Kenapa Gairah Melemah

Nyawa kita ini tak ada faedahnya sampai ia diberikan secara total kepada ‘yang lain’. Itu mengapa relasi dengan ‘yang lain’ itu menjadi kunci bagi dinamika gairah hidup seseorang.

Di downtown Chiang Mai ini, seseorang menyodorkan name card unik. Nomer hapenya ada, tetapi gak ada namanya. Logonya full colour dan memenuhi kartu: gambar wanita telanjang. Tetooot… (kenapa gak saya catat nomernya ya; siapa tahu ada yang membutuhkan). Si pemberi kartu ini pergi begitu saja setelah memberikan kartu itu, tetapi entah bagaimana ketika saya berjalan pulang kok tahu-tahu ia sudah berjalan di samping saya. Tak paham apa yang diomongkannya, saya cuma bilang “no, tengkyu”.

Janjane duit ya ada, tapi bagi orang seperti saya ini (dan kebanyakan orang lain) untuk apa ya? Untuk membantu orang miskin? Nonsense alias omong kosong. Untuk memuaskan gairah? Pertanyaannya: apa akan pernah puas, atau malah mencampakkan orang pada sex addiction? Untuk sekadar tahu? Hmmm… saya tahu di Amerika ada salju meskipun saya belum pernah ke sana. Haiya, itu kan mengandaikan sumber infonya bisa dipercaya dan lagipula pengetahuan itu terbatas sifatnya, tidak utuh. Betul, Brow, tetapi juga pengalaman tidak membuat orang jadi tahu secara utuh begitu saja. Tanyakan saja pada pasutri yang mungkin setiap hari 24 kali gituan: apakah dengan itu mereka saling memahami? Ada juga malah yang baru seminggu kawin lantas pergi menghilang begitu aja, gak jauh beda dengan relasi via name card itu tadi.

Hidup ini begitu misteriusnya sehingga tak mungkin bisa dimengerti secara utuh hanya dengan modal curiosity (bahkan jika hidup itu mau direduksi sebagai dimensi seksualitas saja). Yesus dengan enteng bertanya: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Persoalannya tidak terletak pada objek curiosity, tetapi pada orientasi ‘nyawa’ itu. Kembali ke atas: nyawa kita ini tak ada faedahnya sampai ia diberikan secara total kepada ‘yang lain’. Yang lain itu bisa diisi dengan siapa pun, pokoknya bukan ego kita sendiri. Itulah yang membuat gairah hidup takkan pernah surut.

Loh, Rom, justru karena saya ini kerja demi menyenangkan ortu malah saya jadi gak bersemangat je; justru sekolah di sekolahan berasrama karena disuruh orang tua ini saya jadi gak betah; justru karena kerja demi anak-anak jalanan ini bikin saya frustrasi!

Sori, Brow! Jujur ya, betulkah Anda bekerja untuk menyenangkan ortu? Betulkah kamu sekolah karena mau membanggakan orang tua? Betulkah dia bekerja demi anak-anak jalanan?
Tidak betul-betul!!!
Anda tidak bekerja untuk menyenangkan orang tua, Anda bekerja tetapi mencari kesenangan Anda sendiri, maka Anda tidak krasan. Kamu sekolah tidak untuk membuat orang tua bangga, tetapi sementara sekolah kamu cuma mencari apa yang menyenangkan hatimu belaka. Ia tidak bekerja demi anak-anak jalanan, tetapi demi memenuhi tugas perkuliahannya!

Yang membuat gairah hidup ini mlempem adalah orientasi narcisistik orang. Orientasi kepada ‘yang lain’ menyalakan gairah. Memang, jika ‘yang lain’ itu adalah sosok ortu, teman, pacar, bos, dan sejenisnya, gairah kita bisa dihantam oleh gairah mereka; tetapi sekurang-kurangnya, orientasi kepada ‘yang lain’ itu bisa menjadi starter

Lha, kalau mau versi yang lebih utuh daripada starter, ‘yang lain’ itu perlu dijadikan transenden: yaitu Allah sendiri. Ini tidak muluk-muluk, memang begitu yang dikatakan dalam bacaan pertama: hanya Dialah yang sungguh-sungguh ‘lain’. Dialah yang bisa disebut ‘Yang Lain’ yang sesungguhnya. Tidak bisa kita jadikan objek, tetapi merasuki seluruh gairah hidup kita: aku melakukan A B C D E bukan untuk memenuhi aneka kebutuhan ekonomis atau psikisku, tetapi mesti ada kontribusinya untuk ‘yang lain’, seberapa pun kecilnya, tetaplah kontribusi.

Ya Tuhan, semoga aku semakin terbebaskan dari aneka cinta diri dan api dari dan untuk-Mu tetap menyala melalui kerjaku. Amin.


HARI JUMAT BIASA XVIII B/1
7 Agustus 2015

Ul 4,32-40
Mat 16,24-48

Posting Tahun Lalu: Hidup Kok Serba Nyaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s