Maunya Mbilung

Saya dengar ungkapan karêpé Mbilung (maunya Mbilung) sejak kecil untuk menanggapi keinginan seseorang yang mustahil direalisasikan. Mbilung adalah saudara Togog, tokoh pewayangan, yang mengabdi raja-raja jahat, tetapi punya misi untuk menjadi kritikus bagi mereka, dan sampai akhir ia gagal. Raja-raja yang ia abdi bersama Togog tetaplah mengambil jalan kejahatan.

Bacaan pertama hari ini mengisahkan teguran Nabi Natan terhadap Raja Daud yang telah merampas istri prajuritnya yang setia. Ia menegur dengan analogi kisah orang kaya merampas anak domba betina tetangganya yang sangat miskin. Tegurannya didengarkan Raja Daud yang meratapi perbuatan sesatnya dan nasib Natan gak seperti nasib Mbilung. Tentu, karena yang ditegur Natan dasarnya ya orang baik, sedangkan yang disasar Mbilung adalah sosok yang pada dasarnya jahat atau kurang genep. Tapi itu kan cerita dalam Kitab Suci dan pewayangan.

Dalam hidup nyata ini, bahkan umat beriman atau beragama pun bisa menerima teguran Natan sebagai teguran Mbilung: pertobatan diterima sebagai ilusi ideologi belaka. Itu artinya, orang belum lulus sekolah genep tadi, alias tetap ganjil. Ini tergambarkan juga dalam kisah Injil hari ini. Para murid pergi naik perahu bersama Yesus dan saat itu terjadi badai. Para murid ketakutan dan mendapati Yesus malah tenang-tenang tidur! Mereka membangunkan Yesus dengan berkata,”Engkau gak peduli ya kalau kita ini binasa?!” Eh, lha kok malah Yesus kemudian menegur mereka dengan pertanyaan,”Kenapa sih mesti takut? Kenapa gak percaya juga?!”

Poinnya tentu bukan bahwa para murid tak boleh bersibuk ria menghindarkan perahu supaya tak tenggelam, melainkan bahwa kesibukan itu mereka lakukan dalam ketakutan, dalam kekurangpercayaan. Bisa jadi mereka lebih mementingkan bahwa hidup ini berlangsung tanpa badai, tenang, nyaman, mulus, semua setuju-setuju saja, daripada hidup bersama Yesus (frase yang baik dimengerti dalam terang posting Terima Kasih Ahong). Ini tidak klop dengan iman kepada Allah yang senantiasa beserta kita. 

“Allah beserta kita” tidak menafikan badai atau tragedi kehidupanan. Allah macam ini tak mengundang orang beriman untuk memaksakan hasil mulus melalui proses yang nyaman-nyaman saja. Lebih penting menyadari kebersamaan dengan Allah dalam aneka badai hidup daripada terlekat, stuck terhadap aneka hasil yang belum tentu cocok dengan maunya Mbilung. Begitulah Bumi Manusia: Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya (Pramoedya Ananta Toer).

Ya Allah, semoga aku semakin menghargai proses bersama-Mu lebih daripada hasil akhir jerih payahku. Amin.


HARI SABTU PEKAN BIASA III C/2
30 Januari 2016

2Sam 12,1-7a.11-17
Mrk 4,35-41

Posting Tahun Lalu: Pembawa Damai nan Ceria