Cara Melupakan Masa Lalu

Jika Anda bertanya bagaimana cara melupakan masa lalu (khususnya pengalaman pahit), langsung segera dijawab di sini: tak ada. Kenapa? Karena ‘melupakan’ adalah kata kerja transitif, menuntut objek. Maka, upaya melupakan objek adalah suatu contradictio in terminis. Pada kenyataannya, semakin Anda berusaha melupakan masalah, semakin Anda memberi kekuatan kepada masalah itu untuk menghantui Anda. Alih-alih melupakan masa lalu, lebih baik orang berfokus pada jawaban pertanyaan “how to love” dan kalau jawaban pertanyaan itu ternyata adalah “melupakan masa lalu”, terjadi loop dan mungkin syarafnya mengalami status yang dikenal sebagai hang, system error!

Move on tak pernah identik dengan melupakan masa lalu. Ini soal menjalani visi ke depan yang kadang kontras dengan masa lalu. Tokoh gila kita hari ini kelihatan begitu akrab dengan tradisi masa lalu, tetapi sekaligus tak mau terkungkung oleh masa lalu itu. Mari kita lihat baik-baik apa yang terjadi padanya.

Ia memulai hidup publiknya bukan di Nazaret, tempat ia dibesarkan, melainkan di Kapernaum, yang tentu bagi orang Yahudi adalah situs orang-orang pagan alias kafir. Setelah beberapa saat berkarya di Kapernaum, ia kembali ke Nazaret dan ndelalahnya diberi kesempatan untuk mengudar Sabda Allah dari Kitab Suci. Kata-kata yang disampaikannya itu mengundang decak kagum para pendengarnya saat itu, tetapi tercatat juga reaksi lain: bukankah dia ini anak Yusuf?

Ungkapan itu tidak bernada sinis. Dalam kultur semitik, mengidentifikasi seseorang sebagai anak dari salah satu dari mereka merupakan upaya untuk memahami sesuatu dengan kerangka tradisi masa lalu. Jelas bahwa ‘anak’ adalah penerusan dari ‘orang tua’ dan ‘orang tua’ yang diteruskan oleh ‘anak’ ini adalah sosok Yusuf dan Maria yang dikenal orang sebagai keluarga yang sangat taat menjalankan tradisi keagamaan mereka. Bagaimana mungkin ia malah mewartakan sesuatu yang keluar dari pakem atau standar tradisi mereka?

Yesus mengingatkan kembali orang banyak itu pada sejarah dalam tradisi mereka sendiri: Elia membuat mukjizat bagi seorang janda di Sarfat (wilayah kafir) dan Elisa menyembuhkan menyembuhkan Naaman orang dari Siria (wilayah kafir) padahal di Israel sendiri ada begitu banyak orang kusta yang tak disembuhkan. Yesus berpesan: keselamatan itu berlaku universal, tak hanya untuk umat Yahudi. Pesan ini menggemparkan rasa religius orang banyak. Nasionalisme religius terusik: ngapain bersusah payah mengikuti tradisi kalau ternyata keselamatan bisa dicapai juga oleh mereka yang tak mengikuti tradisi itu?

Bacaan kedua menyodorkan jawaban: tradisi, agama, ritualisme tidak menyelamatkan. Yang menyelamatkan tentulah Allah sendiri, Sang Cinta. Tradisi, agama, tindak ritual (sesaleh, sealim apapun) takkan banyak gunanya tanpa Cinta. Ungkapan lainnya: jika Cinta itu direduksi sebagai tradisi, agama, atau ritual, niscaya keselamatan tak kunjung tiba. Jadi, alih-alih sibuk dengan ‘how to forget’ tradisi misalnya, jauh lebih mulia menjawab pertanyaan ‘how to love’. Yesus tak melupakan tradisi, tetapi pertanyaan ‘how to love’ senantiasa menatapkannya pada apa yang ada di depan, bukan di belakang. Melihat ke belakang hanya relevan sejauh yang di belakang itu dimengerti sebagai cara Allah membentuknya (bdk. bacaan pertama). Tiada Cinta, tiada masa depan. Ciyeeeh….

Ya Allah, semoga Cinta-Mu semakin meluas melalui pilihan dan tindakanku. Amin.


HARI MINGGU PEKAN BIASA IV C/2
31 Januari 2016

Yer 1,4-5.17-19
1Kor 12,31-13,13
Luk 4,21-30

Minggu Pekan Biasa IV B/1: Ngotot tapi Santai… Piye Jal?!