Saya Ditegur Uskup

Ini kisah nyata, tetapi pura-puranya saya yang jadi tokoh utamanya ya. Tak perlu cari-cari tahu siapa tokoh sebenarnya. Yang penting justru cari tahu pesannya aja: saya mendukung uskup yang begitu bijak menyikapi kekisruhan di antara para gembala dan dombanya.

Saya ini pastor paroki, dan bukan pastor paroki baru, tapi baru kali ini mengalami transisi dari Tata Perayaan Ekaristi yang sudah dipraktikkan sekian puluh tahun ke TPE yang katanya lebih persis dengan Misale Romanum yang sebenarnya. Tren pembaharuan itu juga bahkan berlaku untuk beberapa lirik lagu: dari ‘semua bunga ikut bernyanyi’ menjadi ‘semuang kembang berdendang riang’ (tentu bukan lirik sebenarnya, hanya supaya sedikit lebay sehingga semua berakhiran ‘ang’), notnya tak berubah. Itu pun simbolik: TPE diubah rumusannya, penghayatannya tetap legalistik dan klerikal. Padahal, persis itulah yang dikritik Yesus sekian ribu tahun yang lalu. [Ironis, bukan? Pengikut Yesus justru mempertahankan semangat legalistik dan klerikal yang dikritik oleh Yesus sendiri!]

Untuk kepentingan perubahan itu, diterbitkanlah buku pegangan misa untuk umat dan TPE baru untuk para imam. Waowww…. seandainya jumlah umat Katolik satu juta saja dan dari satu buku umat itu ada komisi 50 perak… Hmmm UMR 4 tahun…. Bukannya saya tak sudi orang lain mendapat komisi sebanyak itu, tetapi: ini mau membangun suatu Gereja yang beriman atau bisnis musiman dengan pembenaran suci? Saya menanggapi rencana perubahan TPE itu dengan mencetak sendiri TPE baru untuk umat. Umat tak usah membeli buku itu dan setiap kali bisa memakainya di gereja dan setelah memakai lalu meletakkan kembali di tempatnya.

Memang sih, pada bagian tertentu dari Doa Syukur Agung ada setting yang meskipun tak diberi keterangan apa-apa bisa memberi kesan bahwa umat bisa mengucapkannya (“Kami mohon agar kami yang menerima Tubuh dan Darah Putera-Mu….”). Kenyataannya, itu disokong juga oleh jeda imam yang memancing umat untuk ikut mengucapkannya. Dilaporkanlah soal ini kepada staf keuskupan. Pastor pembantu saya beberapa kali menceritakan bagaimana ia ditegur umat karena hal itu atau karena hal lain lagi yang menurut pandangan penegur itu tak sesuai dengan rubrik TPE yang baru. Gusti nyuwun kawelasan, apa ya orang berdosa karena ikut mengucapkan sebagian kalimat dalam Doa Syukur Agung ya? Atau berdosakah orang yang menyanyikan salam damai?

Uskup memanggil saya. Biar bagaimanapun, sebagai gembala umat, saya adalah pembantunya dan saya menaati apa yang dimintanya. Kesalahan yang ditunjukkannya: saya membuat counter terhadap pembakuan TPE baru dengan bentuk pembakuan lainnya (teks ‘resmi’ yang saya berlakukan di gereja paroki). Saya memang prihatin dengan mental klerikalisme dalam Gereja Katolik. Dulu sebelum ada hirarki seperti sekarang ini, Gereja Katolik (yang berarti universal) adalah kumpulan Gereja lokal yang masing-masing berdiri sendiri. Artinya, setiap Gereja Lokal punya pemimpin jemaat (yang sekarang disebut Uskup) dan masing-masing pemimpin jemaat itu memiliki kewenangan yang mereka hormati satu sama lain.

Akan tetapi, setelah unsur politik kekuasaan masuk, hirarki itu dimengerti secara lain: Uskup Roma (yang disebut Paus) seolah-olah menjadi pusat segala-galanya dan uskup-uskup lainnya berada di bawah kekuasaannya. Memang betul Paus adalah pimpinan Gereja Katolik tertinggi, tetapi jabatan itu sebetulnya bersifat koordinatif. Para uskup tetap memiliki otoritas yang sama terhadap wilayah penggembalaannya masing-masing. Repotnya, di sekeliling uskup itu bisa dominan kelompok klerikalis yang menginginkan keseragaman untuk seluruh Gereja Katolik. Lebih celaka lagi, dalam kelompok klerikalis itu ada juga imam-imam yang menikmati buah klerikalisme: dilayani, diberi privilese, dihormati, difasilitasi, dibayar, ditakuti, bahkan mungkin disembah-sembah.

