Makin Tinggi, Makin Melayani

Ahli Taurat dan kaum Farisi adalah dua kelompok berbeda dalam masyarakat Yahudi, meskipun dalam beberapa hal bisa tumpang tindih. Ahli Taurat adalah kelompok penafsir profesional terhadap Taurat Musa, sedangkan kaum Farisi adalah ahli perkara-perkara teologi yang didasarkan pada Taurat Musa. Yesus mengakui fungsi resmi kaum Farisi sebagai penafsir Hukum Musa, dan ngerti bahwa sejauh tafsiran mereka klop dengan Kitab Suci, umat beriman mesti taat pada mereka.

Akan tetapi, karena kaum Farisi ini adalah ahli teologi, bisa jadi apa yang mereka katakan adalah suatu tambahan terhadap Hukum Musa sendiri. Lha, catatan tambahan inilah yang rupanya kerap kali meleset dari maksud Hukum Musa demi kepentingan popularitas dan otoritas mereka sendiri. Tentu saja gak sambung dengan kebutuhan rohani umat dong, wong umat tidak dalam posisi seperti mereka! Catatan tambahan kaum Farisi justru menjadi beban bagi penghayatan iman umat biasa. Tidak hanya itu, bahkan bisa menyesatkan, seperti kaum Farisi sendiri dalam satu dua hal tersesat. Misalnya, kebanyakan orang Farisi suka (waktu itu, entah sekarang) dipanggil Rabbi, padahal Rabbi sebenarnya merupakan gelar yang hanya diberikan kepada guru mumpuni dari sekolah hukum (Musa).

Itu adalah salah satu wujud peninggian titik pandang yang keliru. Dalam visi kristiani, semakin tinggi posisi orang, semakin luas visi pelayanannya. Tapi, apa mau dikata, entah kultur dari mana (mungkin dibawa dari ranah politik kekuasaan), bahkan dalam struktur hirarki pun umat dan hirarki menghayati secara lain dan itulah kiranya yang mungkin jadi sasaran tembak orang terhadap Gereja Katolik. Tak sedikit orang yang jadi antihirarki karena mereka bukannya semakin membebaskan, melainkan semakin mengikat orang sederhana untuk mengalami cinta Tuhan sendiri. Repotnya, hirarki itu tidak cuma ada di lembaga Gereja Katolik, tetapi juga institusi lainnya: sekolah, masyarakat, juga dalam diri orang sendiri.

Tuhan, bantulah aku untuk menata hirarki kepentingan hidupku supaya semakin lama aku semakin bebas untuk hidup seturut apa yang Kaukehendaki, dan bukan semata apa yang kuinginkan. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA II
3 Maret 2015

Yes 1,10.16-20
Mat 23,1-12

Posting Tahun Lalu: Tobat Lebih dari Sekadar Kapok