Agama Tak Menjamin Moral; Ngapain  Beragama?

Tidak ada hubungan logis antara agama dan moralitas. Orang beragama (baik) tidak otomatis bermoral baik dan orang bermoral (baik) juga belum tentu beragama. Banyaklah contohnya. Tak perlu dituliskan di sini contoh dan argumentasinya.

Wah, trus apa gunanya beragama dong, Bray?
“Ya kagak ada, Coy!” *gubraaaakkkk

Tentu itu jawaban lebay bin alay; kalau gak ada gunanya, bagaimana mungkin ada agama yang bertahan ribuan tahun?! “Haiya, itu karena agama jadi candu,” kata para pecandu Karl Marx! Lah, kalau agama sampai jadi candu, berarti ada gunanya dong. Untuk pengobatan atau pelarian, itu lain soal. Maka dari itu dikenal istilah penyalahgunaan, dan agama pun bisa jadi objek penyalahgunaan, kan? [Maka kalau mau membela agama, perjuangkanlah supaya agama tidak di-abuse!]

Jadi, kembali ke pertanyaan: apa gunanya beragama? Untuk apa beragama?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari pertimbangkan lagi azas dan dasar: bahwa manusia dicipta oleh Tuhan dan pada saatnya nanti juga kembali kepada-Nya. [Kalau azas ini ditolak, silakan ke laut dan berenanglah entah ke mana tapi jangan kembali lagi ke darat. Syukur-syukur Anda bertemu Paus Fransiskus, misalnya, karena dia masih bisa berdialog dengan kaum ateis!] Dari proses penciptaan sampai kembalinya kepada Sang Khalik, manusia butuh sarana untuk menghubungkan dirinya dengan Tuhan. Apakah ciptaan di dunia ini yang mengakomodasi relasi ‘vertikal’ manusia dengan Tuhan? Pasti bukan moralitas, karena moralitas hanyalah solidaritas horisontal: sesama manusia jangan nyolong hartaku, susah carinya, tau gak! Jangan ngibulin aku, jangan selingkuh, sakitnya tuh di sini kalau dikhianati! Ini semua di wilayah relasi horisontal.

Sekarang, mari perhatikan: jika Tuhan memang ada, berapa besar korupsi yang kita lakukan di Indonesia ini pun, gak ngaruh ke Dia. Dia ya tetap Tuhan. Berapa ribu kepala sudah kita penggal pun, Tuhan tidak mempersoalkannya karena itu bisnis di dunia ini. Singkatnya, bagaimanapun moralitas kita di dunia ini, hanya akan berpengaruh pada misalnya pengadilan, penjara, bencana alam, kebakaran, balas dendam, hubungan internasional, tetapi tak ada hubungannya dengan dunianya Tuhan!

Jika Anda bereaksi (negatif) terhadap pernyataan-pernyataan terakhir ini, dalam diri Anda ada indikator bahwa moralitas secara psikologis terhubung dengan Tuhan. Dari mana Anda mendapat pengertian mengenai Tuhan? Dari agama! Kalau begitu, sarana penghubung antara manusia dan Tuhan tadi adalah agama, entah agama Timur, agama Barat, agama primitif, agama modern, agama individual, agama kolektif, atau bagaimanapun mau diistilahkan. Agama inilah yang menjadi sarana ikatan manusia dan Tuhan yang dipercayainya.

Loh, tetapi mengapa orang beragama hidupnya gak karuan, gak bermoral?

Lah kok malah balik lagi; kan sudah dijelaskan: memang tak ada hubungan logis antara agama dan moralitas. Yang ada hanyalah hubungan psikologis: orang beragama secara psikologis didorong untuk bermoral baik. Kalau beragama tetapi ternyata tidak bermoral baik, berarti secara psikologis orangnya bermasalah dan agama disalahgunakan untuk tujuan lainnya. Misalnya terorisme, korupsi dana naik haji, nilep uang Gereja dengan mudah karena posisi atau jabatan tinggi dalam agama.

