Terima Kasih Ahong

Ini ungkapan terima kasih kepada seorang anak yang tak saya ketahui lagi di mana keberadaannya. Saya bertemu dengannya sekitar 22 tahun yang lalu, saat saya masih 22 tahun (wah ketauan deh umur saya), di rumah sakit untuk penderita cacat ganda di Pakem, Kaliurang, Yogyakarta. Saya bekerja di rumah sakit itu tanpa membayar maupun dibayar. Tugas saya sederhana. Di satu sal yang berisi puluhan anak, saya membangunkan mereka, memandikan mereka, membantu mengenakan pakaian, sarapan, bermain, makan siang, istirahat mandi lagi, dan seterusnya. Di atas kertas, itu tugas sepele, ringan juga. Sampai minggu ketiga saya masih punya energi yang luar biasa, tetapi memasuki minggu keempat, saya mulai kelelahan.

Mohon Anda bayangkan, memandikan belasan anak dalam satu ruangan mandi (tidak bisa sekaligus berpuluh-puluh anak), tidak sesederhana yang bisa saya bayangkan. Tak lucu juga kalau saya memakai selang dan menyemproti mereka seperti cuci mobil. Yang bisa saya buat saat itu adalah memakai ember untuk mengguyur anak-anak itu sebelum menyabuni mereka lalu kembali menggunakan ember membilas badan mereka. Ember besar berisi air sendiri bukan barang ringan. Terjadi juga ketika saya mengisi ember dengan air, beberapa anak lari keluar ruangan dan saya mesti mengejar mereka untuk kembali ke ruangan mandi. Ini membutuhkan energi yang rupanya tak dapat diperbaharui begitu saja.

Suatu siang, saat sudah hampir kehabisan energi, lapar, ngantuk, saya bersama Ahong di ruang bermain. Ahong adalah anak yang ‘biasa’, ‘hanya’ mengalami kelumpuhan kaki. Ia satu-satunya anak di sal itu yang bisa sedikit berdialog: bisa menjawab pertanyaan seputar identitas diri dan keluarganya. Kemampuan matematisnya juga baik. Kemampuan verbalnya cukup bisa diterima, tetapi penalarannya tak bisa disejajarkan dengan anak seusianya. Ahong punya keterbatasan.

Siang itu saya mudah gemetar karena memang lapar dan letih dan pada momen itulah Ahong meminta mainan kepada saya.
“Oom, ambilin mainan Ahong.”
“Mainan apa Hong?” tanya saya.
“Itu puzzle di atas lemari.”
Saya melihat puzzle terbuat dari plastik (untuk mengurutkan angka 1-9) dan saya coba sebentar ternyata rusak, kepingan angkanya tak bisa digerakkan. Saya kembalikan mainan itu ke atas lemari.

“Hong, mainannya rusak, gak bisa dipakai,” kata saya kepada Ahong.
“Iya, ambilin,” Ahong meminta lagi.
Saya jawab lagi bahwa mainan itu tak bisa dipakai.
“Pokoknya ambilin, Oom!” Ahong merengek dan pada saat itu saya masih memelihara akal sehat dan saya jelaskan akal sehat saya.
“Hong, puzzle-nya kan rusak. Kalau kamu pakai malah patah nanti gak bisa diperbaiki dan kita gak bisa pakai lagi. Jadi mendingan kita perbaiki dulu aja ya.” Saya masih bisa menjelaskan akal sehat saya dengan baik.

Akan tetapi, apa lacur, Ahong kembali merengek meminta mainan dan tiba-tiba darah dari ujung jempol kaki kanan saya merayap cepat ke bahu dan ke ujung jari-jari tangan kanan sehingga saya mengepalkan tangan kanan itu dan dalam hitungan sepersekian detik saya kehilangan akal sehat dan kepalan saya menghunjam dari atas begitu cepatnya mencari landasan meja di ruangan itu. Saya jengkel tak tertahankan karena Ahong tidak juga mengerti penjelasan akal sehat saya dan sisa energi saya membengkak untuk menggebrak meja itu. Saya merasa Ahong ini keterlaluan dan arogan; dia pikir punya pendidikan selevel dengan saya, begitu po?

Entah dari mana datangnya, ketika ujung tangan saya kira-kira setengah sentimeter jaraknya dari permukaan meja, saya mendengar suara keras sekali “Kasih itu sabar, lemah lembut, rendah hati…” dan tangan saya seolah terpental kembali ke atas, tak jadi menggebrak meja! Tiba-tiba pula sosok Ahong menjadi pribadi yang berbeda sama sekali. Saya memandangnya secara berbeda. Bagaimana mungkin saya memaksakan akal sehat saya kepadanya padahal saya tahu bahwa Ahong punya keterbatasan?!

Saya terpesona menatap Ahong sebagai sodara saya sendiri seraya mengambilkan mainan dari atas lemari; yakin bahwa Ahong nanti pasti mengembalikannya karena rusak. Akan tetapi, dalam hati saya sama sekali tak ada dendam atau gerutu,”Awas ya, dikasitau gak percaya!” Dan ketika Ahong mengembalikan mainan itu, dalam hati saya pun tak terlontar ungkapan “Tuh, kan, dasar keras kepala, dikasih tahu ngeyel!” Tidak. Saya menikmati momen itu dan menerima kembali mainan dari Ahong tanpa rasa menang.

Terima kasih, Ahong. Cacianku terhadapmu sebagai sosok yang keras kepala dan arogan justru membuatku tersadar: akulah yang arogan. Tak hanya itu, terutama melalui perjumpaan denganmu, aku tahu bahwa kesatuan dengan Tuhan bukanlah kesatuan berbau mitis ala ulasan TV komersial, melainkan kesatuan yang dimungkinkan karena Sabda Allah connect dengan keseluruhan pribadi seseorang. Karena Allah bisa bersabda dengan aneka jalan, dengan begitu, tak ada legitimasi bagiku untuk menghakimi bahwa jalan orang lain salah. Ada banyak jalan menuju Roma, dan tugasku ‘hanyalah’ mengingatkan orientasi orang ke Roma, bukan menyeretnya pada jalan yang kulalui.

2 replies

  1. Melayani anak-anak dengan keterbatasan menjadi rahmat yang luar biasa… Waktu msh postulan dan novis saya juga mendapat kesempatan belajar melayani di tempat yg sama dengan romo… Ketika di Belanda saya hampir 4 th membantu mengajar di sekolah utk anak-anak difabel. Awalnya saya berpikir saya akan melayani dan mengajari mereka, tetapi kenyataannya saya yang banyak diajari tentang hidup oleh mereka…Berkah Dalem.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s