Panggilan Skripsi

Orang lapar maunya kenyang, orang miskin yang gak muluk-muluk maunya bisa cukup sandang pangan papan, orang fundamentalis atau teroris maunya semua orang hidup seperti yang ia ideologikan, mahasiswa ‘abadi’ maunya tugas akhirnya selesai (begitu saja tanpa mengerjakannya?), orang sakit maunya sembuh, dan sebagainya. Pokoknya, penderitaan senantiasa cenderung dihindari, bahkan pelepasan dari penderitaan itu juga bisa dijadikan doktrin religius.

Yesus, wong edan satu itu, tidak mengikuti hukum umum. Itu sekurang-kurangnya yang diajarkan oleh penulis Injil pada abad pertama Masehi. Waktu itu jelas pengikut Yesus mendapat tentangan keras dari orang Yahudi sendiri terutama berkaitan dengan tafsir mengenai siapa itu Mesias. Banyak pertanyaan kritis dilontarkan orang Yahudi kepada pengikut Yesus (yang sebagian juga orang Yahudi sendiri sih) dan pengikut Yesus itu kesulitan menjawabnya. Kenapa? Soalnya sejak kecil memang mereka sudah akrab dengan tradisi Yahudi dan salah satu poin yang tak tergoyahkan dari keyakinan mereka ialah bahwa Mesias senantiasa identik dengan kemuliaan, kejayaan, kemenangan, kebesaran, kemegahan, kekayaan, dan sejenisnya. Agama resmi saat itu jelas mengajarkan bahwa Mesias bukan sosok lemah: Ia mesti mulia dan menang!

Rasa saya, ajaran itu sih oke-oke saja. Gak enak juga rasanya mengikuti pemimpin yang letoylemes, kalahan melulu, gak bertenaga, gak keliatan hebat-hebatnya. Problemnya tidak terletak pada keyakinan orang Yahudi mengenai karakter Mesias yang mulia dan menang itu. Masalahnya, orang Yahudi yang menyerang pengikut Yesus itu tidak memiliki kepercayaan pada kebangkitan Yesus. Itu saja. Alasannya sederhana: kalau mereka percaya pada kebangkitan, tentu saja mereka melihat kemenangan dan kejayaan Yesus mengatasi kematian. Ini mempermalukan mereka sendiri dong! Mereka mesti ngotot bahwa Yesus tidak bangkit dan berarti ia selesai dengan kematian, dan pasti Mesias bukan sosok yang kalah oleh kematian! Kematian adalah skandal besar untuk seorang Mesias (bdk. 1Kor 1,23). Dalam konteks itu kita bisa mengerti mengapa Petrus bereaksi negatif terhadap wacana Yesus mengenai nasibnya (bdk. Mrk 8,32).

Teks hari ini mengisahkan pengalaman dahsyat beberapa murid Yesus di Gunung Tabor, yaitu ketika Yesus menampakkan kemuliaan Kristus bersama Nabi Elia dan Musa. Sewaktu melihat itu, Petrus campur aduk rasanya lalu menawarkan untuk mendirikan tiga tenda. Dikatakan bahwa Petrus tidak mengerti mau omong apa, tetapi itu bisa dimaklumi karena saat itu adalah hari terakhir ‘Pesta Tenda’ yang populer dirayakan orang Yahudi untuk mengenang turunnya Taurat dan masa terbebasnya mereka perbudakan di Mesir. Kalau tidak bisa bikin tenda selama enam hari, minimal hari terakhir orang bisa melakukannya. Petrus tentu mengingat hukum itu. Maka, ia melontarkan usul untuk mendirikan tiga tenda supaya Yesus bisa melanjutkan bincang-bincangnya dengan Musa dan Elia. Akan tetapi, ternyata tinggal Yesus yang ada di situ. Ini bukan zamannya Musa dan Elia; dan bersamaan dengan itu malah Yesus menyatakan lagi nasibnya bahwa ia akan dibunuh.

Itu simbolik sekali: kejayaan, kemuliaan Mesias tidak terletak pada hilangnya penderitaan, melainkan justru melalui, bahkan dalam penderitaan itu sendiri. Yesus tidak mengatakan supaya orang cari gara-gara, cari penyakit, dan cari penderitaan. Penderitaan itu konsekuensi hidup manusia dan ia mengundang pengikutnya mengantisipasi kemuliaan Mesias dalam penderitaan mereka. Kemuliaan pengikut Kristus justru terletak dalam jerih payah, kesusahan hidup mereka untuk menuntaskan panggilan: siswa ya belajar, guru ya (belajar) mengajar, mahasiswa akhir ya menyelesaikan tugas akhir, pemimpin politik ya mengupayakan kesejahteraan umum, pemimpin agama membuka kekerasan agamanya, dan sebagainya. Itu pasti tak enak, susah, membosankan, dan sebagainya…. tapi justru di situlah keping lain bisa dialami: kemuliaan, kejayaan, kelegaan, kebahagiaan, panggilan Allah sendiri.

Ya Tuhan, semoga aku semakin bertekun memenuhi panggilan-Mu. Amin.


PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAANNYA
(Kamis Biasa XVIII B/1)
6 Agustus 2015

Dan 7,9-10.13-14
Mrk 9,2-10

Posting Pesta Transfigurasi Tahun 2014: Narsis Gak Eaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s