Murah, Murahan

Tak banyak orang yang percaya pada kemurahan hati sehingga apa saja yang gratis cenderung malah dicibir dan apa yang murah cenderung dianggap murahan. Di dunia ini tak ada yang gratis, katanya. Bersyukur saya mengurungkan niat seorang karyawan untuk mengikuti seminar mengenai perencanaan keuangan dengan biaya kontribusi dua juta rupiah. Pesertanya terbatas, hanya dua ratus orang. Lima puluh pendaftar pertama membayar separuh harga. Seminar itu sendiri bicara soal trik pengelolaan keuangan seturut model-model yang telah diuraikan dalam buku pembicaranya.

Come on! Tiga ratus lima puluh juta untuk workshop empat jam? Taruhlah sewa gedungnya 50 juta. Untuk sang Event Organizer dan tetek bengeknya 150 juta, dan pembicara plus staffnya 150 juta. Bukan 150 jutanya yang jadi masalah: membayar dua juta untuk trik hidup saya sendiri ke depan yang urusannya jelas bukan cuma mengelola uang? Saya kira mendingan bayar mahal guru yang mendidik karakter orang selama bertahun-tahun supaya mandiri membuat trik pengelolaan keuangan daripada menggelontorkan jutaan rupiah dalam hitungan jam sebagai DP atas manajemen hidup yang akhirnya kita sendiri penanggung jawabnya.

Lha ya tapi kan memang itu apresiasi terhadap pembicaranya, berkaliber nasional, pendidikannya di luar negeri dan orangnya sudah begitu populer sebagai konsultan finansial! Hmm… kok rada-rada mirip dengan dokter yang membebankan biaya pendidikannya kepada para pasien atau wakil rayap dan pegawai yang mesti mengembalikan pinjaman uang untuk memperoleh posisinya itu ya? Seorang pekerja memang layak mendapat upahnya (bdk. Mat 10,10) tetapi angka dua juta itu fantastis. Kualitas materi tak bisa diukur semata dengan harga tiket masuk. Semakin populer, semakin mahal tak selalu berarti semakin bermutu. Idealnya sih begitu, tetapi dunia ini bukan dunia ideal.

Loh, bukannya kita perlu murah hati, juga termasuk dalam hal memberi honor kepada orang-orang hebat itu toh? Betul, tetapi masuklah ke dalam batinmu, Kawan. Ia memanipulasimu dengan janji bombastisnya bahwa dengan seminar itu kamu akan mampu mengelola hidupmu dan dengan itu kamu akan memproduksi lebih banyak keuntungan di depan mata. Artinya, yang kamu bayar adalah janjinya dan yang kamu kejar adalah hasrat untuk memperoleh kapital lebih besar lagi! Itu bukan kemurahan hati.

Santo Barnabas yang diperingati Gereja Katolik hari ini memberi kesaksian konkret: hidup ugahari. Semakin murah hati, semakin ia menjauhi hidup yang murahan. Ia hidup tanpa beban untuk mempersaksikan nilai-nilai luhur nan abadi.


PERINGATAN WAJIB ST. BARNABAS
(Kamis Biasa X B/1)
11 Juni 2015

Kis 11,21b-26.13,1-3
Mat 10,7-13

Posting Tahun Lalu: Bukan Modus: Son of Encouragement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s