Uskup sangat paham soal formalisme, klerikalisme yang kuat pada kultur di sini; tetapi dia malah mengingatkan saya bahwa yang saya lakukan justru merupakan bentuk klerikalisme juga: saya ingin menegaskan diri bahwa saya punya wewenang terhadap umat yang dipercayakan kepada saya. Padahal, karena saya pembantu uskup, seharusnya saya berkonsultasi dulu dengan Uskup sebelum membuat keputusan formal yang diberlakukan bagi umat. Akhirnya saya tarik kembali teks yang telah saya cetak sebagai counter terhadap perubahan TPE itu. 

Yang saya kagumi dari Uskup saya ialah bahwa dia justru memberi peneguhan atas keprihatinan  yang saya miliki. Jalan keluar yang disodorkannya pun sangat bijak: tidak melawan formalisme dengan formalisme. Insight yang saya terima darinya: para imam, yang adalah klerus (masuk dalam hirarki), seharusnyalah menjadi agen pembongkar klerikalisme. Lha, bagaimana dengan TPE yang mengada-ada ini (lha wong “agar menjadi bagi kami…” saja diganti jadi “agar bagi kami menjadi…”! Penting banget kale‘)? Bukankah ini jelas-jelas mau menempatkan Roma sebagai pusat Gereja dan apa-apa saja mau dicocokkan dengan Roma sana?

Sekali lagi, memang ada orang-orang romantis (mungkin pernah hidup di Roma) yang merindukan kesatuan Gereja dalam arti seragam: dengan Bahasa Latin, dengan terjemahan yang paling dekat (padahal jelas tradure est tradire), dengan gerak yang harus sama, dengan musik yang sakral ala klasik, dengan panti imam yang harus clear dari tampilan berbau dosa (dan penuh dengan gaya-gaya munafik), dengan pakaian liturgi yang dianggap lebih civilized, dan sebagainya. Orang-orang seperti ini bisa masuk dalam hirarki dan mempraktikkan klerikalisme: semua harus tunduk pada tatanan ini.

Uskup yang saya kagumi ini cuma berujar: yang paling pokok dari Ekaristi sepanjang zaman adalah Doa Syukur Agung (yang mungkin hanya berlangsung 8 menit), selebihnya pakailah waktu Perayaan Ekaristi itu sebagai cara untuk mengembangkan iman umat! Dia tidak mengatakan bahwa bacaan boleh dikurangi atau Madah Kemuliaan tak boleh didaraskan setelah Komuni. Artinya, sebagai pemimpin jemaat dalam kesatuan dengan uskup-uskup lain, ia mengambil tanggung jawab untuk menjaga tradisi Doa Syukur Agung sebagai pokok Ekaristi. Di luar itu, ia menekankan tolok ukur penting: pengembangan iman umat.

Indah sekali kalau semua uskup dan orang-orang dekatnya seperti itu…. Mimpi keleus…

41 replies

  1. Wah tulisan ini “he eh” banget dehhhhh… menggambarkan beberapa pokok pikiranku… Kadang ngeri baca komen umat di di sebuah FP, bila admin mengangkat “kesalahan” yang terjadi dalam sebuah misa. Komennya kayak menghujat, sampe nuduh pasturnya jelmaan setan, umatnya sesat, lalu memuji parokinya sendiri yang sudah tertib dan taat (weee lha nanti dulu ya…taat yang kayak apa, patuh yang macam mana? Wong pas aku misa di Vatikan aja ya ga gitu-gitu amat) … lha kok kayaknya para pengkomen itu ga beda sama gerombolan pengkirsuh itu……

    Liked by 1 person

  2. ” pergilah ke seluruh dunia, jadikanlah semua bangsa murid ku, dan ketahuilah aku menyertai kamu sampai akhir jaman..”

    kalo hanya iman di “tumbuh-tumbhakn ” dalam klerikal ekaristi kampan mau “keluar ” dunia..

    sekali waktu juga pastur nyamar apa gitu ya…siip

    Like

  3. Saya mengerti, bahwasanya gereja yang bersifat universal juga mengalami inkulturisasi. Dengan kata lain beradaptasi dengan budaya setempat.. Tetapi bahwasanya protokol yang berlaku dalam gereja Katolik adalah sama, saya merasakan keuntungannya ketika berada di tempat yang baru dengan bahasa yang baru, yang belum sepenuhnya saya mengerti, tetapi didalam berekaristi masih tetap dapat mengikuti dengan cukup baik adanya.
    Ini adalah kekuatan yang dimiliki gereja Katolik yang satu dan universal. Memang ada sedikit perbedaan, tapi semua berjalan sungguh indah. Misalnya dalam doa “Bapa kami”.

