Duc in Altum

Gereja Katolik dan Anglikan memperingati Santo Irenaeus pada setiap tanggal 28 Juni, tetapi dalam Gereja Katolik, sehari setelah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus diperingatilah Hati Tersuci Santa Perawan Maria. Santo Irenaeus ngalah deh… Santo Ireneaus populer dengan ungkapan gloria Dei vivens homo (kemuliaan Allah ialah manusia yang hidup) yang barangkali bisa dianalogikan dengan ungkapan Jawa urip kuwi kang urup (hidup ialah yang bernyala).

Ada beberapa alternatif bacaan hari ini dan di sini diambil Kitab Yesaya yang memuat pujian atas kemuliaan Allah. Manakah kemuliaan Allah itu? Kemuliaan-Nya tampak pada keselamatan yang diberikan melalui umat pilihan-Nya, seperti pakaian megah yang dikenakan kepada mempelai, seperti bumi merekahkan tumbuhan dari benih yang ditaburkan, barangkali juga seperti energi dari pusat bumi yang bergelora hendak menampakkan diri ke permukaan bumi

Kemuliaan itu dipancarkan juga oleh Bunda Maria dalam membesarkan anak tunggalnya, Yesus. Seandainya saja waktu itu Bunda Maria menjadi wanita karir dan menitipkan Yesus pada babysitter atau tempat penitipan anak, niscaya kematangan Yesus adalah dominasi produk babysitter atau TPA itu. Akan tetapi, tampaknya Bunda Maria dan Santo Yosef sendirilah yang membesarkan anak mereka sampai usia akil balik.

Pada hari raya Paska setelah berumur dua belas tahun itulah Yesus sungguh mempraktikkan kemampuannya untuk menentukan pilihan: ia tinggal bersama para tokoh agama di Bait Allah. Maria dan Yusuf mencari anak mereka dan tak ditemukannya pada para tetangga dan sanak saudara. Ini bukan perjalanan jarak dekat, dan kerumunan orang begitu besar. Yesus tidak mereka temukan juga dalam kerumunan.

Maria menemukan Yesus di Bait Allah, dan ia sulit memahaminya. Yesus tidak memisahkan diri dari rombongan karena ia malu berjalan bersama orang tuanya atau malas kembali ke rumah karena bosan dengan Bunda Maria dan Yosef. Ia sudah tahu tempat mana yang paling tepat bagi dirinya. Pengalaman yang sangat shocking ini kiranya disimpan oleh Bunda Maria dalam hatinya. Ia tidak mengerti secara penuh maksud Yesus kecil ini dan Maria menatapkannya dengan kehendak Allah untuk bisa memahaminya.

Barangkali begitu jugalah motto Uskup Agung Semarang, duc in altum (pergilah ke tempat yang dalam) bisa dipahami. Hidup sehari-hari bisa jadi penuh kejutan, sebagaimana Bunda Maria mengalaminya. Kejutan-kejutan yang tampaknya dangkal ini bisa menjadi tempat yang dalam ketika orang memandangnya sebagai ajang perjumpaan dengan Allah sendiri: setiap saat orang diundang untuk mencari jawab apa yang dikehendaki Allah bagi dirinya untuk dikerjakan.

Jawaban itu tidak ditemukan dalam kerumunan, dalam keterikatan dengan peer group bahkan sanak keluarga, melainkan dalam kemurnian hati setiap orang, sebagaimana Bunda Maria menemukannya dalam hati, tempat perjumpaan dengan Roh Allah sendiri. Itu jugalah karakter kuat Bunda Maria: menempatkan segala peristiwa dalam hubungannya dengan kehendak Tuhan sendiri tanpa menjadi pasif dan pasrah bongkokan tanpa upaya pencarian. Hatinya yang suci senantiasa mencari. Pencarian ini memerlukan waktu reflektif setiap hari untuk semakin memurnikan hati yang terarah kepada Allah sendiri.

Bunda Maria, jadikanlah hatiku seperti hatimu yang murni.


PERINGATAN WAJIB HATI TERSUCI BUNDA MARIA
PESTA SANTO IRENAEUS
28 Juni 2014

Yes 61,9-11
Luk 2,41-52

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s