Karena itu, kalau Anda mau memilih agama tertentu supaya moralitas Anda baik, lupakanlah! Agama tidak diciptakan untuk mengurusi tata ekonomi negara yang bebas korupsi atau tata hukum yang adil atau budaya yang manusiawi. Agama dibuat manusia pertama-tama untuk menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Selebihnya adalah bonus: perkembangan ilmu pengetahuan, pengakuan hak azasi manusia, moralitas yang terbuka bagi semakin banyak orang, dan sebagainya.

Jadi, maksudnya apa sih, Bray, panjang lebar begini?
Maksudnya sederhana: jangan meremehkan agama, justru karena agama sudah sering disalahgunakan dengan aneka kekerasan! Setiap orang mesti tanya pada diri sendiri (bukan menghakimi orang lain) apakah agama yang dipeluknya itu menjadi sarana yang baik untuk menjumpai Tuhannya. Kalau tidak, bukan berarti agamanya error: yang error ya orangnya itu! Dia yang memakainya salah kok malah menyalahkan agamanya [lebih parah lagi, menyalahkan Tuhannya]!

Ini ilustrasi yang diambil dari buku Teologi Seksual:

Pada suatu pagi saya mendapati tamu hotel yang siap menyantap sarapannya. Ia mengambil sebutir telur, mengupasnya, menggigit separuh dan memakannya. Kemudian ia menaburi sisa telur dengan garam dan lada. Ia mencium aroma telur berlada dan garam itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Keesokan harinya ia melakukan hal yang sama. Pada hari ketiga saya tidak dapat menahan keheranan saya atas kebiasaan aneh itu dan saya memberanikan diri bertanya pada tamu hotel itu sebelum ia membuang separuh telur ke tempat sampah.
“Maaf, Bapak. Sejak kemarin lusa saya mengamati Bapak selalu mengupas telur, memberinya garam dan lada, lalu Bapak buang ke tempat sampah. Apakah ada sesuatu dengan telur di sini?”

Tamu hotel itu memandang saya dengan sopan dan menjawab, “Iya betul, saya tidak pernah memakannya karena saya tidak suka telur dengan garam dan lada.”

Bisa jadi orang mengalami krisis dalam hidup beragama karena ia sendiri salah dalam menghayati agamanya: selalu melihatnya sebagai kewajiban dan aturan, tidak melihatnya sebagai sarana untuk kontak dengan Bos yang sesungguhnya (yang kerap kali terdeteksi kalau orang masuk ke kedalaman dirinya).

7 replies

  1. Selamat pagi rama Andreas. Hehe maaf baru baca padahal sudah seminggu tulisan ini di-upload ke dunia maya. Pertanyaan saya mengenai ilustrasi dari Teologi Seksual. (Wah aku ki kakean takon!) Kalau si tamu memang tidak suka makan telur rebus dengan garam dan lada, mengapa dia dengan sadar menaburkan garam dan lada pada telur itu?
    Lalu, apa kaitan ilustrasi telur itu dengan penghayatan agama yang salah? Hehe…

    Like

    • Lha pertanyaanmu itu kan yang dilontarkan si pelayan hotel toh? Kalo Bapak gak suka kok malah naruh garam sama lada???
      Justru itulah, dia menciptakan sesuatu yang tidak disukainya. Seringkali orang menyalahkan situasi di luar dirinya, seolah-olah masalah itu ada di luar sana… padahal dia sendiri yang menciptakan situasi itu.
      Agama pun sering diabuse utk kepentingan politis, misalnya; lalu orang sadar ternyata agama tak membantu, bahkan Tuhan juga gak berperan apa2 dlm perjuangan politiknya… loh, siapa suruh memakai agama utk kepentingan politik? Kalau gagal, kok malah agama yang disalahkan? Kenapa Tuhan yang disalahkan tidak menjawab doa padahal orang berdoa menyumpah menyerapah supaya prabowo disambar petir misalnya… ini doanya yang salah dong, bukan Tuhannya, bukan agamanya…
      Begitu saja ya nggih, kalau butuh keterangan lagi ya nanti ditambah, hehe…

      Like

      • Ou jadi seringkali masalah dimunculkan oleh orang itu sendiri sehingga dia menjadi orang yang bermasalah ya karena belum tentu masalah bersumber dari luar diri. Lalu apakah jika seseorang selalu melihat ke dalam dirinya sendiri akan membuat orang tersebut memiliki kecenderungan rendah diri, rama?

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s