Insha’Allah…

Seorang teman dari Siria, Katolik, setiap kali berjumpa selalu menyapa dengan ungkapan assalamu’alaikum (karena tahu saya berasal dari Indonesia). Kebetulan kami satu kelompok kegiatan dan setiap kali kami membuat kesepakatan, dia selalu menjawab (sambil melihat saya) insha’Allah. Yang mengherankan, dia adalah teman kelompok yang paling berkomitmen dan antusias dengan kegiatan kelompok!

Memang ungkapan insha’Allah secara sepintas terkesan mengurangi semangat, greget seseorang. Apalagi kalau melihat penuturnya cuma latah: bibirnya mengucapkan insha’Allah tapi tak mau disiplin, tak mau tepat waktu, tak punya perencanaan, serba spontan, seolah-olah dirinya sendiri adalah Allah yang seenak perutnya sendiri membatalkan janji atau menentukan nasib orang lain. Pada kasus begini, insha’Allah hanyalah pelarian diri dari kemalasan orang dan Allah menjadi kambing hitam bagi apa saja. Pokoknya, hidup ini sepenuhnya bergantung pada Allah sendiri, Dia sudah menentukan segala-galanya [maka kalau aku malas ya itu karena Allah sudah menentukan aku malas!] (bdk. posting Allah di Kalijodo). Tentu ini bukanlah makna insha’Allah yang sesungguhnya.

Al-Ghazali, misalnya, menyebutkan makna insha’Allah bukan sebagai ungkapan keraguan, melainkan ungkapan yang menunjukkan (1) sikap kerendahan hati umat beriman, (2) harapan positif seperti tertuang dalam Quran dan hadits, serta (3) kesempurnaan iman seseorang (yang pasrah kepada Allah). Pada akhirnya sih memang kembali kepada masing-masing orang yang mengucapkannya. Orang bisa saja latah dan munafik. Akan tetapi, kata insha’Allah pada pokoknya tidak perlu ditangkap sebagai ungkapan keraguan atau kelesuan niat umat beriman.

Sayang, terjemahan bahasa Indonesia jadi terlalu panjang dengan 8 suku kata “jika Tuhan menghendaki”. Bisa lebih pendek dengan bahasa gaul, kalo’ Dia mau, tapi apa orang yang omong begitu itu gaul beneran sama Tuhan? Bahasa Itali mungkin lebih enak: se Dio vuole… Bagaimanapun rumusannya, yang penting adalah tiga pokok yang disebut al-Ghazali tadi, bahwa manusia sebagai ciptaan mestilah pasrah sumarah kepada Sang Pencipta dalam berjerih payah di dunia ini.

Kepasrahan kepada Pencipta memungkinkan umat beriman untuk tidak memandang kenyataan secara sempit: Tuhan punya banyak cara untuk bekerja, untuk mencipta. Artinya, bahkan untuk keselamatan manusia pun, Dia punya aneka jalan meskipun kita mesti meyakini jalan yang kita tempuh sebagai satu-satunya jalan keselamatan bagi kita (ini sejalan dengan poin keempat dari azas dan dasar). 

Begitulah paradoks orang beriman: semakin mendalam, semakin mampu melihat rahmat dalam keberagaman, bukannya malah memaksakan keseragaman (orang lain harus seperti saya atau seperti yang saya pikirkan)!

Tuhan, semoga kami semakin jeli menangkap suara-Mu juga melalui tradisi yang berbeda. Amin.


RABU BIASA VII A/2
26 Februari 2014

Yak 4,13-17
Sekarang hai kalian yang berkata “Hari ini atau besok kami akan berangkat ke kota anu dan kami akan tinggal setahun dan berdagang dan mendapat untung”, padahal kalian tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kalian itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap. Sebenarnya kalian mestinya berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu…”
Mrk 9,38-40
Suatu kali Yohanes berkata kepada Yesus, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena dia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus, “Jangan kamu cegah dia, sebab tak seorang pun yang membuat mukjizat demi nama-Ku pada saat bersamaan mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s