Catatan untuk Seksi Liturgi (3)

Ini dagelan zaman jebot tapi cocok untuk menempatkan kekisruhan beberapa pihak mengenai tata perayaan liturgi Gereja Katolik. Saya tidak mengerti mengapa ada pihak yang memakai media sosial untuk menampung kekisruhan virtual (tetapi real, ada dalam kepala orang-orang yang masuk dalam polemik itu) mengenai tata perayaan liturgi seolah-olah itu adalah pokok terpenting hidup manusia (bahkan Yesus pun tidak mengindikasikan tata perayaan ibadat sebagai hal terpenting). Tetapi, tak perlulah ketidakmengertian saya itu diulas di sini. Lebih baik happy-happy aja dengan dagelan zaman jebot ini:

Pailul terkesima pada tetangganya, Toni, yang berpenampilan luar biasa necis setelah sekian lama tak bersua. Toni tampaknya hidup sukses dan Pailul tergerak untuk menanyakan resep suksesnya. “Apa sih pekerjaanmu kok kelihatannya kamu sukses sekali, Ton?”
“Oh, iya, aku sekarang ini berprofesi sebagai logic thinker,” jawab Toni dengan penuh keyakinan.
“Apa itu pekerjaan logic thinker?”
“Wah, susah jelasinnya Lul. Itu memang profesi langka. Tapi kuberi contoh saja biar gampang.”
“Oke oke oke,” jawab Pailul antusias.
“Begini, pertama-tama aku tanya dulu, apakah kamu masih punya akuarium di rumah?”
“O iyalah. Akuariumku makin banyak.”
“Nah, kalau kamu punya akuarium, logisnya kamu punya ikan.”
“Betul, dan ikanku juga banyak jenisnya.”
“Nah, kalau kamu punya ikan, kamu pasti sayang binatang, bukan?”
“Iya, betul, Ton. Aku sayang binatang.”
“Nah, kalau kamu sama binatang aja sayang, apalagi sama anak. Kamu pasti menyayangi anakmu, bukan?”
“O ya jelas, aku lebih sayang anakku lebih daripada ikan dong!”
“Nah, ini logisnya: kalau kamu punya anak, kamu pasti punya istri toh?!”
“Hahaha… tahu aja kau, Ton! Aku ya punya istri, cantik pula.”
“Ya jelas tahu, Lul. Itu cuma logis aja. Nah, sekarang pertanyaan terakhir: kalau kamu punya istri dan anak, berarti kamu tidak impoten! Betul, gak?” Toni memandang Pailul penuh nuansa kejayaan profesinya.
“Wuaaaaa…. hebat kamu, Ton. Kamu bukan dokter saja bisa tahu aku gak impoten!”
“Ya begitu itulah pekerjaan logic thinker, kita gak usah pakai macam-macam alat, tinggal pakai logika saja.”
“Hmmm… begitu ya. Sekarang aku mengerti.”

Lain hari Pailul ditanyai Mitro, tetangga lain, yang rupanya tak sempat bertemu Toni karena Toni keburu balik ke tempat kerjanya. Omong punya omong, tibalah pertanyaan Mitro tentang pekerjaan Toni dan itu persis dengan pertanyaan Pailul,”Apa itu pekerjaan logic thinker?”
Pailul berusaha menjawab pertanyaan itu seperti yang diperolehnya dari Toni.
“Begini, aku terangkan, tapi pertama-tama kamu jawab dulu pertanyaanku ya. Apa kamu punya akuarium di rumah?”
Mitro menjawab polos,”Wah…aku gak punya akuarium tuh!”
Dengan tak kalah lugu Pailul mengatakan,”Nah…berarti kamu impoten!”

*****

Njuk apa hubungannya je cerita logic thinker dan Liturgi? Begini… pertama-tama jawablah pertanyaan saya,”Apakah Anda punya akuarium di rumah?” Haaaaa…….

Tak sedikit orang yang sangat cinta pada dokumen Gereja dan aneka tatanan yang diturunkan dari dokumen itu dan membela mati-matian rumusan yang ada di dalamnya tanpa mengerti sama sekali konteks dan proses bagaimana dokumen dan tatanan itu terbentuk, jadi shortcut. Termasuk di dalamnya adalah tata perayaan Liturgi Gereja Katolik: itu punya konteks dan proses tertentu yang melibatkan aneka kepentingan, entah kepentingan suci, munafik, atau bisnis. Kepentingan macam ini ada pada masa abad kelam Gereja Katolik. Tidak otomatis uskup, imam, umat saleh itu memelihara intensi murni, niat baik terhadap relasi pribadi dengan Allah. Itulah sudut pandang negatif: bahkan dalam wilayah ‘suci’ pun ada kepentingan yang ikut bermain dan mungkin kepentingan itu tak berpihak pada pokok iman, melainkan misalnya pada uang, relasi kehangatan, dan sebagainya.