    Dalam bahasa Indonesia dikatakan, “.. jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga..” tetapi dalam bahasa Jerman, “.. Dein Wille geschehe, Wie im Himmel (seperti di dalam surga), so auf Erden (demikian juga di atas bumi) ..”.

    Tapi itu bukan masalah, krn Tuhan yang kita sebut adalah “Bapa” dan kita yang menyebut Dia sebagai Bapa adalah satu kesatuan yang berarti kita adalah anak2Nya.

    Liked by 1 person

    • Bapak/Romo Iwan Santoso yang baik, terima kasih sudah berkenan mampir dan memberi komentar. Saya punya pengalaman yang sama ketika memimpin Ekaristi dalam Bahasa Jerman (beberapa hari setelah tiba di sana tanpa pernah ikut misa berbahasa Jerman). Satu-satunya tolok ukur yang memberi penghiburan rohani bagi saya ialah kenyataan di hadapan saya: banyaknya umat yang sungguh ingin berdoa bersama. Ini misa hari minggu biasa (bukan misa minggu untuk kelompok khusus seperti anak-anak, lansia, atau orang muda); ada perbedaan kecil di sana sini, tapi saya sama sekali tak terganggu dengan itu (apalagi umatnya).
      Yang saya mau katakan: hiburan rohani, relasi personal dengan Tuhan tidak muncul dari protokol, tetapi dari kesatuan hati dan budi saya bersama umat (yang nb tak mungkin terjadi tanpa Roh Kudus). Kesamaan protokol dalam arti tertentu menguntungkan, tetapi kita juga mengerti bahwa tidak semua bagian protokol bermuatan sama. Bagian terpenting tentulah bagian yang pada dirinya menunjuk peristiwa Yesus sendiri. Itulah yang pada hemat saya, dimaksud oleh Uskup yang menegur imamnya. Polemik yang belakangan ini marak terjadi muncul karena ada perayaan Ekaristi dengan segmen khusus (yang tidak setiap minggu diadakan) dihakimi dengan protokol komplet: lha ya jelas salah. Saya tidak anti protokol atau keseragaman, tetapi berupaya supaya hal-hal itu benar-benar kondusif untuk pengembangan iman umat sendiri.
      Bapak/Romo Iwan yang baik, semoga kita semakin boleh mengalami rahmat Allah sendiri yang melampaui kategori untung-rugi, benar-salah akibat ideologi keseragaman. Amin.

      Like

  4. Maaf sebelumnya. Ini Romo yg tulis? ” ah…yang benarlah Romo dalam menggiring pemahaman umat ” Ini bukan tulisan dengan semangat “memberontak dan sakit hati kan?” Umat Katholik yg lain saya himbau untuk membaca secara jernih. Jangan langsung setuju dan iya2 aja. Saya menduga kalau Romo ini belum memahami secara baik dan benar tentang beberapa hal : Gereja Katholik Roma, legalitas dan klerikal, Katekismus. Misalnya tentang DSA : Baca apa yg ditulis St. Yustinus Martir sejak tahun 155. Baca juga tradisi2 Gereja Katholik, baca juga tentang arah dan kebijakan2 Gereja lokal di Indonesia soal TPE. Semoga gembalanya cerdik, umatnya cerdas dan cedik juga. Salam.

