Yang Haram Memang Enak

Dalam diri kita ada kualitas babi, berapapun kadarnya. Ini sudah diulas dalam posting Setan dalam Babi maupun Kenapa Setan Memilih Babi (silakan klik kalau berminat dan punya waktu membacanya). Kedua posting itu ditulis dengan acuan teks Matius (8,28-34) yang paralel dengan teks Markus yang dibacakan hari ini. Seperti teks Matius, Markus menyebut kuburan, babi, dan laut sebagai asosiasi terhadap kekuatan jahat. Satu lagi ditambahkannya: Legion, nama satuan tempur kekaisaran Romawi yang mengembangkan teror terhadap penduduk jajahan mereka.

Teror sendiri belakangan ini mudah dilekatkan pada terorisme yang memakai kedok agama. Akan tetapi, ada juga teror yang kedoknya begitu samar sehingga banyak orang tanpa sadar menjalani hidup di bawah teror, mulai dari anak-anak sampai pensiunan. Anak-anak biasanya ditakut-takuti dengan ancaman. Orang muda dikelabui dengan kata-kata ‘sayang’ dan ‘cinta’. Orang tua dibebani tanggung jawab laksana memikul tugas negara. Semuanya dikurung dalam suatu sistem, sebuah kekuatan impersonal, yang mendesak orang untuk bereaksi seperti warga yang mendapati orang kerasukan setan itu sembuh: mereka takut, lalu malah meminta orang yang mengusir setan itu pergi meninggalkan mereka. Kewarasan malah jadi ancaman buat mereka. Kenapa ya? Karena Legion yang merasuki orang tadi pindah ke babi dan babi-babi mereka itu mati! Asem tenan! Rupanya babi lebih penting daripada kewarasan orang yang kerasukan roh jahat.

Barangkali begitulah yang terjadi dalam sistem kemasyarakatan sekarang: pokoknya hasil, modal bertumpuk, prestasi menjulang, popularitas meningkat, rumah di mana-mana, tak peduli relasi dengan pribadi manusia. Aneka target itu jadi teror halus supaya orang terus mengejar kesuksesan, kekayaan, kekuasaan yang menelantarkan relasi nan tulus dengan sesama dan Tuhan. Orang cemas dan takut kalau usaha hancur, popularitas dan karir merosot, kekayaan hilang, kekuasaan sirna, dan sebagainya. Memang itu semua lebih enak daripada menempatkan sesama sebagai pribadi yang bermartabat. Lebih enak memperalat orang lain untuk mendongkrak potensi pencapaian targetnya. Lebih enak berkubang dalam popularitas dan karir daripada repot memberi perhatian pada relasi pribadi dengan anak, misalnya.

Alternatifnya apa kalau kita tak ingin jadi bulan-bulanan teror, taruhlah kapitalisme atau neoliberalisme? Pada teks Markus direpresentasikan oleh orang yang sembuh dari kerasukan. Ia mau mengikuti Yesus. Akan tetapi, di sini jelas juga bahwa ‘mengikuti Yesus’ tidaklah sama dengan mengekor dia ke sana kemari. Pokoknya, pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau (Mrk 5,19 ITB). Mengikuti Yesus tak bisa diidentikkan dengan memeluk agama tertentu, tetapi dengan kesadaran akan cinta dan kerahiman Allah dalam sejarah dan hidup yang konsekuen dengan kesadaran itu.

Daud dalam bacaan pertama juga bisa jadi contoh. Ia tak terteror oleh anaknya yang memberontak dan mulai punya banyak massa untuk melakukan kudeta. Kok bisa ya gak terteror padahal jelas-jelas Absalom anaknya merongrong kekuasaannya? Bisa: ia ‘melibatkan’ Allah di situ. Yang haram memang enak, tetapi lebih nikmat lagi hidup yang diletakkan dalam kerahiman, kemurahan Tuhan.

Ya Allah, lembutkanlah hatiku supaya aku mampu menyandarkan hidup pada-Mu. Amin.


HARI SENIN PEKAN BIASA IV C/2
1 Februari 2016

2Sam 15,13-14.30; 16,5-13a
Mrk 5,1-20