Hidup Kok Serba Nyaman…

Bacaan pertama dari Kitab Nahum menubuatkan kehancuran Ninive (padahal Nahum berarti penghibur loh), musuh kerajaan Yehuda, 612 sebelum Masehi (kalau tak salah ingat). Nubuat ini tampaknya diharapkan oleh warga kerajaan Yehuda. Syukurlah kalau musuhnya hancur! Kalau perlu, kita desak Allah supaya menghancurkan musuh kita (loh kok jadi kayak kubu mantan calon presiden saja: yang satu mengharapkan kejatuhan yang lainnya, yang lainnya menantikan hancurnya yang satu).

Memang, pada umumnya orang menonton film atau membaca cerita, orang punya simpati kepada protagonis dan maunya tokoh antagonis itu menyadari kesalahannya, bertobat, atau kembali ke jalan yang benar. Jika tidak, ya sebaiknya tokoh antagonis itu dikalahkan, syukur-syukur kecurangan-kecurangannya dibongkar dan tokohnya dihukum atau kalau perlu dibunuh saja. Dalam kenyataan konkret, pola itu juga bisa berlaku: maunya tokoh antagonis itu ya biar lenyap saja deh dari muka bumi, mbok ya legowo, eling, dan semacamnya.

Akan tetapi, melanjutkan wacana kemarin, dalam bacaan Injil hari ini Yesus menunjukkan kesejatian hidup sebagai pengikut Kristus. Kemarin ditunjukkan bahwa Petrus dikaruniai Roh Kudus untuk menyingkap identitas Yesus sebagai Mesias, tetapi tak lama kemudian ia dihardik sebagai setan! Kenapa? Karena ia berpikir melulu dalam tataran manusia, tidak mencoba memahami bagaimana Allah ‘berpikir’. Bagaimana pikiran Allah? Diuraikan hari ini: pikul dong salibmu untuk mengikuti Kristus!

Apa salib kita? Ya entahlah, tiap orang punya salibnya masing-masing seturut konteks hidupnya, sejauh ia keluar dari self-centered life. Jika hidup orang semata berpusat pada kepentingan dirinya, semua hal di dunia akan diarahkan supaya dirinya nyaman, tak ada kesusahan, tak ada tantangan, tak ada makna. Maka, justru kalau hidup orang serba nyaman tanpa tantangan, ia perlu segera bertanya apakah ia sungguh-sungguh sedang mengikuti Kristus atau mengikuti fulus ke mana ia pergi.

Ya Tuhan, bantulah aku supaya semakin mampu meletakkan kesusahan hidup sebagai jalan untuk menjumpai Engkau dan membiarkan Engkau sendiri yang menuntaskan pekerjaan berat yang perlu kuhadapi.


JUMAT BIASA XVIII
Peringatan Wajib St. Dominikus
8 Agustus 2014

Nah 1,15;2,2;3,1-3.6-7
Mat 16,24-28

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s