When Good Men Do Nothing

Kisah Lazarus si pengemis mengingatkan saya kembali pada pertanyaan: apa yang salah dengan menjadi kaya? Mosok iya jadi kaya itu salah dan kekayaan itu jahat? Tentulah tidak, apalagi jika dicapai dengan kerja keras tanpa konspirasi ala koruptor!

Orang kaya dalam perumpamaan ini tidak dikisahkan sebagai kapitalis atau pun koruptor. Hanya dikatakan bahwa ia selalu berjubah ungu (mahal, eksklusif) dan tiap hari bersukaria (baca: show off) dalam kemewahan. Orang kaya ini bahkan tak disebutkan namanya. FYI, memang tidak ada nama diberikan pada tokoh-tokoh perumpamaan Yesus kecuali dalam kisah hari ini: Lazarus (modifikasi nama Eleazar, yang berarti Tuhan telah membantu). Penamaan tokoh menandakan peran penting dalam kisah.

Apa peran penting Lazarus dalam kisah? Sikap terhadap Lazarus merupakan tolok ukur keselamatan orang kaya. Orang kaya dalam kisah ini memang gak jahat tetapi ia begitu abai terhadap Lazarus, yang malah ‘diperhatikan’ oleh anjing alias jadi najis. Maka, ia tidak dipersalahkan karena kaya, tetapi karena gaya hidupnya begitu tingginya sehingga menjadi jurang tanpa dasar terhadap hidup Lazarus, jurang yang bahkan tak bisa dilalui oleh Allah sendiri.

Pada kenyataannya, bisa jadi dia tekun beribadat, tetapi sedemikian tekunnya sehingga bahkan tak tahu di depan pintu rumahnya ada orang miskin yang mati kelaparan. Orang bisa sibuk dengan mainannya sendiri sehingga abai terhadap kebutuhan dasar orang-orang di dekatnya. Alih-alih bergiat membuat hukum yang lebih baik lagi, orang mencari jalan mudah: hukuman mati. Orang berupaya mencari sebanyak mungkin downliner dalam sistem MLM untuk menyokong dirinya dan sekelompok kecil orang di atasnya.

Orang-orang yang abai terhadap tanggung jawab sosialnya akan berdalih bahwa mereka tidak menyakiti atau melukai orang lain. Betul, tetapi mereka juga tidak berbuat apa-apa untuk menangkal kejahatan; memang tidak melukai orang lain, tetapi membiarkan orang lain melukai yang lainnya. Itulah yang dalam pernyataan tobat pada setiap kali perayaan ibadat di Gereja Katolik dikatakan: bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian!

Ya Tuhan, bukalah hatiku supaya aku tidak lalai pada sesama hanya karena lebay dengan kesenangan diriku. Semoga aku semakin dapat memahami bahwa Kerajaan-Mu senantiasa inklusif, melibatkan semakin banyak orang dan tidak terkungkung oleh sekat-sekat buatanku sendiri. Amin.



HARI KAMIS PRAPASKA II
5 Maret 2015

Ye5 17,5-10
Luk 16,19-31

Posting Tahun Lalu: Kemiskinan: Mengandalkan Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s