Death Penalty

Setiap kepala punya ide sendiri-sendiri mengenai hukuman mati, tetapi yang dituliskan di sini bukanlah ideologi, melainkan sikap atau pilihan fundamental terkait hukuman mati: tak pernah menginginkannya dan juga tak pernah menyetujuinya dengan argumentasi apa pun. Immanuel Kant punya ide sophisticated untuk menyokong hukuman mati dalam kasus pembunuhan (dan tampaknya hanya dalam kasus pembunuhan). Logika tulisan ini, sebaliknya, mungkin merupakan penyederhanaan: (jangan) lakukan terhadap orang lain apa yang kamu ingin orang lain (tidak) lakukan terhadapmu! Tapi, golden rule itu bukan alasan saya.

Belum lama ini diberitakan seorang ayah yang masih relatif muda memukul anak perempuan bungsunya yang rebutan baju dengan kakaknya. Sebetulnya sang ayah memukuli kedua anaknya, tetapi terhadap si bungsu yang baru berumur lima atau enam tahun itu dampak pukulan kayu begitu fatal. Kepala si anak bungsu ini berlumuran darah, lantas ia berlari mencuci mukanya dan kembali ke pangkuan ayahnya, meminta maaf karena telah membuat ayahnya marah, dan setelah minum, nafasnya tersengal-sengal sampai ajal menjemputnya. Sang ayah sangat sedih dan begitu menyesal atas perbuatan emosionalnya yang merenggut nyawa anak bungsu yang dikasihinya.

Entah berapa kadar kebenaran beritanya (maklum, di dunia maya orang bisa bikin aneka berita dengan kepentingan apa saja), tetapi kisah itu memantik kesadaran: we are human beings. Bukan domain manusia untuk menciptakan dan memusnahkan human beings lainnya dengan aneka kemampuan rekayasanya. Ini bukan soal argumentasi atau rasionalisasi dari perintah ‘jangan membunuh’, melainkan suara hati yang mengais-ngais kesadaran manusia akan nilai kehidupan yang jauh lebih dahsyat daripada ideologi-ideologi para pemenang.

Sikap dasar menolak hukuman mati bukanlah suatu ideologi. Terhadap ideologi, tentu ada pro kontra. Itu wajar. Tetapi, terhadap sikap dasar, pilihan fundamental atas kehidupan, orang hanya bisa menghargainya jika terjadi perbedaan atau pertentangan. Jika tidak, orang malah jatuh pada ideologi fanatisme, absolutisme, atau fundamentalisme itu sendiri. Bisa juga orang jatuh pada kontradiksi: si vis pacem, para bellum (kalau kamu ingin damai, siapkanlah perang).

Menolak hukuman mati berarti menolak hukuman mati bahkan terhadap orang yang menghukum mati sesamanya. Maka, pilihan dasar itu konsisten: tidak akan membunuh orang yang telah atau akan membunuh lebih banyak orang lain lagi. Itu tidak sama dengan membiarkan orang membunuh orang lainnya! Sama sekali berbeda! Ada alternatif hukuman mati: penjara (apapun manifestasinya) seumur hidup. Wuaaaa….lha itu yang susah! Ya memang, kalau kebaikan itu mudah dicapai, sudah sejak dulu dunia ini jadi surga!

Hukum ilahi mengikat hati nurani dan membela kehidupan dan karenanya menciptakan ruang kebebasan bagi manusia untuk menentukan pilihan dasariahnya. Memang tak banyak orang yang membela hukum ilahi, tetapi toh ada: para martir yang membela kemanusiaan (bukan pembela agama tertentu), para pejuang yang berani pasang badan untuk membongkar korupsi, kepalsuan hidup dengan risiko kematian…

5 replies