Taat Itu (Tak) Sederhana

Ketaatan manusiawi tak pernah sesederhana ketaatan kawanan bebek pada leader mereka justru karena setiap orang punya hati nurani. Kalau taat itu sederhana, tentu tak mungkin ribuan imam setelah Konsili Vatikan II meninggalkan hidup selibat karena hidup selibat sudah ada hukumnya; orang tinggal menuruti saja apa yang tertera pada hukum itu. Jika taat itu sederhana, tentu tak dibutuhkan polisi untuk memastikan aturan ditaati. Tentu, kalau taat itu sederhana, Adam dan Hawa tak harus keluar dari Firdaus dan tetap telanjang tanpa terjerat undang-undang pornografi.

Dari sudut pandang pihak yang ditaati, mari kita imajinasikan. Bayangkanlah Anda punya dua karyawan untuk urusan kebun: Tiwal dan Tiwul. Kepada mereka sudah Anda jelaskan job-des dan lokasi gudang penyimpanan alat berkebunnya. Pekerjaan keduanya bisa dibilang baik: rumput terlihat hijau segar, tanaman-tanaman rapi, pohon-pohonan juga tegar di tempatnya masing-masing (emangnya mau ke mana juga?). Setelah sekian lama, Anda mendapati Tiwal kadang-kadang agak nyeleneh. Ia suka memotong tanaman teh-tehan dengan variasi bentuk yang tak lazim; rumput di halaman datarnya juga kadang dipotong tidak rata ketinggiannya sehingga terlihat ada motif tertentu. Akan tetapi, Tiwal ini tidak begitu ribut dengan apa yang ingin dibuatnya.

Hasil pekerjaan Tiwul juga baik: rumput senantiasa hijau segar, tanaman teh-tehan tampak seperti balok padat, pohon besar juga tidak diutak-atiknya. Akan tetapi, Tiwul inilah yang setiap kali merepotkan Anda dengan sms atau telpon: boleh pakai mesin potong rumput listrik atau mesti pakai yang manual, teh-tehannya boleh dikepras pendek atau tidak, ranting yang menjulur ke trotoar boleh dipotong atau tidak, dan aneka macam pertanyaan lainnya yang sebagian memang tak ada dalam jobdes tetapi pada prinsipnya tak begitu signifikan.

Tiwul bisa jadi menghayati ketaatan yang baik. Ia hendak memastikan bahwa apa yang Anda inginkan, itulah yang dia kerjakan; maka ia berusaha melakukan sinkronisasi sedetil-detilnya, seolah-olah di mana pun Anda berada, Anda bisa memotong rumput di rumah sependek yang Anda inginkan, dengan alat yang Anda inginkan, dengan cara yang Anda tentukan, dan dengan urutan yang Anda gariskan. Tiwul benar-benar jongos yang taat, instrument berpresisi tinggi sehingga apapun yang Anda inginkan sampai yang paling detil akan terlaksana.

Tiwal tidak sesempurna Tiwul dalam hal sinkronisasi pekerjaan dan keinginan Anda, tetapi ia punya semacam intuisi bahwa Anda pun masih bisa toleran terhadap detil pelaksanaan kerja yang dilakukannya. Ia sebenarnya juga punya empati yang mungkin kebetulan tepat sehingga meskipun tak ada dalam jobdes, hasil kerjanya toh tetap akan menyenangkan Anda tanpa harus merepotkan Anda dengan aneka SMS atau telpon untuk mencocokkan apa yang Anda inginkan darinya untuk dilakukan.

Ketaatan Tiwul itu sederhana: tanya saja bos apa maunya, dan turuti apa maunya bos; tak usah pakai argumentasi apa pun, tak usah berspekulasi dengan filsafat atau psikologi, apalagi teologi! Kamu hanyalah jongos, lakukan saja apa yang diinginkan bos. Titik.

Ketaatan Tiwal lebih complicated: ia bahkan membuka cakrawala keinginan bosnya (semula bos tak pikir bahwa teh-tehan bisa dibentuk begini begitu), ia berkontemplasi mengenai apa yang sekiranya berkenan dalam hati bosnya tanpa mengganggu atau merepotkan bosnya untuk sinkronisasi keinginan sedetil-detilnya.

Tolerance and loveBaik Tiwal maupun Tiwul tentu ingin taat pada bos, tetapi cara yang ditempuh berbeda. Sepak terjang Tiwal tampaknya lebih dekat pada creative fidelity. Ia tetap berupaya ada dalam koridor apa yang diinginkan bosnya, bahkan kreativitas yang dimilikinya diwujudkan bukan karena ia ingin nyeleneh atau asal beda, melainkan juga dalam rangka ‘menyenangkan’ bosnya. Memang ada risiko bahwa bosnya ternyata tak senang dengan pilihan-pilihan Tiwal. Justru di situlah rumitnya creative fidelity, membangun relasi empatik sehingga bos bukan lagi tuan bengis, melainkan sosok yang bisa jadi sahabat (bdk. Yoh 15,9-17). Tiwal menjalankan kehendak sahabat, bukan tuan bengis.

Tiwul mungkin takut pada risiko yang diambil Tiwal. Mungkin juga ia tak yakin bahwa bosnya punya cinta yang toleran pada hal-hal praktis, tetapi ketidakyakinan ini bisa jadi adalah proyeksi dirinya yang tidak bisa toleran terhadap hal-hal praktis. Ini bisa menimbulkan masalah horisontal yang justru merepotkan bos. Jujur saja, kita bisa jengkel sedemikian rupa karena orang lain tidak menaati aturan yang kita taati. Ini wajar, apalagi kalau pelanggaran orang lain itu membahayakan keselamatan kita!

Akan tetapi, bisa terjadi dalam kondisi tak membahayakan keselamatan pun orang meributkan pernik-pernik praktis tadi: oknum polisi yang butuh duit, misalnya. Aturan dipakai orang macam ini untuk tujuan yang berbeda dari maksud aturannya sendiri, dan ini tentu tidak hanya dilakukan oleh oknum polisi, kecuali kita semua adalah oknum polisi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s