    Like

    • Romo/Bapak Agustino yang baik, terima kasih berkenan mampir. Dengan segala kerendahan hati saya sadar bahwa saya dan paham-paham saya bukanlah tolok ukur kebenaran mengenai Gereja Katolik, Katekismus dan sebagainya. Selain itu, pemahaman saya mengenai Gereja Katolik Roma dan lain-lain itu pastilah tidak sebaik yang Romo/Bapak miliki. Himbauan Romo/Bapak kepada umat juga tentu baik. Memang umat seyogyanya membaca dengan cerdas, dan salah satu tolok ukur membaca dengan cerdas ialah bahwa orang melihat konteks yang menyertai teks (ini adalah problem hermeneutis). Tidak bisa teks tulisan Yustinus Martir di abad II, misalnya, ditelan mentah-mentah pada abad XXI ini. Orang mesti melihat inti teks atas dasar relasinya dengan konteks. Yustinus Martir tentu mesti menekankan hal yang penting bagi identitas kristiani (termasuk liturgi, yang nota bene pasti tidak sama persis dengan liturgi sekarang ini, yang sudah mencakup aneka tambahan) pada masa penganiayaan (kalau tidak begitu, ya umat kristiani pasti kocar-kacir karena penganiayaan dari luar).
      Apakah Romo/Bapak Agostino melihat Gereja Katolik saat ini sedang dikejar-kejar atau dianiaya oleh kelompok luar sehingga kita butuh pengerasan identitas dengan liturgi? Atau jangan-jangan ini adalah bentuk kecemasan/kekhawatiran yang didekati dengan kompleks kekuasaan karena Gereja Katolik tak sanggup menerjemahkan Roh dalam dunia dewasa ini?
      Salam,

      Like

  5. Banyaknya manusia yg meributkan cara brribadah masing2,
    Saya tercerahkan dan setuju.
    Inti pada doa Syukur Agung dan pengembangan iman umat.

    Liked by 1 person

    • Ibu/Mbak/Suster Florentina, banyak terima kasih sudah berkenan mampir. Mohon doa supaya kita semua semakin terbuka pada gerak Roh Kudus yang menuntun setiap hati untuk mengarahkan diri pada Allah di surga. Amin.

      Like

  6. Ra mikir iki tulisan ngadu domba, antara Uskup dgn umat…..Mung mergo ono wong sing njaluk legetimasi Uskup, duh duh….Kewanen banget gawe katekese ro umat nang medsos, dibaca begitu byk umat….

    Buang wae dokumen gereja kabeh, terus gawe denom katolik liyane, luwih apik sesuai hati kan ?

    Rasah taat meneh ro ajaran resmi, taat karo ajaran pribadimu wae , sesuai dgn harapanmu hihihi

    Opo ngendikane Bapa Paus Benedictus XVI, Kardinal Arinze, Dubes Vatkan Fillipazi rasah dirungokke ttg Liturgi…….Kan cuma eksternal ….semua semangat kan harus baru baik yg bersifat iman maupun pastoral tho?

    Nuwun,

    Like

    • Sdr. “Si Dul Polisi Liturgi”, terima kasih atas komentar lanjutan Saudara (yang sebetulnya juga berarti Saudari karena bisa jadi Anda perempuan), tetapi maaf, Anda keliru memahami tulisan saya dan terlalu memaksakannya dalam kesimpulan ekstrem. Semoga Anda mengalami kedamaian hati. Amin.

      Like

      • Terima kasih kembali Mo…Dimana pemahaman yg keliru yang aku buat, bisa ditunjukkan? Lalu bgm komen Romo yang terakhir ini : “Indah sekali kalau semua uskup dan orang-orang dekatnya seperti itu…. Mimpi keleus…”, Kalau orang dekatnya memang bisa diklaim keliru, bgm dgn Uskup yg menurutku memahami tulisan ini, tdk semua Uskup membuat hati dan pikiran Romo Indah hihi…Benar ya Mo ?

        Nuwun

        Like

      • Sdr. “Si Dul Polisi Liturgi”, maafkan saya karena tak melayani diskusi di sini. Saya berusaha objektif dan tampaknya ruang lingkup perhatian kita berbeda dan akan nggladrah ke mana-mana jika kita bahas di ruang yang serba terbatas ini. Kalau berkenan, silakan membaca posting yang terkait dengan uskup di sini, barangkali bisa memberi gambaran. Maturnuwun.

        Like

  7. Sajak e sik nulis iki ndue loro ati akut…..nek wis jeleh karo hirarki Vatikan mending metu wae bro! Gawe denom dewe iso rabi malah…piye?? 😀

    Like

    • Apa bukan sebaliknya yang loro ati akut ya? Beberapa komentator nadanya sama, orangnya mungkin berbeda, dan agendanya sama; maka jawaban saya kurang lebih sama: semoga Tuhan memberi kedamaian hati kepada Anda.

      Like

      • Hehe…ya kalau nulis di blog ya hrs siap dikometari to Mo? Kalau ga siap ya tidak sah nulis diblog. Ya sekarang apa sampyan juga ga ada agenda dengan tulisan ini? Penyakit liberalis memang pada akhirnya melahirkan katolik2 Indiferentis.

