Tikus Agama dan Bangsa

Pernah lihat dukun komat-kamit menunggui kecambah supaya calon akar, batang dan daunnya tumbuh secara normal? Tanpa dukun, kecambah bisa tumbuh sendiri dan kalau perlu kondisi khusus, fungsi komat-kamit dukun itu sudah digantikan oleh teknologi rumah kaca. Jadi, entah orang siang malam mau pencak silat atau merapal mantra atau main sulap di hadapan kecambah bermedia cukup, kecambah itu tetap akan tumbuh dengan sendirinya. Tak bisalah dukun (baca: agama) bersikap arogan di hadapan kecambah yang punya segala potensi untuk tumbuh dengan sendirinya. Kalau ternyata tak tumbuh, ya suka-suka dia toh mau mati atau tumbuh, yang punya kepentingan bukan kecambahnya sendiri. Manusialah yang berkepentingan, maka bikin aneka rekayasa.

Aneka rekayasa itulah yang bisa jadi perkara karena rekayasa selalu berkaitan dengan kepentingan. Celakanya, kalau kepentingannya bernilai korup (SARA misalnya), rekayasanya juga korup: memilih orang-orang strategis yang potensial korup. Nanti kalau terendus modus korupsinya, sebelum bukti final ditunjukkan, bercuit-cuit ria atau berkomentar dulu: wah saya dizalimi, saya kena kriminalisasi, bla bla bla. Ini menggemaskan alias menjengkelkan, tetapi apa mau dikata, maling biasanya berdalih. Dalih itu berguna untuk menarik simpati orang yang…. naif.

Sebagian orang yang tidak naif membuat analisis terhadap rezim korup yang sekarang ini tampak mulai sedikit demi sedikit dikrikiti [tepuk tangan untuk KPK, eaaaaaa] dan menyisipi komentar teologis: Gusti boten sare alias Tuhan tidak tidur. Soal tidur atau tidaknya Tuhan, saya gak gitu ngerti, tetapi karena omongan tentang Tuhan itu senantiasa berbau metafora, pokoknya dimengerti saja tidurnya Tuhan itu tak sama dengan tidurnya manusia atau bahkan ikan yang tak pernah merem. Entah Dia tidur atau tidak, kebenaran-Nya punya jalur alternatif untuk menampakkan diri dalam waktu yang kerap kali tak terduga juga. 

Teks hari ini tidak omong soal Tuhan tidur atau tidak. Teks bicara soal situasi surgawi yang tak direcoki aneka rekayasa (agama), apalagi rekayasa yang korup! Sialnya, tak sedikit rekayasa agama yang korup karena perilaku orang-orangnya yang korup. Dari mana perilaku korup ini? Bukan dari agamanya sendiri, melainkan dari kesesatan berpikir.

Saya percaya bahwa akar terorisme bukan pertama-tama persoalan kemiskinan dan IQ rendah, wong yang terlibat di situ juga bukan melulu orang tanpa gelar akademik atau pengangguran yang dapurnya susah ngebul. Kesesatan berpikir tidak identik dengan IQ rendah, tetapi dengan pemaknaan hidup yang direcoki dengan rigiditas moral bertempurung sempit: harus dengan cara A, hanya dengan jalan B, tak ada kebenaran selain C, dan semacamnya. Jika cara berpikir orang tiba pada titik itu, ada baiknya berpikir ulang, bukan untuk menyangkal kebenarannya, melainkan melihat dengan perspektif yang lain. Lagi-lagi: being religious is always being interreligious.

Agama tentu bisa jadi pedoman, titik pijak, titik acuan Kebenaran, tapi tak pernah bisa memonopoli Kebenaran. Ini bukan soal menyeleksi insight setiap agama dan mencampurkannya (itulah yang disebut sinkretisme, yang populer untuk gerakan New Age), melainkan soal style of life yang menekankan dimensi tertentu dari relasi manusia-Allah. Kalau penekanan itu jadi klaim monopoli, Kebenaran malah terusik dan ancur ya ancur deh relasi antarmanusia.

Tuhan, mohon bimbingan kebenaran-Mu. Amin. 


JUMAT BIASA III A/1
27 Januari 2017

Ibr 10,32-39
Mrk 4,26-34

Posting Tahun C/2 2016: Tertawakanlah Diri Sendiri
Posting Tahun B/1 2015: Bedanya Burjo dan Bojo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s