Sudut pandang yang lebih positif begini: rumusan dokumen Gereja terbangun atas dasar pengalaman iman para perumusnya. Pengalaman iman itu sendiri terjadi dalam zaman dan konteks tertentu. Ini berlaku juga bahkan dalam relasi antarpribadi. Sharing pengalaman iman seseorang, bisa ditangkap berbeda oleh orang lain karena ada kecenderungan manusia untuk menangkap bentuk-bentuk yang inderawi semata tanpa secara jeli memperhatikan isinya. Saya teringat bagaimana teolog senior saya begitu frustrasi mengajar kelompok lektor karena gap pengalaman iman itu. Ia mengajar Kitab Suci, tetapi pertanyaan yang dilontarkan kepadanya adalah soal tata gerak dalam membaca Kitab Suci!

Liturgi adalah cabang (sekali lagi, cabang) ilmu teologi dan kebanyakan umat yang menggumuli praktik Liturgi (termasuk mereka yang berpolemik dan menghujat praktik Liturgi di gereja tertentu) tidak mempelajari teologi sebagai babonnya. Pokoknya mau terima jadi: wis, gampange wae piye, boleh gak bacaan dikurangi, boleh gak umat ikut mendaraskan doa pembukaan, boleh gak Anak Domba Allah ditiadakan, sah atau tidak kalau tangan imam tidak menumpangi hosti dan anggur saat epiklesis sebelum konsekrasi, dan seterusnya. Dengan modal shortcut itu bahkan orang bisa tega-teganya menghakimi umat lain sebagai pengacau atau pendosa karena pernik-pernik rubrik Liturgi!

Ndelalahnya kemarin saya terima sms teman: Semar (Sejenak Memulihkan Kewarasan) bersama Paus Fransiskus: lebih baik punya Gereja yang penuh luka karena keluar terlibat turun ke jalan daripada punya Gereja yang sakit karena terpenjara di dalam dirinya sendiri. Pernyataan seperti ini (yang pasti tidak diucapkan Paus Fransiskus) bisa saja ditangkap aktivis sebagai ajakan untuk demonstrasi dan mengabaikan polemik Liturgi.

Saya tidak berposisi seperti aktivis itu (abaikan Liturgi, pokoknya aktif berpolitik), tetapi saya juga melihat bahayanya narsisisme dalam Gereja: orang sibuk dengan merias tata Liturgi sampai lupa pada evangelisasi untuk menyapa setiap orang supaya terlibat membangun Kerajaan Allah. Jadi, kalau mau gampangnya: ……berarti kamu impoten, haaaaaaa….

Dalam polemik soal Tata Liturgi, ada ungkapan Jawa yang mungkin lebih moderat: ngono ya ngono ning aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu-begitu amatlah). Setiap umat beriman, entah awam, imam, atau uskup sekalipun, senantiasa perlu mencari tolok ukur pada relasi pribadi (tidak sama dengan privat!) dengan Allah sendiri untuk membangun identitas kristiani, entah dalam liturgi, pelayanan, pewartaan, kesaksian, maupun persekutuan supaya tak terpenjara dalam kepicikan urusan altar yang macet dan tak menggapai pasar seluas dunia.

3 replies

  1. St Padre Pio yo pernah omong, luwih becik gereja ki kosong tinimbang kebak ning bla bla bla, Piye Jal? Paus Frans wajar waelah , lha backgroundne jelas….Ning beda ngendikane saiki ro sesuk, wong cen kontekke yo beda…..Salut karo Bapa Suci….Nek wis ra seneng motivasine , cen yo repot, sing ngunekke polisi Liturgi, sing ngunekke farisi lan ahli taurat, macem-macem……Liturgi ki ra penting krn itu akeh eksternale yoooooo hehehe

    Tabik bik bik bik….Sembah nuwun

    Like

    • Sdr. “Si Dul Polisi Liturgi”, terima kasih sudi mampir. Maaf, saya kurang bisa menangkap dengan baik maksud kalimat2 Saudara. Saya pernah dengar dari orang yang konon mengalami pelayanan Padre Pio dan katanya dari bilik pengakuan ia sempat bersuara keras meminta seorang umat, yang antri mengaku dosa, supaya keluar dari gereja dan berganti pakaian (karena memakai rok mini) dahulu. Dari kisah seperti ini lantas orang bisa menyimpulkan bahwa Padre Pio melarang rok mini dalam gereja; tetapi apakah penarikan kesimpulan itu benar dan lurus, kiranya masih bergantung pada aneka macam variabel (apa ukuran mini, bagaimana kondisi batin si pemakai, motivasi pemakai, dll).
      Mengenai motivasi yang Sdr. “Si Dul Polisi Liturgi” singgung, sejauh itu berkenaan dengan saya, hanya bisa saya katakan bahwa tulisan ini tidak muncul karena soal like-dislike (meskipun saya pernah punya pengalaman tak mengenakkan, alias saya tak suka, selama memimpin Ekaristi dipantau oleh “polisi liturgi”-sebagai istilah teknis). Ini adalah upaya saya untuk berpartisipasi dalam wacana mengenai liturgi. Kalau berkenan membaca posting lain (Saya Ditegur Uskup), kiranya Saudara bisa menangkap bahwa saya tidak mengatakan bahwa “liturgi ki ra penting karena akeh eksternale”. Saya memandang positif liturgi, tetapi pandangan positif itu berubah jika praktik liturgi malah menghalangi orang untuk membangun kedalaman relasi personal umat dengan Allahnya, kedalaman imannya. Salam,

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s