The Spirit, He Knows Better…

Andai saja pada zaman Paulus sudah ada gincu atau lipstick! Bakal jadi seperti apa pipi Paulus jika diciumi terus menerus oleh jemaat di Miletus? Mereka bersedih karena Paulus sudah menginsinuasikan bahwa perjumpaan itu adalah perjumpaan terakhir mereka. Paulus ingin segera berada di Yerusalem sebelum Pentakosta. Perpisahan itu mengharukan justru karena relasi yang begitu baik antara penatua jemaat Efesus di Miletus dan Paulus. (Orang cenderung ingin melanggengkan relasi yang baik dan sesegera mungkin menyudahi relasi yang amburadul)

Perpisahan seperti itu kiranya berat bagi jemaat di Miletus, tetapi pada Paulus pun diandaikan ada kebebasan batin untuk menyerahkan hidup jemaat kepada Roh yang akan menuntun mereka.  Ini relatif tidak mudah karena Paulus tahu benar bahaya yang mengancam jemaat jika ia pergi. Paulus mesti mempercayakan perkembangan Gereja pada penyertaan Roh Kudus lebih daripada upaya sistematis dengan kriteria manajerial manusiawi.

Kepercayaan seperti yang diandaikan pada Paulus itu menjadi doa Yesus sendiri. Ia berdoa bagi para muridnya: Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat (Yoh 17,15). Yesus tidak punya ide bahwa murid-muridnya dicabut saja dari aneka ancaman keberingasan musuh atau lawan.

shutterstock_75103528Doa penyerahan murid-murid Yesus ini dilandasi kepercayaan kepada kuasa Allah yang lebih kuat melalui Roh Kudus-Nya. Barangkali ini bisa dianalogikan dengan kepercayaan pasien kepada dokter. Maaf numpang sharing: dari pemeriksaan gigi kemarin saya ingin cabut tetapi dokter malah mengatakan sebisa mungkin dipertahankan, tetapi malah ada gigi lain yang saya tak berniat mencabutnya malah disarankan supaya dicabut saja. Ya sudah, dokter gigi ini selama studi dan kerja tentu saja jauh lebih ngerti seluk beluk gigi daripada saya. Jadi, let it be saja toh?

Kepercayaan dengan tolok ukur atau kriteria fisik seperti itu mungkin relatif jauh lebih mudah daripada memercayakan hidup kepada Roh. Kenapa? Karena kerja Roh itu seperti angin: bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi… (Yoh 3,8) Roh menantang kemapanan, menggoyang zona nyaman.
Memercayakan hidup kepada Roh juga menuntut kesabaran supaya kebaikan teruji dan tidak ikut binasa bersamaan dengan kejahatan. Perumpamaan mengenai gandum dan ilalang (Mat 13,24-30) mengindikasikan kecenderungan hamba Tuhan yang maunya langsung habisi saja yang jelek-jelek tetapi Tuhan lebih realistis: thanks atas usulmu, tapi kamu jalankanlah tugasmu sebaik-baiknya, soal ilalang dan gandum ini nanti urusanku ya.


RABU PASKA VII
4 Juni 2014

Kis 20,28-38
Yoh 17,11b-19

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s