Jangan Meremehkan Insha’ Allah

Memang ada perbedaan tipis antara penuh harapan dan optimis, antara berani dan nekad. Orang optimis belum tentu punya harapan, dan orang nekad belum tentu juga punya keberanian (meskipun keduanya bisa tampak menggebu-gebu).

Bacaan pertama mengisahkan spionase bangsa Israel terhadap wilayah Kanaan yang menjadi tanah terjanji bagi mereka. Para agen pengintai itu sepakat bahwa Kanaan adalah wilayah yang subur makmur dan sangat menjanjikan. Akan tetapi, agen yang satu segera mengatakan bahwa bangsa Israel tak bisa menduduki wilayah itu karena tanah Kanaan itu dikuasai oleh ras raksasa yang memakan penduduk mereka sendiri. [Kisah Daud vs Goliat belum ada di kepala mereka tentu saja] Sebaliknya, Kaleb dan Yosua mengatakan bahwa mereka akan mengalahkan orang-orang Kanaan.

Apakah yang dilihat mata-mata itu berbeda? Tidak. Mereka sama-sama melihat indahnya Kanaan dan begitu menjanjikan. Kaleb dan Yosua pun pasti tidak buta untuk melihat kanibalisme sebagian orang di Kanaan itu. Yang berbeda adalah cara melihat mereka dan, maaf, ini bukan soal berpikir positif atau negatif. Agen pengintai yang satu berpikir dengan kerangka optimisme-pesismisme atau kekuatan-kelemahan. Hasilnya, mereka berpikir negatif: Israel takkan bisa menduduki Kanaan.

Kaleb dan Yosua tidak tinggal dalam kerangka pikir positif-negatif. meskipun hasilnya positif. Mereka melibatkan Allah dalam cara mereka memandang hidup ke depan: kita pasti akan merebut Kanaan jika Tuhan menghendakinya. Alias, Insha’ Allah kita merebut tanah yang dijanjikan Tuhan itu! Ini hasil positif yang munculnya bukan karena mereka berpikir positif, melainkan karena mereka menaruh harapan kepada Allah yang lebih besar daripada planning mereka sendiri.

Hal yang sama ditunjukkan oleh perempuan Kanaan yang menjumpai Yesus untuk meminta kesembuhan anaknya yang kerasukan setan. Terhadap perempuan pagan ini tanggapan Yesus tidak simpatik, tetapi justru perempuan itulah yang dengan segala daya upayanya menyodorkan motif yang lebih universal: keselamatan tak mungkin hanya dibatasi oleh suku-suku Israel. Perempuan Kanaan ini jelas punya keyakinan bahwa Yesus mampu mengusir setan dari anaknya. Ia sudah mendengar cerita mengenai hal itu. Sekarang, ia tinggal punya harapan bahwa Yesus itu berkenan melakukannya. Maka, bahkan meskipun tidak secara eksplisit, ia menyatakan insha’ Allah.

Frase itu tidak mengurangi hasrat orang akan sesuatu, tetapi membantu orang untuk meletakkan hidupnya dalam penyelenggaraan ilahi. Sebaiknya frase ini tidak dipermainkan. Kapan orang mempermainkannya? Ketika ia tak punya relasi pribadi dengan-Nya, atau ketika ia memakainya sebagai slogan belaka.

Ya Tuhan, semoga aku semakin Kaumampukan untuk meletakkan hidupku dalam penyelenggaraan-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XVIII B/1
5 Agustus 2015

Bil 13,1-2a.25; 14,1.26-29.34-35
Mat 15,21-28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s