        Like

      • Sdr. Awangemanuel ybk. Dengan saya approve komentar Anda hampir setahun lalu, kiranya saya tidak merasa tak siap dikomentari ya. Setiap orang bebas berkomentar dan saya sadar sungguh ada komentar yang berangkat dari Roh yang menyatukan, ada komentar dari roh yg sebaliknya; ada pijakan komentarnya nalar sehat, ada yang berangkat dari like-dislike. Itu saya bisa mengerti. Salam.

        Like

  8. Berkah Dalem Romo,
    Kurang lebih sepuluh tahun lalu, saya bertemu dengan alm Rm Stolk di Emaus. Komentar beliau juga agak miring soal liturgi Indonesia.
    Saya setuju Romo, bahwa keseragaman dalam Gereja Katolik itu banyak menguntungkan, seperti misalnya ketika kita merayakan ekaristi dalam bahasa asing.
    tetapi yang kadang mengganjal bagi saya adalah soal terjemahan yang kadang terlalu memaksakan. Terjemahan yang memaksakan itu terjemahan yang tidak masuk logika budaya kita. dan saya pikir inkulturasi bisa menjembatani lompatan logika budaya ini. Sayangnya, ada sebagian orang yang menganggap inkulturasi sebagai usaha “asal beda”, tanpa mencoba memahami ‘mengapa perlu dibedakan’.
    semoga mereka pun diberi kedamaian hati
    amin

    Like

    • Mas Febriyarto, banyak terima kasih sharingnya. Romo Stolk itu dosen liturgi yang otodidak tapi sungguh mumpuni. Sewaktu saya diajar beliau, saya tidak mendapati komentar miringnya karena dari kuliah dan hidup kami di rumah, ia berfokus pada upaya menghadirkan roh kehidupan dalam liturgi, tapi juga dalam hidup bersama. Itu sangat kelihatan bagaimana dia menyusun teks liturgi dan bagaimana doanya mewarnai pergumulan hidupnya.
      Wacana di dunia maya ini memang kurang kondusif, tetapi saya benar-benar tergerak untuk terlibat dengan harapan umat semakin ‘titis’ menemukan yang substansial dalam hidup kita manusia ini (Pernyataan seperti ini pun bisa ditafsirkan bahwa saya menganggap liturgi tidak penting… dalam situasi seperti ini, dialog takkan berjalan). Untuk itu, saya mohon doa Mas Febriyarto dkk, bukan hanya bagi saya, bagi siapa saja yang sungguh memelihara kerinduan batin akan Allah yang hidup, yang mengatasi aneka usaha manusia. Salam.

      Like

  9. yg harus digali lebih dlm adalah, ketika rm menyatakan (kalau tdk salah) bahwa aturan2 liturgi macam PUMR dan SC perlu dipahami, melalui konteksnya (jaman dan “kepentingan” sang perumus) pada bagian yg mana dlm konteks tersebut, bahwa misa yg tdk reguler, macam EKM boleh hanya 2 bacaan, boleh menghilangkan ordinarium, boleh mazmur tanggapan diganti lagu pop, bahkan boleh bersikap “tidak hormat” di panti imam di depan tabernakel…. seolah olah rm mau mengatakan (jika itu boleh krn dipahami scr kontekstual) para perumus aturan2 itu org2 bodoh yg ga bisa melihat jauh dan dalam saat menyusun aturan2 tersebut, sehingga aturan2 itu bisa tdk diterapkan untuk perkembangan iman umat, trus apakah dgn demikian umat benar2 berkembang? apa indikatornya? kuantitaskah? brarti logika pasar yg rm pake, liturgy by demand gt? saya umat awam, pekerjaan guru sd, paroki bintaran. Semoga romo semakin diberi kedamaian dsn kerendahan hati yg sejati. terimakasih

    Like

    • Bapak Satrio yang baik, terima kasih berkenan mampir dan berkomentar, lebih-lebih karena doa Bapak bagi saya. Syukurlah sampai saat ini saya tak punya kesulitan untuk tidur bahkan meskipun sempat saya baca aneka komentar, penilaian dan hujatan terhadap saya, termasuk dari Bapak sendiri. Belakangan ini saya diajari untuk mengampuni.
      Maafkan saya tidak menjawab pertanyaan Bapak karena background tulisan saya tak berkaitan dengan EKM (mengenai EKM sendiri saya sudah buat posting dan posisi saya cukup jelas di sana). Kedua, tentu saja karena Bapak tinggal di Yogyakarta, saya lebih mengapresiasi dialog dalam perjumpaan. Wacana virtual seperti ini terlalu rentan kesalahpahaman karena cakrawala pandang kita memang berbeda, mungkin juga kepentingannya berbeda. Salam, sugeng makarya.

