Tertawakanlah Diri Sendiri

Salah satu ketrampilan komedian ialah mengubah sisi gelap kehidupan menjadi bahan tertawaan. Dari mereka kita bisa belajar bahwa bisa jadi orang jatuh atau memulai hidupnya dengan kegelapan, tetapi tak berarti bahwa kita mesti melanjutkan peziarahan hidup dengan cara seperti itu. Orang perlu mengakui sisi gelap hidupnya. Semakin kita menyangkalnya, semakin sisi gelap itu menancapkan kekuasaannya atas kerapuhan kita. Kita tak sanggup lagi menertawakan diri, tetapi terperosok ke dalam sisi gelap.

Bacaan pertama hari ini menyodorkan sisi gelap Raja Daud. Bagaimanapun itu mau dirumuskan, Daud menampilkan sosok penguasa yang jatuh dari keputusasaan dan ketakutan menuju konspirasi mematikan. Alih-alih mengakui sisi gelapnya, ia malah merancang kejahatan lain. Alih-alih mengaku bersalah telah meniduri istri Uria, ia membuat skenario untuk membunuh Uria. Allah tak berkenan pada kebusukan seperti ini, tetapi kita sudah tahu bahwa akhirnya kelak justru Daud menjadi tokoh besar dalam sejarah bangsa Israel. Sisi gelapnya bukanlah akhir sejarah.

Bacaan Injil menunjukkan kekuatan transformatif Kerajaan Allah yang bekerja tanpa sepengetahuan orang. Kerajaan Allah diumpamakan sebagai benih yang terus tumbuh tanpa harus ditunggui oleh penaburnya. Si penabur tinggal tidur saja. Ia bisa pasang kamera dengan pengaturan time-lapse, tetapi yang terlihat tentu hanyalah proses di luar bagaimana benih itu tumbuh menjadi besar. Allahlah yang memberi hidup dari waktu ke waktu tanpa orang perlu risau detilnya. Selain itu, bahkan benih yang terkecil pun bisa menjadi tanaman terbesar di kelasnya. Ini terjadi pada Daud: sisi gelap yang merundungnya toh tidak menutup harapan akan kemurahan hati Allah dan menjadikan Daud sebagai pemimpin besar.

Sebagian orang beranggapan bahwa mengakui kerapuhan adalah manifestasi kelemahan orang. Akan tetapi, jika dilakukan di hadapan Allah (juga), pengakuan kerapuhan itu justru menegaskan harapan kuat terhadap kekuasaan Allah sendiri. Harapan itulah yang memungkinkan orang berdaya upaya tanpa dihantui kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan kroni-kroninya. Semoga kita bersyukur, berbahagia karena Tuhan berkenan mentransformasi kerapuhan kita. Amin.


HARI JUMAT PEKAN BIASA III C/2
29 Januari 2016

2Sam 11,1-4a.5-10a.13-17
Mrk
4,26-34

Posting Tahun Lalu: Bedanya Burjo dan Bojo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s