Logika Paradoksal

Masih berkenaan dengan death penalty, ada kisah menarik dari Titus Brandsma, seorang imam Belanda yang menjadi musuh kaum Nazi dan akhirnya dijebloskan ke kamp konsentrasi di Dachau. Ia termasuk salah satu tawanan yang dibunuh dengan injeksi. Konon, saat menyodorkan tangannya untuk diinjeksi, ia berkata dengan hormat kepada perawat yang menyuntiknya, “Anda pasti sangat sedih dan galau.” Perawat itu memang galau dan dialah yang kemudian memberikan kesaksian saat proses beatifikasi Titus Brandsma, “Semua tawanan putus asa, mencaci maki, dan menghina saya. Tetapi laki-laki ini memiliki perhatian kepada diri saya bahkan saat saya sedang membunuhnya.”

Begitulah logika paradoksal, dan logika macam itulah yang ditawarkan Kitab Suci: kasihilah musuhmu dan doakanlah mereka yang menganiaya kamu. Logika seperti ini tak terpahami oleh mereka yang punya paradigma hidup struggle for the fittest. Bagi mereka, orang tidak melakukan perlawanan semata-mata karena tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Seandainya Mahatma Gandhi punya angkatan bersenjata yang kuat, pastilah ia menyerang penjajah Inggris. Kalau saja Yesus punya pasukan, ia pasti juga angkat senjata (tapi mereka tak bisa menjawab pertanyaan: angkat senjata melawan siapa dan untuk apa Brow?).

Ungkapan Jawa mungkin bisa menggambarkan logika paradoksal itu: sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Tolok ukur kekayaan, kekuatan, perlawanan, dan kemenangan tidak diletakkan pada kuantitas fisik, tetapi pada kualitas mental, yaitu kesempurnaan dalam cinta yang berbela rasa. Tak heranlah disodorkan nasihat supaya orang menjadi sempurna sebagaimana Allah sempurna adanya: bukan maksudnya menyamai Allah, melainkan dalam batas-batas manusiawi menjalankan cinta belas kasih yang, paradoksnya, tanpa batas alias tanpa sekat. Cinta itu mengalir kepada orang baik maupun orang jahat. Apakah itu mungkin? Ya jelas mungkin, wong sudah ada banyak contohnya.

Ya Tuhan, hari ini kumohon rahmat kesempurnaan dalam cinta dan belas kasih. Mampukanlah aku untuk mencinta dan berdoa terutama bagi mereka yang mencederai hidupku, membenciku, atau menginginkan keburukan. Semoga dengan demikian semakin nyatalah kerahiman-Mu kepada kami semua. Amin.



HARI SABTU PRAPASKA I
28 Februari 2015

Ul 26,16-19
Mat 5,43-48

Posting Tahun Lalu: Masih Mau Korupsi? Plis deh…

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s