Terlibat: Tidak Regresif, Tidak Agresif

Penggemar musik klasik kiranya menikmati Toccata e Fuga karya J.S. Bach. Google Translate menerjemahkan judul itu sebagai Touch and Go dan memang musik itu bernuansakan aliran melodi berkejar-kejaran. Ini kelihatan lebih jelas dalam Fuga in G minor: ada cantus firmus yang seolah hendak berlari tetapi dalam beberapa birama sudah ‘dikejar’ lagi oleh cantus firmus serupa. 

Dengan kata yang mirip bisa ditunjukkan suatu godaan besar dalam sejarah kekristenan: orang ingin lari dari dunia yang kacau balau ini. Itulah yang dikenal sebagai spiritualitas fuga mundi, orang ingin lari dari hiruk pikuk dunia dan menyepi di tempat sunyi. Bentuk pelarian dari dunia itu tidak hanya berupa hidup menyendiri terpisah dari keramaian, tetapi juga hidup yang hendak mempertentangkan antara surga dan dunia sekarang dan di sini ini. Maka, wujud fuga mundi juga bisa dilihat dari aneka kelompok yang menyatakan dunia ini benar-benar tak layak dihidupi dan kiamat sudah mendekat sehingga ‘mari kita bunuh diri rame-rame‘. Ini semua adalah wujud semangat fuga mundi yang sifatnya regresif, orang menarik diri, ngambeg dari dunia bahkan dalam bentuk ekstrem menghabisi nyawa sendiri.

Ada bentuk fuga mundi yang lebih agresif dengan bentuk ekstrem menghabisi nyawa orang lain. Kelompok orang ini hendak membangun dunia seturut imajinya sendiri, memaksakan tafsir Kitab Sucinya pada struktur sosial politik, menyusun kota idaman yang diinspirasikan oleh Kitab Suci. Kelompok orang ini sebenarnya punya maksud mulia, tetapi caranya yang dilandasi paham eksklusif justru kontradiktif dengan nilai yang hendak diperjuangkannya. Kenapa kontradiktif? Karena Kerajaan Allah tak bisa dibangun dalam eksklusivisme. Barangkali ketidaktahuan untuk membedakan pluralitas dan pluralisme menjadi hambatan besar. Sebagian orang menyangka bahwa menerima pluralitas berarti mempromosikan pluralisme yang memuat bahaya sinkretisme…. tapi ah sudahlah.

Yesus rupanya tak memelihara spiritualitas fuga mundi. Pengikutnya justru diminta supaya tetap tinggal dalam dunia, menyuburkannya; mencintai aspek terangnya sembari menyadari bahwa mentalitas dunia bisa menghambarkan nikmatnya kebaikan. Maka dalam doanya kepada Allah, Yesus mengatakan, “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” (Yoh 17,15) Yesus menginginkan para pengikutnya tetap hidup di dunia, dengan bantuan Roh Kudus bisa mengatasi kejahatan. [Doanya Yesus sih okay, tapi kalau yang didoakan tak punya komitmen (di rumah, sekolah, kantor, dll) dan malah mengembangkan semangat fuga mundi (entah regresif atau agresif), kok ya kiranya doa itu gak manjur ya?!]

Tuhan, lindungi dan ajarilah kami untuk menjadi warga dunia; bantulah kami untuk menghidupi kemanusiaan kami sebagaimana Engkau sendiri telah mengalaminya.


RABU PASKA VII
20 Mei 2015

Kis 20,28-38
Yoh 17,11b-19

Posting Tahun Lalu: The Spirit, He Knows Better

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s