Latihan Doa 27: Hidup Religius dan Kaul (2)

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Luk 5,1-11 (Panggilan Petrus)
Yoh 10,1-18 (Akulah gembala yang baik)
Kis 3,1-10 (Dalam nama Kristus, bangkit dan berjalanlah)
Gal 1,11-24 (Panggilan Saulus)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat kemurahan hati dan kebebasan batin sehingga mampu belajar untuk bersikap lepas bebas terhadap barang, orang atau diri sendiri dan mengikuti-Mu lebih dekat lagi dalam kemiskinan, kemurnian dan ketaatan.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Sebagai seorang religius, kegembiraan dan konsolasi apa sajakah yang kurasakan begitu besar? Mengapa?
    Kembalilah kepada hal-hal itu dan nikmati kembali suasananya dalam doa.
  • Kapan sajakah aku merasa begitu terluka dan desolatif? Mengapa?
    Kembalilah ke hal-hal itu dan hidupi dalam suasana doa.
  • Bagaimana konsolasi dan desolasi terbesar itu menuntun aku pada hidup terbaikku sebagai orang yang berkaul?
  • Sejauh ini apakah yang membuatku bertahan sebagai seorang religius?
  • Kapan sajakah sebagai seorang religius aku mengalami diri semiskin-miskinnya, semurni-murninya dan setaat-taatnya? Seperti apakah saat-saat itu? Dengan siapakah aku saat-saat itu? Nilai apakah yang kukejar?
    Kembalilah ke masa itu dan nikmatilah dalam suasana doa.
  • Siapakah model bagiku untuk kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan injili? Mengapa mereka kuyakini sebagai sosok yang sungguh miskin, murni dan taat?
    Kualitas-kualitas apa saja dalam diri mereka yang sungguh kukagumi?

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib dan dialogkanlah poin-poin tadi: (1) kegembiraan dan konsolasi terbesar sebagai religius, (2) luka dan desolasi terbesar, (3) bagaimana hal-hal itu menuntun pada titik terbaikku sebagai religius, (4) apa yang membuatku bertahan, dan (5) saat-saat aku merasa paling miskin, murni, dan taat; serta (6) model-model kemiskinan, kemurnian dan ketaatan.
Setelah itu, lihatlah apa yang paling kusyukuri dalam menghayati panggilan hidup religius, klarifikasi dan dialogkan juga dengan Yesus Kristus; lalu dengan jujur bertanya pada diri sendiri:
apa yang sudah kuperbuat untuk Kristus?
apa yang sedang kulakukan bagi Kristus?
apa yang akan kulakukan untuk Kristus?
Mohon berkat Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas penguatan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s