Bangsa Baper

Barangkali baper merupakan karakteristik umum segala bangsa, dalam arti banyak persoalan, bukan bawa perasaan. Mungkin cuma beberapa bangsa yang baper dalam arti kedua itu atau lebih persisnya lagi cuma beberapa persen dari bangsa itu yang baper. Akan tetapi, yang beberapa persen ini bisa jadi membuat gaduh karena kerjanya cuma cuit-cuit curcol bapernya atau lapor sana lapor sini mumpung ada UU ITE yang mengakomodasi kebaperan orang. Runyam kan kalau makin banyak yang baper dan pake’ UU ITE segala untuk justifikasi pribadi?

Memang frase ‘perbuatan tidak menyenangkan’ sudah dihapus dari KUHP pasal 335 ayat ke-1 (sehingga Anda yang tidak senang karena terus ditanyai kapan married, tak bisa lagi menggunakan pasal itu untuk menjerat si penanya nyinyir). Akan tetapi, sekarang ini rupanya sedang marak kata penistaan sebagai ganti baper. Ada yang merasa tersakiti karena perkataan orang lain mengenai Allah atau agama. Ini makin runyam dan kerunyaman ini tidak membuat kegaduhan itu bermakna. Yang membuat kegaduhan itu bermakna ialah jika kerunyaman itu mengundang orang untuk jujur dan terbuka pada kebenaran.

Setelah sidang kesekian kalinya kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok, sebetulnya cetha wela-wela alias jelas banget bahwa tuduhan terhadap Ahok itu tidak memuat kebenaran sehingga tak layaklah sidang itu dilanjutkan. Dulu saya begitu yakin bahwa memang tidak ada penistaan (selain kekurangpatutan saja) agama sehingga jika kasus ini masuk ranah hukum, saya khawatir, bisa-bisa kebenaran itu malah tersekap di bawah bantal atau di bawah tempat tidur, sebagaimana diilustrasikan dalam teks bacaan hari ini, karena muatan politis yang lebih kental. Pasukan brizieq itu bisa saja memberi tekanan, tetapi syukurlah, ada proses politik lain yang rupanya bekerja secara ciamik sehingga sebetulnya sekarang para hakim punya keleluasaan besar untuk mengambil keputusan atas dasar hati nurani yang mengarah pada kebenaran.

Kalau orang konsisten pada kebenaran, ia memegang keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Mungkin itu juga dasarnya Ahok berlapang hati membiarkan dirinya diproses secara hukum: biar kelihatan mana yang benar dan mana yang salah. Riskan memang, karena kekuatan jahat itu licik, tetapi syukurlah, Allah yang mahabesar, yang bukan orang Jawa itu, punya aneka macam cara supaya dari sudut yang satu dan dari sudut yang lain kebenaran itu pada akhirnya terkuak. Kalau ini terjadi, orang yang bertelinga mungkin lebih mudah mendengar: Those who deny the existence of the truth postulate the truth of their denial and plainly contradict themselves.

Kalau orang menyangkal kebenaran (bilang bahwa kebenaran itu gak ada dan karena itu gak usah ambil pusing merepotkan diri untuk menguaknya) berarti dia sendiri menyangkal kebenaran pernyataannya, bukan? Maksud hati menyangkal kebenaran, tapi apa daya butuh kebenaran untuk menyangkalnya. Mumet aku…mboh.

Ya Tuhan, bantulah para pemimpin bangsa kami supaya punya stamina dan ketekunan yang cukup untuk menuntaskan tenun kebangsaan. Semoga kami sendiri menyadari bahwa saat ini adalah momen untuk lebih berani menyuarakan kebenaran. Amin. 


KAMIS BIASA III A/1
Peringatan Wajib S. Timotius dan Titus, Uskup
26 Januari 2017

Ibr 10,19-25
Mrk 4,21-25

Posting Tahun III C/2 2016: Gerakan Agama Nusantara
Posting Tahun III B/1 2015: Ayo Berlagak Jadi Presiden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s