Doa Jamu Air Manjur

Kira-kira gimana ya tingkah laku para badut politik Indonesia sewaktu kecil jika mereka meminta mainan dan tak dituruti oleh orang tuanya? Guling-guling di lantai? Menghentak-hentakkan kaki sambil menangis bergaya rock? Membanting-banting mainan yang ada? Bagaimanapun wujudnya, mereka hendak meyakinkan bahwa yang mereka inginkan itu sungguh penting dan mendesak. Lebih dari itu, mereka hendak memaksakan keinginan mereka setelah permintaan mereka ditolak.

Sekarang, setelah menjadi badut politik, tentu persuasi dan pemaksaan keinginan mereka tidak lagi diwujudkan dengan berguling-guling di lantai begitu. (Maklum, sudah sedemikian berat badannya sehingga untuk menggulingkan badannya sendiri di lantai saja sudah tak kuat!) Persuasi mereka lakukan dengan argumentasi (yang seringkali aneh dan miring) agresif nan arogan terhadap pihak lain dan pemaksaan keinginan mereka tampak dalam aneka kriminalisasi.

Tak ada gunanya meyakinkan Tuhan bahwa apa yang kita inginkan itu baik dan penting! Percumalah memaksakan kebenaran keinginan kita atas hidup ini. God really sees the truth but waits... Ia bukan sosok penguasa lalim nan tuli bin budheg yang mesti dilawan dengan kekerasan atau mungkin people power supaya Ia berubah. Ia berubah jika melihat pertobatan kita (ini insight bacaan Yunus dan orang Niniwe kemarin), alias kita sendiri mengubah orientasi hidup supaya lebih sinkron dengan kehendak-Nya.

Maka dari itu, setelah memberi contoh doa Bapa Kami, Yesus menegaskan manjurnya suatu doa. Pernyataan “mintalah maka kamu akan menerima” tak bisa ditafsirkan sebagai pemaksaan terhadap Allah supaya memenuhi permintaan kita. Jelaslah orang perlu meminta sesuatu di hadapan Allah supaya terwujud. Tetapi, ini bukan sihir dan bukan sulap dong! Saran itu bernuansa seperti memberi makan serigala: orang merealisasikan doanya melalui pilihan-pilihannya sendiri dan dalam kasus khusus mungkin Allah akan intervensi; tetapi intervensi khusus itu tak bisa dipaksakan.

Oleh karena itu, sikap dasar doa, tak bisa tidak, ialah kerendahan hati. Orang sombong tak pernah (bisa) berdoa, tapi tetap bisa sih ke gereja, masjid, pura, vihara, dan tempat ibadat lainnya.

Tuhan, buatlah aku mampu menundukkan kepala di hadapan-Mu dan sungguh bertobat. Amin. 



HARI KAMIS PRAPASKA I
26 Februari 2015

TambEst 4,10a.10c-12.17-19
Mat 7,7-12

Posting Tahun Lalu: Praying Heart Implies Humility

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s