Asal Usul Doa

Pernah nonton film 3D di bioskop dan diberi kacamata tiga dimensi di pintu masuk teater? Pernah mendapat kacamata yang lensanya tinggal yang sebelah kanan karena yang kiri sudah habis? Kiranya tidak pernah, tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari tak sedikit orang memakai satu lensa doang! Kalaupun orang memakai dua lensa dalam memandang hidup ini, satu lensanya bisa lebih berat dari lensa lainnya; dan memang begitu juga kenyataannya: plus minus lensa kiri tak selalu sama dengan lensa kanan, belum termasuk silindernya.

Orang yang merasa diri suci bersih biasanya malah tidak manusiawi, dan orang yang selalu merasa diri kotor biasanya tidak manusiawi juga (loh, piye sih, sama aja!). Mari lihat orang yang lama gak ke gereja atau ke mesjid, misalnya. Ia akan merasa sedemikian berdosa sehingga lama-lama berpikiran bahwa kegiatan-kegiatan rohani itu bukan untuk dia (dengan begitu, sukses deh roh jahat yang menjadi tour guide-nya). Diajak temannya tidak mau, malah mungkin marah dan mengolok-olok temannya. Lensa yang dipakainya cuma lensa inderawi sensasional.

Sebaliknya, orang yang begitu rajin dan aktif dengan aneka kegiatan rohani di gereja atau mesjid, bisa jadi merasa bahwa aktivitas itulah yang jauh lebih penting daripada UPS garing USB (yang kotor penuh intrik). Aktivitas penuh sensasi inderawi dijauhinya dan orang tak lagi bisa mengerti bahwa Allah sungguh-sungguh nyata juga dalam hal-hal duniawi. Di situ orang bisa merasa damai dan tenang, tetapi hidupnya njomplang, tak tersentuh kepentingan manusiawi yang justru jadi ajang perwujudan iman dalam sosialitas manusia. Di sini pun orang jadi tak manusiawi. Apa obatnya? Sorry to say: doa!

Doa muncul karena dua hal. Pertama, orang cemas karena kontingensinya: hari ini ada, besok bisa tiada. Hari ini sehat, besok bisa saja divonis kanker ganas. Hari ini miskin bin kere, besok bisa saja ketiban rezeki nomplok dan kaya mendadak. Tak ada yang bisa diandalkan. Kedua, dalam hatinya orang tahu bahwa ada kekuatan yang mengatasi kontingensi itu, yaitu yang mutlak, yang dalam bacaan pertama disapa oleh Mikha sebagai Allah nan setia dan pengampun sejak zaman batu bisa omong! Kepada-Nyalah segalanya bergantung.

Orang yang tak berdoa merasa self-sufficient dan bahkan tak mampu berdialog atau berkomunikasi dengan orang lain. Mungkin bisa, tetapi sifatnya lebih bernuansa menuntut, memerintah, mengancam, menguasai, posesif. Ini direpresentasikan oleh anak sulung yang dibujuk untuk mengenakan lensa seperti yang dikenakan bapa yang baik hati. Six letters, two words, easy to say, hard to explain, harder to do: MOVE ON!

Ya Tuhan, aku mohon bantuan rahmat-Mu supaya bisa memahami kenyataan hidupku juga dengan terang Sabda-Mu: kemurahan hati, pengampunan, kebebasan batin, dan kehendak kuat untuk melibatkan diri dalam membangun dunia baru. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA II
7 Maret 2015

Mi 7,14-15.18-20
Luk 15,1-3.11-32

Posting Tahun Lalu: Why Forgive?

2 replies

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s