Emas Murni Ada. Hati Murni?

Kemarin Gereja Katolik merayakan Hati Yesus yang Mahakudus (sapa yang nanya‘). Hari ini dirayakan hati tersuci Santa Perawan Maria, tapi bacaan dari Kitab Sucinya tak menyebut kata ‘hati’ sendiri. Bacaan pertama bicara soal pendamaian Allah dan dunia melalui Kristus sedangkan bacaan Injil omong soal sumpah. Meskipun tak ada kata ‘hati’ dalam dua bacaan itu, pokok bahasan mengenai pendamaian dan sumpah jadi nonsense jika tidak melibatkan hati.

Hati, dalam arti alkitabiah, bukan anatomi fisik, berarti pusat kepribadian dan karakter seseorang. Dari hati inilah timbul perasaan, pikiran, kehendak, dan imajinasi orang. Kita ingat, kelak Yesus mengatakan bahwa yang ‘menajiskan’ orang bukan apa yang masuk ke dalam mulut, melainkan yang keluar dari mulut (Mat 15,11). Itu pasti maksudnya bukan bahwa daging babi yang kita masukkan ke mulut sebentar lantas kita keluarkan lagi dari mulut itu menajiskan, sedangkan daging babi yang kita telan itu tak menajiskan!

Dari hati yang korup, keluarlah pikiran korup. Dari hati yang culas, keluarlah aneka keculasan. Dari hati yang kotor, keluarlah pikiran kotor. Orang yang tak sungguh-sungguh beriman, tak bisa melihat hal ini. Ia menimpakan aneka kenajisannya pada pada objek-objek di luar dirinya: perempuan yang memakai tank top dan rok mini (padahal memang pikirannya sendiri yang cabul), kongkalikong orang-orang di sekitar untuk korupsi (padahal nafsu bersaing dengan tetangga menguasai dirinya untuk cari uang haram), kakak-adik yang tak peka pada kebersihan rumah (padahal kemalasan sendirilah yang membuat rumah terbengkalai), dan sebagainya. Dalam paradigma orang seperti ini, masalah ada di luar sana.

Perawan Maria menangkap poin: dibutuhkan komitmen untuk terlibat dalam proyek keselamatan Allah. Komitmen ini tidak menuntut sumpah dengan tanda tangan atau cap jempol. Bacaan Injil tidak menyodorkan larangan untuk bersumpah. Hukum yang berlaku saat itu memang melarang sumpah palsu, tetapi Yesus pun tidak mengatakan ‘jangan bersumpah’ begitu saja. Ia seakan berkata,”Kamu mau bersumpah atas dasar apa wong dasar itu semuanya tak ada dalam kendali penuhmu?” Jika orang melakukan sumpah atas hal-hal yang ada di luar kendali penuhnya, ia cuma sesumbar dengan modal hati arogan. Itu sudah jamak bagaimana tokoh ABC diliput media bersesumbar DEF dan ketika tak terjadi kenyataan seturut mulut besarnya ia berdalih GHI.

Dari hati yang murni muncul perasaan, pikiran, kehendak, dan imajinasi yang murni. Santa Perawan Maria menghidupinya: ia mengatakan ‘ya’ terhadap rencana Allah atas hidupnya dan itu berarti seluruh hidupnya ialah jawaban ‘ya’. Absurditas dalam hidupnya tidak tinggal absurd justru karena ia meletakkannya pada jawaban ‘ya’. Kesucian hati Maria tak terkontaminasi oleh apa yang disebut political correctness. Jika hati berkata ‘ya’, hendaklah keluarnya juga ‘ya’. Jika yang di hati dan di mulut tak sinkron, boleh saja disebut munafik, tapi pokoknya di situ tak ada kedamaian.

Bunda Maria, jadikanlah hati kami seperti hatimu juga.


Sabtu Biasa X B/1
Peringatan Wajib Hati Tersuci SP Maria
13 Juni 2015

2Kor 5,14-21
Mat 5,33-37

Posting Tahun Lalu: Duc in altum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s