Jangan Tidur Melulu Dong!

Edith Stein terlahir dari orang tua Yahudi dan terdidik dalam tradisi Yahudi tetapi sebagai orang muda, selama beberapa tahun menjadi ateis dan kemudian malah memeluk agama Katolik setelah membaca tulisan-tulisan Santa Teresia dari Avilla dan kemudian menjadi suster biarawati ordo Karmelit. Namanya menjadi Teresia Benedikta dari Salib, yang hari ini diperingati oleh Gereja Katolik.

Mengapa otoritas Gereja Katolik membuka proses kanonisasi Edith Stein? Nada sinis bisa disodorkan: ada ikatan primordial antara Paus Yohanes Paulus II dan Edith Stein, sama-sama ‘berbau’ Polandia. Tak mengherankan Edit Stein dibeatifikasi sebagai martir pada 1 Mei 1987 dan 11 Oktober 1998 dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Akan tetapi, terlalu naiflah menganggap ikatan primordial itu sebagai alasan pokok. Mari lihat foto ini:

seragam

Entah apa yang dipikirnya mengenai atribut NAZI bendera Jerman di lengan bajunya, tapi tampaknya pemakai atribut itu kurang mengerti bahwa lambang tersebut menjadi aib terbesar pada abad lalu: Edith Stein adalah satu dari sekian juta orang yang menjadi korban seorang megalomania yang memakai lambang tersebut.

Bacaan Injil alternatif hari ini ialah Injil Matius 25,1-13 mengenai perempuan bijak dan bodoh yang menanti kedatangan mempelai. Ada perubahan jadwal dan semua pagar ayu tidur. Mereka bangun karena ada teriak kedatangan mempelai. Entah minyaknya masih ada atau hampir habis, kesepuluh perempuan itu gak punya planning mengenai perubahan jadwal kedatangan mempelai sehingga memilih tidur: kembali ke kenyamanan pribadi, tanpa greget idealisme untuk bersiaga menanti ‘sang mempelai’.

Things were in God’s plan which I had not planned at all.  I am coming to the living faith and conviction that—from God’s point of view—there is not chance and that the whole of my life, down to every detail has been mapped out in God’s divine providence and makes complete and perfect sense in God’s all-seeing eyes (St. Teresia Benedikta dari Salib).

Edith Stein dibeatifikasi bukan semata-mata karena menjadi korban NAZI. Ia menghidupi sikap Gereja Katolik yang mengecam NAZI. Ia mendengar teriakan ‘kedatangan mempelai’ dalam kekerasan NAZI dan mengambil sikap yang tegas. Ketegasan dalam iman itulah yang membuatnya pantas diproses kanonisasi: bukan sebagai korban, melainkan sebagai pelaku iman.

Teriakan ‘kedatangan mempelai’ selalu ada: perang di jalur Gaza, bencana kelaparan, sandiwara politik, sampai aneka ketegangan kecil dalam jangkauan hidup harian setiap orang. Tapi kalau orang tidur terus, teriakan itu hanya terdengar dalam mimpi. Tanpa kesiapsediaan ala Edith Stein, orang tidak menunjukkan sikap iman yang konkret: beragama iya, tapi tak jelas memihak Tuhan atau megaloman!


SABTU BIASA XVIII A
Peringatan St. Teresia Benedikta dari Salib
9 Agustus 2014

Hab 1,12-17;2,1-4
Mat 17,14-20

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s