      Like

  10. Njih romo, senang bila nanti kapan2 kita bisa ketemuan mendiskusikan masalah ini. nuwun

    Like

    • Sumonggo Pak Satrio, dengan senang hati saya akan sowan ke sekolahan tempat Pak Satrio kerja untuk mendiskusikan hal ini sejauh Pak Satrio berkenan memberi alamat sekolahan itu dan waktu yang bisa Bapak alokasikan. Salam.

      Like

  11. Haloo romo..
    Maaf saya hanya umat biasa yang lancang ikut mampir komen di sini hehee.

    Setelah membaca tulisan romo ini, saya merasa kok romo terlalu negatif thinking dg Gereja yaa…*ah mungkin hanya perasaan saya saja hehee

    Mgr. suharyo, org bijak itu pernah ngendika soal ‘bener dan pener’…
    Hal yg ‘bener’ jika diungkapkan dg cara yg tdk ‘pener’ bisa disalahpahami..
    *ah mungkin juga saya salah paham.

    Saya tidak banyak tahu soal liturgi,
    Tapi saya meyakini, liturgi adalah warisan tradisi yg sangat agung..banyak orang2 baik terlibat di sana (*mungkin memang tidak semua). Tetapi saya percaya, Roh Kudus juga terlibat.
    Jika demikian, siapakah kita (saya?) sehingga harus mengubah?
    *kecuali saya memang ahli liturgi yang tahu betul perayaan liturgi yg baik dan benar. Tapi sepertinya bukan hehee.

    Sedikit cerita, saya juga pernah sebel banget dg liturgi ekaristi yg rasa saya terlalu kaku dan kering.
    Lalu saya berpikir tentang orang2 kudus. Betapa banyak orang kudus dalam Gereja kita!
    Mgr. Haryo dan Mgr. Pujo adalah org2 kudus jaman ini bagi saya.
    Bukankah mereka tidak pernah mempermasalahkan liturgi?
    Jika demikian, siapakah saya sehingga mempermasalahkan liturgi?
    *ah mungkin masalahnya ada dalam diri saya sendiri.

    Maaf romo..saya tidak mempunyai sumber2 acuan yg memadai..hanya sekedar cerita pengalaman pribadi saya.
    Menurut hemat saya, akan lebih baik sebagai gembala yang baik, memberikan pemahaman yang baik tentang agungnya perayaan ekaristi, demi pengembangan iman umat..bukan sebaliknya.

    NB: saya juga minta didoakan utk kedamaian hati saya nggih.

    Matur nuwun. Berkah Dalem.

    Liked by 1 person

    • Halo Mas Heri Jambul, terima kasih banyak komentarnya. Akan saya pertimbangkan soal ‘pener’nya itu ya. Saya sih sudah berusaha memberi pagar tulisan saya dengan paragraf pembuka dan penutup seperti itu. Pesan utamanya bukan soal ubah mengubah TPE, saya sungguh mendukung Uskup, apalagi yang lebih mengedepankan tolok ukur pengembangan iman umat. Itu yang mau saya sasar.
      Tetapi kita memang dalam membaca teks itu sudah punya kacamata tertentu, sehingga tak heran bahwa beberapa menempatkan teks ini pada persoalan EKM yang mengubah ini itu… Padahal konteks tulisan saya sama sekali tak terhubung dengan EKM.
      Mohon mas Heri Jambul memberi tanda kurung soal bahwa saya negative thinking terhadap Gereja… lha rak itu namanya negative thinking terhadap diri sendiri to; dan saya tidak negatif terhadap diri saya sendiri.
      Saya cuma ingat ada keraguan sebagai metode, dan kalau keraguan itu bisa diganti dengan ‘negative thinking’, kalau saya memang negative thinking, mohon itu ditangkap sebagai metode. Saya cinta Gereja karena itulah bagian identitas saya. Tetapi jelas identitas itu tak boleh direduksi dalam liturgi semata. Gereja ini jauh lebih kaya daripada liturgi (apakah pernyataan ini juga bisa ditangkap sebagai ‘negative thinking’ thd Gereja? Bisa saja… karena itu bergantung prapemahaman atau prasangka pembacanya).
      Donga dinonga, Mas Heri Jambul. NB: saya bukan pastor paroki, tidak punya umat, meskipun kenal umat.

