Hidup Itu Sulit, Mati Gampang…

Tokoh kontroversial kita bulan ini, Bli Tawan, yang mengundang kemunculan para ahli teknik Indonesia di dunia maya (entah ahli beneran atau kelompok fundamentalis dalam sains) dalam salah satu wawancaranya konon mengatakan,”Hidup itu sulit, kalau mati gampang.” Saya hendak memperkaya pemahaman teks Kitab Suci dengan pernyataan Bli Tawan dan, sebaliknya, memperkaya pernyataannya dengan Kitab Suci hari ini.

Teks hari ini menyodorkan perumpamaan tentang penabur. Benih yang dia taburkan ada yang jatuh di pinggir jalan dan disantap habis oleh burung. Ada yang jatuh di lapisan tanah yang tipis sehingga tak berakar kuat dan layu. Sebagian jatuh di semak berduri dan kemudian terhimpit semak itu sampai mati. Sebagian lagi jatuh di tanah yang subur dan menghasilkan banyak buah. Benih itu adalah Sabda Allah dan jenis tanah tempat jatuhnya benih itu adalah disposisi masing-masing orang. Dalam diri setiap orang terdapat jenis-jenis tanah itu. Tepatnya, setiap orang bisa mendisposisikan dirinya sebagai pinggir jalan, tanah tipis, semak berduri, atau tanah subur.

Nah, yang paling gampang tentu saja mendisposisikan diri sebagai pinggir jalan, tanah tipis, dan semak berduri. Artinya orang tinggal membiarkan dirinya tuli terhadap panggilan Allah dalam hatinya, tinggal ikut saja kemauan orang lain tanpa meneliti batin, tinggal ikut saja arus konsumeristik, kapitalistik, pragmatik. Alias, orang dengan rela dihimpit oleh trend-trend populer yang menyokong ideologi kompetisi yang tak sehat dan karena sudah terlanjur tuli, ketidaksehatan ideologi itu sudah tak terdengar olehnya. Itu terdengar lebih mudah dilakukan. Maka, tak mengherankan bahwa dalam trend itu, jiwa manusia tak lagi berharga dan kematian prematur mudah dilakukan. Yang paling susah justru mendisposisikan diri sebagai tanah subur: mendengarkan Sabda Allah dan menerjemahkannya dalam gerak syaraf dan otot.

Hidup memang susah, Bli, tetapi tak cukup dimengerti secara ekonomis. Kalau dimengerti melulu secara ekonomis, pernyataan itu tak berlaku untuk para ahli yang sudah bergelimangan harta. Pernyataan itu bisa lebih luas jangkauannya. Sekali lagi, hanya orang-orang yang tak tahu apa yang mesti dibuat dalam hidup ini, yang begitu sibuk dengan urusan hidup kelak dan kematian demi hidup kelak itu jadi jalan tergampang. Ini tak hanya berlaku bagi teroris, tetapi bagi siapa saja yang kehilangan iman, harapan, dan cinta dalam hidup ini. Mereka yang beriman, punya harapan dan cinta, tahu benar bahwa hidup di sini memang tidak mudah. Mendengarkan Sabda-Nya, lantas merealisasikannya di tengah pacuan hidup yang keras ini, takkan pernah mudah, tetapi senantiasa membahagiakan, niscaya memberi makna dan merawat kultur kehidupan.

Ya Tuhan, semoga aku semakin mengerti untuk apa Engkau menciptakan aku. Amin.


HARI RABU PEKAN BIASA III C/2
27 Januari 2016

2Sam 7,4-17
Mrk 4,1-20

Posting Tahun Lalu: Tiga Jenis Presiden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s