Kebenaran: Agama vs Iman

Orang dewasa dalam kondisi normalnya takkan minta orang lain untuk mengunyahkan jeruknya. Paling-paling, setelah orang lain mengunyah jeruk dan ternyata kecut, ia mempersilakan orang lain itu untuk menghabiskan jeruknya dan ia sendiri mengambil jeruk lain yang mungkin lebih manis. Begitulah, setiap orang mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Nabi Yehezkiel yakin bahwa Allah bukanlah sosok pendendam yang memperhitungkan dosa masa lalu, apalagi dosa para pendahulu. Dosa-dosa pendahulu takkan ditimpakan kepada penerus yang tak terlibat dalam kesalahan para pendahulunya. Jadi, anak koruptor yang tahu benar ortunya korup dan benar-benar tidak cawe-cawe dalam korupsi ortunya, kiranya tak bisa dimintai pertanggungjawaban atas korupsi yang dibuat ortunya.

Akan tetapi, meskipun setiap orang mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri, toh ada juga tanggung jawab sosial: mana ada sih anak koruptor yang gak terlibat korupsi ortunya? Lha wong ortunya korup juga demi memenuhi lifestyle anaknya juga je… Entah sadar atau tidak, langsung atau tidak, setiap orang tersangkut pada aneka ruang gelap kerapuhan masyarakat. Tanggung jawab sosial itu bisa diwujudkan dengan tobat dan pengampunan.

Allah tampaknya gak lebih peduli siapa salah, siapa benar. Allah lebih peduli bahwa orang-orang itu rukun sebagai saudara dalam Tuhan. Mosok berkelahi tapi rukun? Itu kan gak klop! Ya, kalo gitu, pengertiannya mesti diletakkan dalam level berbeda: tengkar dalam hal sepele, akur dalam prinsip. Itu sih jelas. Kalau beda prinsip, gimana? Dia gak setuju hukuman mati karena itu hak Allah, aku setuju hukuman mati demi rasa keadilan atas kematian yang telah diakibatkan pelaku dan demi menghindari potensi kematian yang lebih fatal. Dia percaya kebangkitan, aku tidak.

Kalau ada konflik prinsip, ya bergerak ke prinsip yang lebih dalam lagi dong, Bray! Prinsip kebenaran agama pada akhirnya mengikuti tolok ukur manusiawi-duniawi. Tolok ukur kebenaran iman bergerak lebih dalam: dari Allah kembali kepada Allah, yang waras ngalah dan mohon supaya kerahiman Allah sendiri yang terkuak dalam hidup ini. Ini tampaknya gampang, tapi kenyataannya susah karena lebih banyak orang yang dibutakan oleh hukum agama, tak sungguh-sungguh hidup dari iman, dari relasi pribadi dengan Allah.

Tuhan, berilah aku hati yang senantiasa eling pada-Mu. Amin. 



HARI JUMAT PRAPASKA I
27 Februari 2015

Yeh 18,21-28
Mat 5,20-26

Posting Tahun Lalu: Ruang Tobat dan Pengampunan

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s