      Like

  12. Beberapa tanggapan ad hominem di atas menunjukkan bahwa kekakuan, kekasaran, dan kekerasan adalah sahabat-sahabat legalisme dan klerikalisme. Apa hubungan legalisme dan klerikalisme dengan iman dan ibadat? Tidak ada. Iman bukanlah pikiran yang menyetujui kebenaran pernyataan-pernyataan ajaran, hukum, dan pedoman umum ritus agama, melainkan komitmen untuk menyerahkan diri kepada Realitas Cinta. Ibadat merupakan ungkapan cita-cita manusia untuk menyatu dengan, dan dikuatkan oleh, Realitas Cinta itu, sumber kebaikan, keadilan, dan keadaban.

    Like

    • Terima kasih komentarnya, Fr. Peter. Saya sungguh mengajak kita berdoa mohon Roh kebijaksanaan untuk hal ini. Semoga dengan doa pula iman umat semakin diteguhkan dalam kebenaran. Amin.

      Like

  13. kulonuwun mo…mau ikutan nimbrung…:D

    saya adalah tipikal umat yang tidak terlalu perduli dan ambil pusing dengan perubahan liturgi (yg romo bahas), termasuk ekm. sah2 saja. dengan misa ruwatan ala romo sindhu ato misa ala kejawen romo utomo ganjuran yang dikontra oleh Mgr. Sutikno jg okee.. bahkan saat berdoa ataupun berziarah saya sering bakar dupa atau menyan. klo ada umat, romo yg liturgis banget yg ga setuju tentang ekm/misa ruwatan/misa ala jawa yg romonya pake beskap dan berkalung stola jg ga sewot2 amat alias biasa saja karena bagi saya hal ini bkn masalah yg gawat. msh gawat urusan skripsi yg gak kelar2 mo.. *eh malah curhat* *umat macam apakah saya ini* pfffffffffttt…

    jadi klo liat pro dan kontra soal liturgi, saya malah sering ketawa ngakak2 sendiri mo..sekali lg maaf klo ada yg kurang berkenan, tp ini benar2 mencerminkan sikap saya akan pro kontra liturgi, termasuk lagu Bapa Kami Kotabaru yg sempat heboh..

    Like

    • Mas Zionisius yang baik, saya sukaaaak komentar Anda (dan tak perlu berpikir bahwa saya tersinggung: sama sekali tidak), dan saya dukung Anda sepenuhnya untuk fokus pada skripsi. Itu adalah panggilan Anda yang paling suci saat ini, hehe… Saya juga semula ketawa (gak sampe ngakak sih) melihat ‘aura’ aneh dalam Liturgi di negri ini. To tell the truth, saya pun tak pernah melihat ini sebagai masalah gawat; Liturgi juga bukan kompetensi saya; tetapi memang saya merasa terpanggil untuk urun sesuatu karena ada yang melihat ini sebagai masalah gawat dan penyelesaiannya adalah kembali ke zaman baheula. Ada prosedur yang keliru di situ yang bisa-bisa makin menjauhkan kita dari relasi personal kita dengan Allah yang sesungguhnya. Lha, saya ingin berbuat sesuatu, sekecil apa pun, sekurang-kurangnya supaya kita semua melihat persoalan yang sebenarnya…

      Like

  14. Berkah dalem mo.
    wah, romo termasuk berani berkomentar seperti ini di media sosial dan membuat banyak pro dan kontra. Salut.

    Saya termasuk yang merasa ganjil jika TPE banyak diubah-ubah, padahal bagi saya yang terutama dalam perayaan ekaristi adalah DSA dan doa tobat. Sebetulnya bagian-bagian lain tidak masalah jika tidak menganut Misale Romanum.
    Malahan sebagai kaum muda, saya lebih setuju jika ada variasi-variasi pada misa itu sendiri (toh yang paling penting adalah DSA dan doa tobat), agar kaum muda juga tertarik ke gereja katolik.

    Semoga makin banyak orang-orang yang berpikiran luas seperti romo. Amin.

    Berkah dalem.

    Like

    • Berkah dalem, Ci’… maturnuwun sudi mampir. Nanti saya follow blogmu. Bagian terutama Ekaristi sih pastinya DSA; “doa tobat” mendisposisikan kita ke sana, melalui ibadat sabda juga. Saya juga bukan orang yang suka aneh-aneh sih, jadi ekaristi standar itu ya tentu mesti kita junjung. Runyamnya, di sana sini ada kelompok orang yang sangat ideologis dan seperti hendak mengatakan bahwa ekaristi standar itu satu2nya misa yang mutlak berlaku bagi semua saja.
      Btw, judul posting ini tidak menunjuk pada diri saya juga; saya cuma membahasakan pengalaman orang lain kok, dengan kaca mata saya sendiri tetapi tetap mengingat poin yang disampaikan orang-orang yang bersangkutan.
      Kita saling doa ya. Berkah dalem.

