Ini Teman Saya

Semalam saya menyempatkan diri menonton tayangan dagelan berbintang tamu gubernur nonaktif bernama Ahok. Saya mengamati penontonnya (yang saya yakin sebagian besarnya adalah pendukung atau teman Ahok) yang sebagian besar perempuannya berjilbab dan saya andaikan itu berarti pemeluk agama Islam. Semua tahu bahwa Ahok tidak beragama Islam, tetapi penonton yang muslim itu menyimak baik-baik apa yang dikatakan Ahok. Tepuk tangan penonton, entah yang dipancing Andre atau Sule atau tepukan spontan dari penonton, saya andaikan sebagai apresiasi, antusiasme, simpati terhadap idealisme atau nilai-nilai yang dipraktikkan Ahok.

Fokus saya ada pada penonton, teman-teman Ahok, untuk memberi contoh apa artinya bahwa being religious is always being interreligious (lagi): membangun identitas religius dalam perjumpaan dengan umat beragama lainnya. Ini sama sekali bukan untuk menistakan agama Islam. Sebaliknya, saya hendak memuliakan Islam dengan contoh yang saya lihat tadi malam. Jilbab di Indonesia, bukan di Timur Tengah, sudah diidentikkan dengan keislaman, tetapi kita semua tahu bahwa keislaman yang autentik tidak bisa direduksi oleh jilbab. Orang tahu bahwa jilbab sendiri bisa disalahgunakan. Ada kriteria yang lebih fundamental bagi keislaman, yaitu misalnya bahwa orang, entah berjilbab atau tidak, menjalankan lima rukun Islam secara tulus ikhlas dan tindak-tanduknya selaras dengan lima rukun Islam itu.

Pada saat para penonton yang muslim itu terpesona oleh apa yang dijalani Ahok, mereka sebetulnya sedang melakukan proses pemahaman diri secara lebih baik lagi juga sebagai umat Islam. Misalnya saat Pak Kani, yang semula sangat anti-Ahok dan berbalik 180° mendukung Ahok, mengungkapkan keraguan dan ketakutannya bahwa Ahok akan membalas dendam dan ternyata Ahok toh secara profesional menjalankan tugas birokrasinya tanpa pandang bulu, penonton menunjukkan simpati. Ahok ditanya kenapa tidak membalas dan jawabannya masuk akal: ia jadi bupati untuk seluruh kabupaten, bukan hanya untuk daerah yang memenangkan dirinya, maka ia berkewajiban membantu juga daerah yang tidak memenangkan Ahok.

Jika apa yang dibuat Ahok itu menarik simpati penonton muslim, tentu bukan Ahoknya sendiri yang menarik simpati, melainkan nilai yang mengiringi perbuatan Ahok. Nilai itu berarti melampaui tempurung agama Ahok maupun penonton muslim. Bagi penonton muslim yang sungguh-sungguh menghayati keislamannya, tentu nilai itu diapropriasi, dipahami, dimengerti dengan perspektif agama Islam dan orang Islam yang dewasa tentu tidak akan secara naif mengalami krisis hanya karena Ahok itu Kristen: ternyata orang Kristen tidak membalas dendam bahkan meskipun mengalami peribahasa ‘air susu dibalas dengan air tuba’. Orang Islam yang dewasa akan mengasosiasikan apa yang dibuat Ahok itu dengan menggali sumber-sumber religiositas dari perspektif agama Islam. Saya hanya bisa berhenti di sini karena saya tak punya kedalaman mengenai keislaman, tetapi saya yakin, cinta yang tak mengakomodasi balas dendam itu diajarkan oleh Nabi Muhammad dan kawan-kawannya.

Di situlah letak ‘mendengarkan Sabda’ sebagaimana disodorkan teks hari ini. Orang menjadi saudara Nabi bukan pertama-tama karena ia punya hubungan darah dengan Nabi, melainkan karena ia menghayati nilai-nilai yang dihayati oleh Nabi itu sendiri. Ini bukan ndherek mulya saja, melainkan juga ikut jatuh bangun menghayati nilai, kehendak Allah.

Ya Tuhan, kami datang untuk melakukan kehendak-Mu. Amin.


SELASA BIASA III A/1
Peringatan Wajib S. Fransiskus de Sales
24 Januari 2017

Ibr 10,1-10
Mrk 3,31-35

Posting Tahun C/2 2016: Ayo Investasi
Posting Tahun B/1 2015: Non Sense-of-Belonging

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s