Apa Sih yang Kamu Cari, Cin?

Dalam agama Kristen, sinkronisasi cinta kepada Allah dan sesama terdapat pada atribut Kristus, yang terangkum dalam simbolisasi salib (perjumpaan sumbu vertikal dan horisontal, dan supaya tidak identik dengan Palang Merah Indonesia, sumbu vertikalnya lebih panjang ke bawah… halah).

Bacaan Injil hari ini ada dalam konteks konflik antara orang-orang Farisi, ahli Taurat dan Yesus. Pertanyaan seorang ahli Taurat mendesak Yesus untuk merumuskan hukum dasar hidup manusia beriman secara singkat. Maklumlah, para rabbi cenderung menunjukkan aneka macam aturan (248 perintah?) sehingga wajar orang bertanya,”Janjane, sebetulnya, hukum yang paling penting tuh yang mana sih?”

Sepertinya para tokoh Yahudi juga sudah berupaya mereduksi aturan seringkas mungkin: Daud mendaftar sebelas poin (Mzm 15,2-5), Yesaya enam (Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan; Yes 33,15), Mikha tiga (Apakah yang dituntut TUHAN dari padamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?; Mi 6,8), Amos dua (Am 5,4) dan Habakuk satu doang (Hab 2,4).

Tetapi, orang-orang Farisi tampaknya juga tidak pertama-tama pusing dengan jumlah; atau bisa juga dimengerti mereka sudah pusing dengan jumlah aturan yang buanyak, lantas tiba pertanyaan “Sebenernya gue ngapain sih begini terus?” Mereka tanya soal esensi dari aturan yang banyak itu dan Yesus menjawab dengan jelas: cintailah Allah dan sesamamu secara tulus. Seluruh aturan hukum mendapatkan makna dan dasarnya dari cinta.

Akan tetapi, kebaruan jawaban Yesus tidak terletak pada upaya sinkronisasi cinta Allah dan sesama; sudah sejak lama orang mendambakan sinkronisasi itu, sudah sejak zaman Adam dan Hawa manusia merindukan kesatuan dunia dan surga dalam cinta. Kebaruan jawaban Yesus tidak pertama-tama pada rumusannya, tetapi bahwa pada dirinya, cinta horisontal dan vertikal itu terealisasikan. Itu mengapa dia disebut Kristus dan pengikutnya juga menjadi Kristen. Ini bukan pertama-tama soal dibaptis di gereja ini atau itu, melainkan karena ikut membangun simbol Kristus tadi dengan hidupnya: salib. Orang yang menghindari salib, ia tak punya komitmen pada cinta dua sisi satu keping itu.

Tuhan, berikanlah aku kekuatan untuk menghayati komitmen cintaku pada-Mu dalam setiap tugas dan pekerjaanku. Amin.


HARI JUMAT BIASA XX B/1
Peringatan Wajib St. Pius X, Paus
21 Agustus 2015

Rut 1,1.3-6.14b-16.22
Mat 22,34-40

 

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s