Taat, tapi Robot

Beberapa orang mungkin menangkap posting Catatan untuk Seksi Liturgi (3)” (juga catatan-catatan lainnya) sebagai ungkapan ‘perlawanan’ terhadap hukum atau aturan liturgi. Saya ikut Yesus saja mengantisipasi problem penafsiran seperti itu: Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5,17 ITB).

Paus Emeritus, Benediktus XVI, pernah menulis: When every man lives without law, every man lives without freedom. Jelas, hukum tak mungkin dibuat bagi orang yang tak punya kebebasan. Orang tak bisa dijerat hukum jika terbukti sinting atau gila. Nah, kalau semua orang itu sinting dan gila, tentu masyarakat ini jadi anarki: semua boleh melakukan apa saja. Yesus tidak anarkis. Ia justru ingin meletakkan hukum pada tempat terhormatnya. Di manakah tempat terhormat hukum? Pada cinta Allah sendiri, pada kasih Kristus.

Mari kita andaikan bahwa dulu di zaman jebot, manusia hidup begitu liar (meskipun sekarang ini juga masih ada sih: gara-gara uang beberapa puluh ribu saja orang bisa menghabisi nyawa orang lain). Dibuatlah hukum supaya keliaran itu gak sadis banget, maka muncullah bunyi aturan: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Pada masa hidup Yesus, aturan itu tetap ada dan Yesus tidak membuat hukum tertulis yang baru, tetapi menunjukkan sumber aturan “mata ganti mata” tadi: hendaklah cinta Allah lebih terwujudkan. Poin ini tetap terpelihara meskipun bunyi aturan tertulisnya bisa berubah.

Paulus merefleksikan diri sebagai pelayan pekerjaan-pekerjaan Allah. Pekerjaan-pekerjaan Allah tak bisa diukur dengan hukum tertulis karena hukum tertulis mematikan. Rohlah yang menghidupkan. Maka, umat beriman senantiasa dipanggil untuk menangkap Roh di balik aturan tertulis. Jika tidak, hidupnya jadi robot mekanis. Taat sih taat, tapi jadi robot (bahkan robot pun bisa melakukan sesuatu yang berbeda dari perintahnya jika perintah yang diterimanya itu bertentangan dengan sistem dasariahnya).


RABU MASA BIASA X B/1
10 Juni 2015

2Kor 3,4-11
Mat 5,17-19

2 replies

    • Hahaha mas Romo Dinto maturnuwun berkenan mampir. Yang ‘selalu’ itu Kitab Sucinya… yang baca ini seringkali cupet. Salam, sugeng makarya plus berpuisi….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s