Bisnis Hangat, Keluarga Dingin?

Menurut bacaan pertama Allah membuat perjanjian baru dengan umat-Nya. Ini pasti bukan perjanjian bisnis atau politik (yang sangat mungkin dipenuhi relasi semu nan dingin: demi target, perusahaan harus begini, negara harus begitu, maka karyawan harus berbuat ini dan pegawai negeri harus berbuat itu). Perjanjian ini juga tidak eksklusif seperti perjanjian di Gunung Sinai sekeluarnya bangsa Israel dari Mesir. Ini adalah perjanjian baru yang inklusif bagi seluruh umat manusia, yaitu perjanjian rahmat. Maksudnya apa mas brow?

Dalam perjanjian di Gunung Sinai dulu itu kan si Tuhan menyodorkan tanah Kanaan sebagai tanah terjanji (juga segala macam kekayaan tetek bengeknya; bdk. ayat 32). Yang ditawarkan itu barang fisik. Trus, perjanjian di Sinai dibuat secara ‘sepihak’: Nih, Kukasih surat perjanjian, gak usah nawar! Bangsa Israel terima jadi saja, entah mereka bisa memenuhinya atau tidak. Tak heran, yang melanggar perjanjian itu ya selalu manusia: merekalah yang melakukan perzinahan rohani, lalu kena hukuman.  

Perjanjian baru dalam bacaan pertama ini tidak menyodorkan benda fisik, melainkan pengampunan, damai, rahmat, budi dan hati yang baik. Memang sih sebetulnya perjanjian ini juga dibuat ‘sepihak’ tetapi di sini Allah menanamkan chip dalam diri manusia sendiri; dan itulah yang membuat perjanjian itu inklusif bagi siapa saja: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku (ayat 33). 

So, hidup dalam perjanjian baru berarti membiarkan hidup dibimbing bukan hanya oleh hukum eksternal, melainkan juga lebih-lebih oleh chip yang telah ditanamkan Allah sendiri: Roh Kudus. Ya memang sih, bisa terjadi chip itu error seperti dialami Petrus dalam bacaan Injil hari ini. Dia yang menjawab dengan tegas bahwa Yesus adalah Mesias, tapi dia juga yang ngotot bahwa Mesias itu anti hidup susah dan menderita! Yesus sampai menghardiknya sebagai setan (ayat 23). 

Jadi, chip itu error jika kita ngotot bahwa selamat itu harus berarti hilangnya penderitaan, kesusahan atau problem. Problem kantor tentu ada, masalah rumah tangga bisa datang silih berganti. Akan tetapi, rumah tangga dibangun untuk menciptakan ajang cinta yang menghangatkan anggota-anggotanya. Maka dari itu, apapun kesulitannya, chip cinta itu mesti lebih diwujudkan di rumah, daripada mencari outlet-nya di kantor! Syukur-syukur relasi di tempat kerja tidak sekadar relasi bisnis; tetapi kalau dalam keluarga dikembangkan relasi bisnis sehingga suasana dingin dan sebaliknya di tempat kerja malah hangat…. mungkin perlu diwaspadai, jangan-jangan dibutuhkan exorcist, haaaa…

Tuhan, semoga kami tak mengacaukan cinta-Mu dengan bisnis kepentingan diri kami. Amin.


KAMIS BIASA XVIII
7 Agustus 2014

Yer 31,31-34
Mat 16,13-23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s