Kita Dihukum Bebas

Ada seorang pengendara mobil mewah yang menerobos lampu merah dihentikan polisi tak jauh dari perempatan. Setelah menyerahkan surat-suratnya, ia ditanyai polisi apakah ia tahu kesalahannya.
“Wah, maaf, Pak, saya tidak tahu. Saya buru-buru sekali,” jawab pria itu dengan (lagak) polos.
“Bapak lihat lampu merah tadi?” tanya  polisi lagi dan sadarlah pengendara mobil  itu.
“Oh iya, Pak, saya lihat lampu merah tadi.” Pengemudi mobil itu menjawab sambil tersenyum.
“Lalu kenapa tidak berhenti?” (Lah, dasar polisi, tadi kan sudah ada keterangan bahwa pengendara ini buru-buru ya, kok masih ditanya kenapa gak berhenti)
“Soalnya saya tadi tidak lihat ada Bapak Polisi di situ”

Memang hukum jadi tidak efektif tanpa ada aparat penegakan hukum, tetapi kalau pelaksanaan hukum bergantung pada ada tidaknya aparat itu (misalnya kalau ada polisi orang menaati aturan, kalau tak ada polisi orang melanggarnya), hukum diterima sebagai beban. Jika orang menerima hukum sebagai beban, ada dua kemungkinan: ia tidak melihat tujuan, atau hukum itu tak lagi relevan. Symptomnya sama: banyak terjadi pelanggaran. Dengan kata lain, pelanggaran hukum bisa jadi mekanisme kritik baik terhadap subjek hukum maupun terhadap hukumnya sendiri.

Tampaknya ada lebih banyak pelanggaran hukum jadi indikator bahwa orang tak melihat tujuan daripada sebagai kritik terhadap hukumnya sendiri. Hukum yang baik senantiasa dibuat berdasarkan prinsip dasar pembelaan hidup manusia seluruhnya. Hukuman mati tidak termasuk di situ (karena tidak membela semua orang), dan lebih mengerikan lagi bahwa orang yang sedang travelling bisa ditembak mati hanya karena tak bisa membuktikan bahwa ia tak tahu menahu mengenai satu dua kilo heroin di bagasinya. Waspadalah jika travelling di negara yang menerapkan hukuman mati seperti di Indonesia!

Hukum yang baik oleh subjek hukumnya ditangkap sebagai patokan kebenaran dan ketaatan kepada hukum itu adalah wujud kebebasan batinnya. Karena itu, sepuluh perintah Allah hari ini direfleksikan pemazmur sebagai kebenaran yang membebaskan orang.

Memang, kebebasan itu juga bisa diselewengkan oleh pihak-pihak yang justru mengerti celah hukum atau melihat peluang bisnis UPS-USB itu. Karena itu, Yesus memporak-porandakan beberapa penjual dan barang jualannya di Bait Allah demi mengingatkan orang-orang itu akan kesucian Bait Allah. Otoritas agama waktu itu  mempertanyakan tanda yang mengesahkan tindakannya itu. Maklum, yang bisa diterima sebagai nabi tidak sembarang orang. Celakanya, tanda yang disampaikan Yesus gak bisa ditangkap orang waktu itu. Dia bilang kalau Bait Allah itu mereka hancurkan, ia akan membangunnya dalam 3 hari (lebih buruk dari prestasi Bandung Bondowoso ya; seribu candi dalam satu malam je). Tanda yang dimaksud Yesus adalah (tanda) salib (penderitaan, wafat dan kebangkitannya), tapi ya mana mungkin orang waktu itu bisa paham dan percaya (wong orang sekarang yang hidup sesudahnya saja gak gitu aja percaya kok)?

Tuhan, bantulah aku supaya mampu melihat penderitaan salib sebagai ajang pembebasanku dari aneka bisnis dan kelekatan pada aneka hal yang membutakan aku dari-Mu.


HARI MINGGU PRAPASKA III B/I
8 Maret 2015

Kel 20,1-17
1Kor 1,22-25
Yoh 2,13-25

Hari Minggu Prapaska III A/2: Fragile but called to love

1 reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s