Pemahaman Nenek Lu!

Sudah sejak zaman baheula, orang baik disirikin orang culas. Problem tidak terletak pada orang baiknya, tetapi pada kesirikan orang culas itu. Apa saja yang ada pada orang baik diterima sebagai ancaman terhadap keculasan mereka. Bacaan pertama hari ini menyajikan kisah Yusuf, anak bungsu, yang begitu disayang Yakub sehingga rasa iri hati kakak-kakaknya terkompori dengan baik. Semula, mereka hendak “menghukum mati” Yusuf, tetapi kakak tertuanya rupanya masih punya sedikit nurani: janganlah kita ambil nyawanya, tetapi jual saja.

Perumpamaan dalam bacaan kedua tak melibatkan nurani seperti itu: “hukuman mati” tetap dilaksanakan kepada siapa saja yang disuruh mengawasi para penggarap kebun. Target para penggarap kebun itu cuma satu, yaitu bahwa kebun anggur itu menjadi milik mereka, tak perlu lagi membayar kepada pemilik aslinya. Akan tetapi, ini adalah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Artinya, bunuh membunuhnya bukan lagi soal membunuh orang, melainkan soal membunuh hati nurani yang pro kepada Allah, pemilik kebun anggur tadi.

Iri hati, ketamakan, arogansi, rupanya memberi kontribusi pada pembunuhan karakter pribadi yang bersandar kepada Allah. Karakter ini tidak selalu hanya berarti pribadi lain, tetapi juga diri sendiri: orang dibutakan dari orientasi kebaikan Allah. Iri hati dan kawan-kawan tadi membuat orang tak bisa keluar dari nafsu dan ambisi pribadinya. Ia malah semakin tertutup dan buta terhadap apa saja yang sebetulnya merupakan realisasi dari cinta Allah sendiri kepada bangsa manusia dari segala suku bangsa.

Wujud kebutaan itu lagi-lagi bisa dilihat dengan jelas pada aneka kasus lucu-lucu menjengkelkan dalam politik nasional: mereka yang berlomba mendesakkan agenda tertentu demi keuntungan kelompok. Mereka ini bahkan seolah tidak tahu bahwa roh baik itu juga berusaha update mengenai perkembangan teknologi sehingga semestinya mampu membedakan antara USB dan UPS. Akibatnya, mereka cuma ngerti bahwa UPS adalah Urusan Perut Sendiri.

Akan tetapi, kata ‘mereka’ itu juga bisa jadi bentuk arogansi: seolah-olah kepicikan itu hanya terjadi dalam tokoh lucu-lucu menjengkelkan tadi. Setiap umat beriman tentu memiliki nenek yang pemahamannya juga berbeda-beda, tetapi nenek orang beriman sewajarnya bisa membedakan mana persoalan surgawi, mana persoalan duniawi semata, dan mana yang mesti diikuti. Semoga tidak sampai diteriaki Ahok: pemahaman nenek lu!



HARI JUMAT PRAPASKA II
6 Maret 2015

Kej 37,3-4.12-13a.17b-28
Mat 21,33-43.45-46

Posting Tahun Lalu: Matinya Empati Kami

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s