      Like

  15. Weh sy br nyadar kalo romo serius ngajak sy ketemuan, sampe mampir ke sekolah sy, g usah ke sekolah mo, dulu sy jg aktif di kobar kok di KBT, tp dah ga lagi, tp kalo mau ketemuan n ngobrol kpn dimana sy sih ok aja, ajak jg temen sy di kbt mas endarto, yg sering main kerumah sy.

    Like

  16. Tergelitik hati ini ketika tak sengaja singgah di blog ini… maaf Romo saya hanya pendosa biasa yg ingin juga “nguda rasa”… saya senang mengikuti misa yg tentunya ada liturginya.. walaupun senang tapi saya tdk memandang liturgi dn seperangkatnya adalah hal sangat penting… misalnya ketika saya mau ikut misa dan mau masuk gereja saya nggak peduli kalau air untuk “konjuk”, itu kotor atau bersih…wadahe lumuten apa malah ada cacinge… sudah diberkati apa belum… yang saya peduli hanyalah memori saya sendiri tentang makna baptis yg saya terima.. atau kehadiran Tuhan yang membasuh saya dari dosa dengan itu air… (maaf nampak sok suci .. tapi sebenarnya saya sok ganteng maklum pendosa…hehhehe) demikian pula misalnya saat lagu Tuhan kasihanilah kami .. saya nggak peduli itu paduan suaranya tenornya fals atau organisnya “pating klenyit”, yang saya peduli adalah hati ini yang seakan ingin menangis menghiba-hiba agar Tuhan mengasihani saya sang pendosa (maaf lagi… agak lebay).. semisal lagi saat kolekte .. saya hanya memberi uang rp.2000.. bukannya saya pelit tapi saya tahu umat di gereja saya kaya dan ada yang kaya raya karena pingin beli tanah di samping gereja dan membangun prasarana baru… wow.. bagi saya kolekte sesungguhnya adalah ..ketika sore hari saat saya habis badminton setiap minggu sekali di perlimaan membeli koran pagi dari seorang ” simbah” yang harganya 1000, tapi saya beli dengan harga 10.000, padahal beritanya sudah usang dan saya dapat anugrah senyuman tulus dari “simbah” yang membuat saya “nggregel” seolah mengingatkan saat via dolorosa.. Yesus yang menghibur wanita padahal Beliau berbeban penderitaan berat.. (di gothak gathukke… yo wes ben lah..) yah begitulah kalau koletkte itu persembahan untuk Tuhan lewat gereja.. tapi kalau beli koran 10.000 ke simbah yang “mesakne”, itu persembahan langsung ke Tuhan… langsung…. nah.. karena saya tidak mengagung agungkan liturgi seperti khalayak.. dan tidak “me-nuhan-kan”.. liturgi maka dengan resmi dosa saya bertambah.. dan nanti kalau saya menerima sakramen tobat? .. mungkin… mungkin lho saya akan mengakui dosa ini.. (terimakasih bila berkenan membaca ..walaupun saya ragu apakah ada tanggapan karena pembahasannya telah lewat)

    Like

    • Sdr. Hapiari@gmail.com, terima kasih sudah berkenan mampir. Saya membaca komentar sampai selesai, meskipun saya tidak tahu bagaimana memberi tanggapan. Tulisan Saudara mengingatkan saya pada problematika relasi manusia-Tuhan yang senantiasa memerlukan mediasi alias perantaraan. Maka termasuk di dalamnya kolekte pun tidak bisa dimengerti sebagai persembahan langsung untuk Tuhan, sebagaimana memberi sedekah kepada orang miskin adalah sedekah langsung kepada Tuhan. Di sini memang diperlukan intuisi rohani supaya orang bisa memilah-milah dan menengarai bagaimana kemuliaan Allah itu dibangun dengan memuliakan kemanusiaan juga. Ada sebagian orang yang tampaknya memuliakan kemanusiaan tetapi ternyata memuliakan dirinya sendiri. Berkah Dalem.

      Like

  17. terimakasih romo berkenan menanggapi… .. mungkin baiknya saya akan lebih mencari makna intuisi rohani agar dapat memilah bagaimanakash kemuliaan allah terbangun… trimakasih berkah dalem…

    Like