Why Forgive?

SABTU PRAPASKA II

Mi 7,14-15.18-20
Allah manakah seperti Engkau yang mengampuni dosa, yang memaafkan pelanggaran yang dibuat oleh sisa-sisa milik-Nya sendiri, yang tak murka selamanya tetapi berkenan mewujudkan kasih setia? Engkau melemparkan segala dosa kami ke dalam tubir-tubir laut…

Luk 15,1-3.11-32
Mengenai teks Injil Lukas ini sudah disampaikan komentar atas pertobatan dalam posting What Do You Mean by Conversion” dan “OTW: Oke Tobat Wae“. Poinnya: tobat itu soal solider dengan Allah dan bukan sekadar perkara sentimentil melihat kelemahan diri.

Pengampunan rupanya hanya bisa dipahami dengan “logika cinta”. Tragisnya, hubungan formal legalistik (termasuk bisnis, bahkan institusi pendidikan) cenderung merenggut “logika cinta” itu. Perumpamaan bapa yang baik hati ini menjadi contohnya. Basic attitude sang ayah: si sulung adalah anak yang dikasihinya. Basic attitude si sulung: bapa adalah majikan! Yang satu hubungan kasih, yang lainnya relasi bisnis.

Sulit bagi anak sulung itu memahami cinta bapanya. Mengapa? Karena rupanya ia tidak mengalami pengampunan. Apakah ayahnya itu tidak mengampuni? Bukan begitu. Justru dialah sosok Allah pengampun dalam bacaan pertama. Apakah anak sulung itu perlu berbuat seperti adiknya dulu supaya mengalami pengampunan? Justru tidak! Mengapa?

Kalau orang menempuh jalan seperti si bungsu, ia memahami tobat melulu sebagai ‘kapok melakukan sesuatu‘ (yang belum terjamin juga apakah ia akan mengulanginya atau tidak). Paling banter, ia hanya akan mengerti bahwa ia diampuni Allah. Tanpa berbuat durhaka pun orang tahu bahwa pengampunan pastilah diberikan Allah kepada orang yang bertobat (Kalau orang tak bertobat, sekurang-kurangnya ia tak merasa butuh pengampunan atau merasa tak berdosa)

Dari anak sulung dituntut suatu kualitas pertobatan yang memungkinkan orang mengalami pengampunan secara komplet: diampuni justru dengan mengampuni. Kok bisa? Ya bisa: kalau ia mau mengampuni adiknya, ia merengkuh basic attitude ayahnya. Tak masalah bahwa sebelumnya ia cemberut, menggerutu atas sikap ayahnya yang pengampun. Basic attitude yang diterapkan terhadap ayahnya tidak jadi keprihatinan lagi. Yang penting sekarang ini ia mau merengkuh basic attitude ayahnya: masuk dalam pesta.

Perubahan basic attitude itulah pertobatan si sulung dan pertobatan itu menuntut perwujudannya: mengampuni adiknya supaya sang ayah menjadi bapa bagi semua dan Allah tentulah bersukaria atas pertobatan seperti inI.

Ya Allah, lembutkanlah hati kami jadi seperti hati-Mu yang maha pengampun. Amin.

5 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s