Gerakan Agama Nusantara

Dulu seorang anak mesti bergantian memakai teplok dengan kakak atau adiknya untuk baca tulis di malam hari. Perkembangan teknologi memungkinkan cahaya itu bisa diakses beberapa orang secara simultan. Tentu saja, lampu baru berguna untuk baca tulis di malam hari jika diletakkan di atas meja (kecuali jika baca tulisnya di bawah meja). Intinya, ia baru berguna jika posisinya memungkinkan pencerahan bagi setiap sudut yang membutuhkan penerangan.

Bisa jadi agama kehilangan fungsi lampu itu. Pemeluk agama berpikir bahwa hidup itu hendaknya merupakan wujud dari cuatan hati. Ia mendengarkan suara hatinya, lalu mengungkapkan buah pikirannya dengan kutip sana-sini ayat-ayat suci dan mengira bahwa itulah kehendak Allah yang sesungguhnya. Orang macam ini omong, tetapi mungkin gak ngerti bagaimana mendengarkan. Ia fasih bicara, tetapi tak tahu bagaimana berefleksi. Akhirnya ia bisa berbuih-buih omong hal-hal suci, tetapi hal-hal suci itu jebulnya cuma ideologi.

Kehendak Allah, juga yang disampaikan melalui Kitab Suci, mestilah diletakkan ‘di atas’, seperti teplok atau lampu tadi. Kenapa? Supaya menjangkau setiap orang yang membutuhkan pencerahan. Tetapi, karena yang dicerahkan itu adalah orang yang berakal budi, penafsiran Kitab Suci selalu mesti terikat hermeneutika yang bersifat dua arah. Setiap saat, penafsiran seseorang terhadap Kitab Suci mesti diperbaharui seturut konteks hidupnya tanpa mengabaikan prinsip dasar universal yang hendak disasar oleh Kitab Suci: bukan ideologi lagi, melainkan pemahaman yang senantiasa terbuka pada cara-cara baru Allah berbicara kepada manusia.

Tanpa keterbukaan agama itu, orang tertipu ideologi mulia sinkretisme: ambil mana yang baik dari setiap agama, dan memadukannya dalam suatu ‘ajaran baru’. Mungkin bisa diilustrasikan sebagai pola penonton TV yang setiap beberapa menit ganti saluran demi menghindari iklan belaka, yang tak bisa menjawab (karena tidak mengerti) apa yang sesungguhnya ia inginkan. Kesempurnaan agama tidak terletak pada kebenaran mutlaknya, tetapi justru pada kemampuan otokritiknya di hadapan kemanusiaan yang universal. Semakin agama hendak memperkokoh dirinya sendiri, semakin kelihatan kerapuhannya.

Dalam bahasa Paus Fransiskus: hidup diperkokoh justru dengan memberikan hidup itu sendiri dan diperlemah dengan isolasi dan kenyamanan. Pada kenyataannya, mereka yang menggali lebih dalam potensi hidup ini adalah mereka yang meninggalkan batas kenyamanan dan begitu getol terhadap misi untuk mengkomunikasikan hidup sejati kepada sesamanya. Orang yang terserang Cinta Tuhan, takkan tinggal diam, ia mesti membagikan Cinta itu demi kehidupan sejati, bukan di dunia akhirat sana, melainkan dunia konkret sini.

Dengan begitu, setiap agama memberi kontribusi pada pembangunan identitas bangsa manusia bukan dengan membuat orang semakin fanatik, radikalis, fundamentalis; bukan dengan menyibukkan diri dengan persoalan-persoalan kesalehan pribadi, melainkan dengan mempromosikan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Nah lo, penataran P4 lagi deh…

Ya Allah, semoga aku selalu terbuka pada cara-cara baru-Mu bersabda. Amin.


HARI KAMIS PEKAN BIASA III C/2
Peringatan Wajib S. Tomas Aquino
28 Januari 2016

2Sam 7,18-19.24-29
Mrk
4,21-25

Posting Tahun Lalu: Ayo Berlagak Jadi Presiden!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s