Hukum Mati Pembunuh Angeline?

Adakah yang tak terketuk pilu atas tragedi yang menimpa Angeline, gadis mungil nan cantik, belakangan ini? Bahkan pembunuhnya pun bisa terketuk rasa pilu (kalau ia sadar atau darahnya menghangat). Akan tetapi, rasa pilu yang orisinal pun tidak mengembalikan nyawa Angeline. Tidak juga reaksi spontan yang terpicu oleh rasa pilu itu: hukum mati pembunuh Angeline! Reaksi macam ini justru bisa jadi kontradiktif: saya mencela tindakan sadis dengan bertindak sadis! Supaya lebih menghibur sedikit: kesadisan saya ini lebih ‘halus’ dan legal. Prinsipnya sih tetap sadis. Kesopanan jadi kosmetiknya.

Di hadapan tragedi kehidupan, reaksi orang beriman (Kristen?) akan mencerminkan cara pandangnya terhadap salib. Mungkin banyak yang tak lagi memandang salib dengan lensa iman karena matanya penuh dengan lumpur kepalsuan, kebodohan, takhayul, immoralitas. Kesombongan dan katarak rohani lainnya justru membutakan: orang tak pernah melihat Yesus yang tersalib sebagai pohon kehidupan, sebagai sumber keselamatan sejati, sebagai bekal peziarahan hidup di dunia ini.

Dengan mata tanpa iman itu orang hanya melihat palang salib sebagai kayu tak berguna, bahkan juga tubuh yang tergantung di situ tak ada maknanya. Orang seperti ini tak tahu bahwa pada tubuh yang tergantung di salib itu terekam sejarah tragedi kehidupan yang melibatkan relasi Allah dan manusia: Allah yang sungguh mengasihi bangsa pilihan-Nya (bacaan pertama) dengan hati-Nya yang begitu luas dan dalam, melampaui pengetahuan manusia (bacaan kedua). Penulis Injil Yohanes menyodorkan deskripsi simbolik atas apa yang terjadi pada tubuh tersalib itu: darah dan air keluar dari lambungnya (bdk. 1Yoh 5,6-8). Air menjadi simbol Roh Kudus pemberi kehidupan dan darah begitu akrab dengan hewan korban Paska bangsa Israel.

Bagaimana orang bisa melihat Kristus tersalib itu jadi aktual dalam hidupnya? Mata fisik ini jelas hanya mampu melihat aneka materi yang bisa menipu. Untuk melihat kebenaran Kristus tersalib itu dibutuhkan ‘mata rohani’, yang jadi tempat bagi Roh Kudus untuk bersemayam. ‘Mata rohani’ itu pantas dimohon, dan pasti dianugerahkan kepada orang sejauh memang ia terbuka pada transformasi hidup sebagai makhluk rohani. Tak ada orang yang bisa memandang Kristus sementara ia berkubang dalam lumpur kepalsuan, dosa, ketidakadilan, kejahatan, takhayul, kebodohan, dan lain-lainnya itu tadi.

Apa sih ‘mata rohani’ itu tadi? Tak lain tak bukan: hati, yang jauh lebih luas dari sekadar perasaan, melampaui pikiran, mengakomodasi Roh sendiri. Dengan hati itulah, tragedi kehidupan bisa diletakkan pada kayu salib: tempat solidaritas, perdamaian, dan sumber kehidupan. Angeline, beristirahatlah dalam damai nan kekal. Yang lain, bertobatlah dan percayalah pada warta gembira Allah.

Hati Yesus yang Mahakudus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.


HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS B/1
(Hari Jumat Biasa X)
12 Juni 2015

Hos 11,1.3-4.8c-9
Ef 3,8-12.14-19
Yoh 19,31-37

Posting Tahun Lalu: Hati Yesus yang Mahakudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s