Abraham Samad-omba

Nama Abraham Samad belakangan ini mencuat sampai-sampai bacaan pertama hari ini pun mengisahkannya, meskipun dengan modifikasi: Abraham Samad omba (yeee garing!). Kisah ‘Abraham sama Domba’ itu dikenal dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Ada sekelompok penganut agama yang ribut soal siapa anak yang dikorbankan Abraham: Ismael atau Ishak (padahal jelas, tak ada yang dikorbankan!). Maklum, lagi-lagi ini soal legitimasi agama yang bisa jadi mereduksi kebenaran yang hendak diwahyukan Allah sendiri.

Poin penting kisah ‘Abraham sama Domba’ bukan bahwa Abraham gak jadi menyembelih anaknya dan menemukan domba pengganti, melainkan betapa Abraham memiliki kepasrahan mendalam kepada Allah. Orang yang pasrah seperti ini taat kepada Allah tanpa babibu, tanpa syarat. Memang, taat tanpa syarat bukan berarti tanpa pergulatan batin. Selama tiga hari perjalanan ke gunung dengan anak tunggalnya, batin Abraham bisa jadi bergejolak hebat. Katanya Tuhan mau menjadikan ia beranak cucu banyak, menjadi bapa bangsa-bangsa (Kej 17,6), tapi kok malah anak tunggal saja mesti dikorbankan? Apa Tuhan Allah ini tidak mengenyam pendidikan dasar ya?!

Ketaatan Abraham ini memuat logika paradoksal yang diulas kemarin: aneka pertimbangan manusiawinya mesti diletakkan dalam konteks relasinya dengan Allah sendiri. Ini bukan soal menang kalah (dan Allah selalu menang). Ini adalah soal menempatkan agenda pribadi dalam peta agenda universal Allah, Sang Pencipta.

Tak ada kebijakan manusiawi yang mengungguli kebijakan ilahi; paling banter, kebijakan manusiawi itu merepresentasikan kebijakan ilahi. Lebih seringnya, kebijakan manusiawi itu adalah hasil korupsi atau pembajakan kebijakan ilahi. Dengan kata lain, orang mengejar logika manusiawi tetapi dengan topeng kebijakan ilahi a.k.a. munafik: bermurah hatilah demi Tuhan dan agama (seraya menyiapkan kantong rahasia bernama anggaran siluman DPRD untuk UPS seharga 100 juta per unit, misalnya… lha ini UPS atau genset ya?); dukunglah penegakan agama secara finansial atau material dan jika tak sanggup dukunglah secara moral (sembari mengincar perempuan mana saja yang bisa diplekotho); mari kita berantas korupsi seakar-akarnya (dengan lidah menjulur untuk mencari jabatan strategis yang menjadi jaminan masa depan)!

Ya Allah, bantulah aku untuk menjadi tulus dalam pengorbananku tanpa berkeluh kesah dan semoga aku semakin dapat terlibat dalam proyek besar kasih-Mu bagi dunia. Amin.



HARI MINGGU PRAPASKA II B/1
1 Maret 2015

Kej 22,1-2.9a.10-13.15-18
Rm 8,31b-34
Mrk 9,2-10

Minggu Prapaska II A/2 2014: Apa Itu Panggilan Suci?

3 replies

  1. Selalu berusaha dan belajar keras Mo.
    Pengorbanan saya dalam keseharian khususnya dlm keluarga, tulus dan iklas.

    Sekali waktu saat kekecewaan melanda (disalahkan krn gak sesuai),
    Timbul perasaan kecewa, gelo dan menarik diri.

    Berjuang keras melawan rasa itu, bangkit lagi…nanti sekali waktu kecewa lagi.

    Mohon pencerahan romo biar bisa keluar dr lingkaran tersebut.

    Salam dan terima kasih

    Like

    • Pengorbanan kan munculnya dari fokus pada kehendak-Nya, bukan kehendak dia, mereka, atau kita. Kalau kita berfokus pada level keinginan orang lain, apalagi kalau tak ada dialog, lebih rentan pada mengharap imbalan (apapun bentuknya). Berangkatnya dari apa yang sekiranya Tuhan kehendaki dari hidupku. Amin.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s