Iman Sama Agama Beda

Judul posting ini bisa dimengerti “iman sama agama itu beda” dan “imannya sama, agamanya beda”. Mengenai iman yang sama dan agama yang berbeda sudah sedikit disinggung di sini. Sedangkan soal bahwa iman dan agama itu berbeda, sudah diandaikan dalam blog ini: blog ini lebih concern pada pengembangan iman daripada penggelembungan agama. Tentu, karena background penulisnya Katolik, terminologi yang dominan memang istilah-istilah atau contoh dari lingkungan agama Katolik. Lha, trus kalau multitafsir itu tadi dah disinggung, mau bahas apa lagi ya?

Teks Injil hari ini adalah lanjutan doa Yesus bagi murid-muridnya. Kemarin, doanya ditujukan bagi murid-murid yang hidup bersamanya dan hendak ditinggalkannya. Hari ini doa itu diperluas bagi orang-orang, generasi yang mendapat pewartaan dari murid-murid tadi. Yesus mengerti betul bahwa roh perpecahan itu sungguh membahayakan orang-orang yang bahkan pernah mengalami hidup bersama dengan Yesus, apalagi generasi sesudahnya. Maka, ia mendoakan sesuatu yang sebetulnya lebay juga sih: supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita (Yoh 17,21). Bukan cuma lebay, melainkan juga “mustahil”: bagaimana mungkin milyaran orang jadi satu?

Cinta Yesus yang ‘lebay’ kepada umatnya itu memang menuntut sesuatu yang mustahil justru karena ia percaya Allah bisa melakukan yang mustahil itu. Bagaimana mungkin? Dengan cinta tanpa syarat dan tanpa batas, yang memungkinkan-Nya menjadi manusia, sebagaimana hanya dalam cinta orang bisa berempati, ‘menjadi yang lain’. Nah, kemustahilan pertama dipercayai telah terjadi. Kemustahilan kedua memang masih belum purna ditembus: masih amat sangat sulit bagi orang untuk saling mencintai. Boro-boro dalam lingkup universal, dalam Gereja pun roh perpecahan bisa lebih hidup daripada roh kesatuan.

Umat Gereja berisiko menjadi seperti orang Farisi dan Saduki, yang meskipun semuanya orang Yahudi, toh terpecah karena soal kepercayaan kepada kebangkitan orang mati (dan Paulus nan cerdik memanfaatkan perpecahan itu untuk meloloskan dirinya dari penghakiman bangsanya). Dalam Gereja pun orang perlu belajar menghormati keberagaman, menerima perbedaan pendapat. Terlalu sering orang terpukau oleh kesatuan dan ketaatan pada aturan dan tradisi sehingga yang dibawanya bukan Injil yang bersumber dari Kristus, melainkan malah rasa bakti yang kuat terhadap budayanya sendiri [dan lebih lucu lagi orang mau tunduk pada budaya orang lain!].

Komunitas Gereja Katolik perlu belajar membedakan antara substansi yang hendak dihidupinya (roh saling mencinta yang berasal dari Allah sendiri) dan konsekuensi dari substansi itu (liturgi, moralitas, organisasi…). Kesibukan atau fokus pada konsekuensi justru bisa membahayakan substansinya.


KAMIS PASKA VII
21 Mei 2015

Kis 22,30;23,6-11
Yoh 17,20-26

Posting Tahun Lalu: Menyenangkan Siapa?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s