Higher, Better Vision

Kenapa tempat pemujaan agama nenek moyang itu dibangun di pegunungan atau dataran tinggi? Pura Besakih, Candi Sukuh, Candi Dieng, Gedong Songo, misalnya. Mungkin karena di pegunungan bisa diperoleh material secara lebih mudah, tetapi mungkin juga karena kepercayaan orang bahwa gunung menjadi tempat perjumpaan manusia dengan Yang Ilahi. Jika dibangun di dataran rendah pun, konstruksi tempat pemujaan itu memberi kesan bahwa peziarah perlu melalui proses naik: naik angkot, naik tangga, naik kuda, naik bukit, atau naik pohon.

Peristiwa transfigurasi Yesus juga mengandaikan bahwa Yesus terlebih dulu naik gunung, tidak ujug-ujug mak cling bersama tiga muridnya ada di sana. Kalau Minggu Prapaska I menyodorkan setting padang gurun, Minggu Prapaska II menyajikan karakter gunung: bacaan pertama mengisahkan Abraham yang bersama anak tunggalnya naik gunung dan bacaan Injil menyajikan peristiwa mulia di Gunung Tabor (?). Minggu pertama menggambarkan bagaimana manusia Yesus mengambil pilihan yang tepat dalam rel peziarahan menuju Allah. Minggu kedua melukiskan bagaimana para murid diundang untuk memberikan respon yang tepat bagi keilahian Yesus, tapi nyatanya gagal. Kenapa bisa gagal?

Kutipan bacaan hari ini diawali dengan keterangan waktu: enam hari kemudian. Memangnya ada apa enam hari sebelum peristiwa ini? Yesus menunjukkan identitas dirinya dan menegaskan peristiwa salib yang akan menimpanya. Murid-murid tak memahami nubuat Yesus. Kenapa? Karena mereka belum bisa melihat makna di balik penderitaan. Kenapa gak bisa melihat makna penderitaan salib? Karena titik pandang mereka terlalu ‘rendah’. Ini seperti Zakheus yang tak bisa melihat Yesus karena pendek badannya. Yang terlihat olehnya hanya kerumunan orang. Supaya bisa melihat Yesus di balik orang-orang itu, Zakheus mencari titik pandang yang lebih tinggi. Ini juga gampang dipahami dengan melihat kinerja satelit: makin tinggi posisinya, makin luas jangkauan coveragenya.

Penderitaan salib lekat dengan imaji Bukit Golgota. Di balik Bukit Golgota ada makam Yesus yang kosong, sebagai indikasi yang membangun kepercayaan orang terhadap kebangkitan Yesus. Lha, para murid sulit memaknai penderitaan salib karena mereka belum melihat makam kosong di balik Bukit Golgota itu. Kenapa gak bisa melihatnya? Lha ya jelas, wong belum terjadi! Makam kosong itu bukan cuma soal tempat, tapi juga peristiwa. Peristiwa kebangkitan hanya mungkin dilihat jika titik pandang orang ‘lebih tinggi’. Titik mana? Ya transfigurasi di Gunung Tabor itu. Peristiwa transfigurasi merupakan titik pandang yang memungkinkan orang melihat baik peristiwa salib maupun makam kosong (baca: kebangkitan).

Transfigurasi

Lalu? Yang mengalami transfigurasi Yesus kok, bagaimana kita bisa sampai ke titik pandang itu? Bisa: melalui pertobatan. Kok isa? Ya isa: karena pertobatan merupakan suatu peleburan cakrawala. Orang yang cakrawala pandangnya sempit, tercengkam oleh kesusahannya, terjerat oleh perasaannya, dan tersandera oleh masa lalunya, plus terpenjara oleh kerapuhannya. Untuk memperluasnya, mungkin orang memang perlu menaikkan titik pandangnya dalam arti literal: naik gunung, naik tower, naik gardu pandang, dan melihat bahwa dirinya bukan pusat semesta.

Dengan kesadaran itu, orang tak lagi berpretensi bahwa semua orang mesti memahaminya, memberi perhatian padanya, memberi dukungan, memedulikan perasaannya, berbelas kasihan padanya dan seterusnya. Alih-alih menempatkan diri sebagai pusat dunia ini, orang yang cakrawalanya terbuka akan berfokus pada upaya untuk memancarkan sinyal pusat dunia yang sesungguhnya, yaitu Allah yang senantiasa hendak hadir dalam hidup manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s