sesama? Sebaliknya, adakah orang yang rendah hati di hadapan sesama, tetapi sombong di hadapan Tuhan? Kalau mengingat jawaban Yesus kemarin sih jelaslah gak ada, karena perintah cinta kepada sesama pun sepadan dengan mandat cinta kepada Tuhan. Orang rendah hati ya rendah hati aja, entah di hadapan Tuhan atau pun sesama.

Loh, tetapi kan Yesus sendiri kasih perumpamaan tentang hamba yang jahat pada Injil Matius (18,23-35)? Di hadapan tuannya ia merengek-rengek, tetapi kemudian mencekik bawahannya. Apa itu bukan merendahkan diri di hadapan tuannya dan arogan di hadapan sesamanya? Wah, maaf, itu perumpamaan gak bicara soal kerendahan hati, tetapi soal kemurahan hati dan pengampunan. Pun, kalau mau maksain itu contoh orang rendah hati di hadapan Tuhan dan sombong di hadapan sesama, tidak masuk akal. Orang rendah hati tidak menyimpan agenda tersembunyi dan memperalat pihak lain. Artinya, ia menempatkan dirinya di atas pihak lain, alias pihak lain mesti tunduk padanya, yang belum tentu sungguh baik bagi semua.

Tak ada orang yang arogan di hadapan Tuhan tetapi rendah hati di hadapan sesama. Kerendahan hatinya di hadapan sesama juga merupakan kedangkalan political correctness belaka. Orang ateis, misalnya, menyimpan arogansi terhadap mereka yang percaya kepada Tuhan, entah bagaimanapun arogansi itu dimanifestasikan. Jangan percaya pada ucapan terima kasih orang ateis, karena itu cuma lip service; ia tidak sungguh-sungguh berterima kasih kepada Anda. Kenapa?

Ya, karena orang ateis sejatinya tak bisa bersyukur. Apa, coba, yang mau disyukuri, kalau hidup ini cuma kebetulan dan tiap orang melakukan apa yang mereka sukai, yang mereka maui? Mosok mesti berterima kasih atas kesenangan yang diperoleh orang lain? Lha kalau nemu alasan untuk bersyukur atas kebahagiaan orang lain, berarti ada keterarahan orang pada sesuatu ‘yang lain’ dong, yang mengatasi kemanusiaan sendiri. Lah ini kok malah jadi bahas ateisme?!

Oh, maaf, soalnya memang ateisme juga merebak ke dalam hidup keagamaan. Itu mengapa Yesus mengajari orang-orang supaya memperhatikan ajaran ahli-ahli Taurat dan orang Farisi tetapi tak usah mengikuti gaya hidupnya yang omdo’. Mereka yang dikritik Yesus tentu adalah orang Farisi dan ahli Taurat yang omdo’. Tapi mungkin yang omdo’ itu jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang konsekuen. Kenapa bisa begitu? Ya jelas, omdo’ biar bagaimanapun jauh lebih gampang.

Yang dikritik Yesus adalah mereka yang suka memakai “tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang”, seragam upacara doa, duduk di tempat terhormat. Featured image posting-an ini mengilustrasikan ‘tali sembahyang’ itu, yang disebut phylactery atau tefilin. Kalau butuh model, di bawah ini contohnya dari situs ini, tetapi kiranya bukan ahli Taurat atau anggota kelompok Farisi.PhylacteriesTangan kiri perempuan yang di belakang itu ada talinya. Tali itu mengikat kotak kecil yang berisi potongan Taurat di lengan atas. Di atas dahinya juga ada kotak kecil seperti itu. Sepertinya, perlengkapan doa itu dulunya cuma dipakai oleh kaum lelaki, tetapi entah apa yang terjadi sekarang, mulai ada gerakan perempuan untuk mengenakannya.

Lha rak tenan: seragam memang punya potensi negatif. Positifnya membangun identitas, tetapi jadi negatif jika malah nyinyir di situ. Maksud tali sembahyang tentu baik: Sabda Allah mesti senantiasa diingat (maka di atas dahi diikatkan kutipan Taurat) dan dilaksanakan (maka juga diikatkan pada lengan). Nah, esensinya adalah soal menanamkan Sabda Tuhan dalam budi dan hati serta merealisasikannya dengan aksi. Kalau aksinya malah fokus pada tali sembahyang, orang sibuk pada alat-alat ritualnya sendiri, bukan relasi dengan yang jadi tujuan ritualnya; berarti luput, bukan?

Tuhan, berikanlah aku kebijaksanaan supaya tak terjebak pada seragam dan sungguh mengerti mana sarana-sarana dan tujuan hidupku. Amin.


HARI SABTU BIASA XX B/1
Pesta Wajib Santa Perawan Maria Ratu
22 Agustus 2015

Rut 2,1-3.8-11;4,13-17
Mat 23,1-12

Posting Tahun Lalu: Gajah Diblangkonin…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s