Jangan Tanya Dapat Apa

Cerita Injil yang diambil hari ini lucu-lucu menjengkelkan, tapi masih mendinganlah ada lucunya daripada cerita yang nyangkut-nyangkut lembaga berinisial DPRD (kok ya gak disingkat PD2R aja ya…) dengan aneka tendernya. Ceritanya begini: setelah omong mengenai Kerajaan Surga itu seperti apa, Yesus secara privat mengajak para rasul untuk itu berangkat ke Yerusalem. Itu artinya Yesus sudah benar-benar mengantisipasi kemungkinan jalan salibnya.

Btw, hasil studi menyatakan bahwa salib adalah bentuk hukuman terkejam bangsa Romawi saat itu. Sejarawan Cicero menyebutnya sebagai hukuman yang kejam dan menjijikkan; Josephus menamainya kematian terburuk, yang rupanya direservasi untuk kasus-kasus super berat.

Nah, tengah menjelaskan risiko kematian menjijikkan itu, Yesus diinterupsi oleh seorang perempuan dan dua anaknya: mbok ya berilah anak-anakku ini posisi prestisius dalam Kerajaan yang tadi kamu jelaskan itu! Mak jedherrrr, Yesus membalas permintaan itu bukan kepada si perempuan, melainkan pada kedua rasul, anak-anak perempuan itu: kalian ini omong apa sih? Apa kalian bisa minum dari cawan yang kuminum?

Ironis, mereka menjawab: bisalah (selama kami masih punya mulut)! Mereka gak ngerti apa yang dimaksud Yesus dengan “minum dari cawan” tadi: penderitaan yang sedang akan mereka songsong. Mereka menjawab itu bukan karena ngerti bahwa di balik salib itu ada kebangkitan, melainkan karena mereka berilusi bahwa ada shortcut ke Kerajaan Surga. Penderitaan bisa dibypass.

Mana lucunya? Lucunya ialah setelah mendengar tanggapan Yesus, rasul-rasul lain jadi tahu apa yang dikejar dua murid lain itu dan marahlah mereka. Kenapa? Bukan karena mereka melihat kelirunya ambisi mereka, melainkan justru karena mereka juga punya ambisi yang sama. Mereka semua mengejar kemuliaan hidup surgawi tanpa mengerti jalan penderitaan duniawi.

Yesus mengingatkan mereka: logika kekuasaan ilahi melawan mainstream kekuasaan duniawi. Orang mengira kemuliaan hidup terletak pada banyaknya pembantu yang memenuhi apa saja yang diinginkannya sehingga ia bisa ongkang-ongkang. Orang berpikir bahwa kualitas hidup diukur dari semakin banyaknya kebaikan yang diberikan orang lain kepadanya.

Kemuliaan hidup umat beriman berlawanan arah: semakin orang melayani, semakin ia membangun kualitas hidup. Sayangnya, pelayanan ini pun bisa disalahpahami: bukannya inisiatif mencari cara untuk terlibat, melainkan melulu menunggu mandat. Tidak semua pesuruh bisa menjadi pelayan yang baik (bdk. tindak-tanduk Tiwal-Tiwul pada posting Taat Itu (Tak) Sederhana).

Ya Tuhan, bukalah hatiku supaya tidak sibuk dengan apa yang kuperoleh dari pelayananku, tetapi terus mencari cara supaya aku dapat terlibat dalam pemberian diri kepada-Mu melalui perjumpaan dengan sesama. Amin.



HARI RABU PRAPASKA II
4 Maret 2015

Yer 18,18-20
Mat 20,17-28

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s