Baiknya Cinta Segi Tiga

Ada orang yang senang jika disodori buah siap santap (sudah dikupaskan) dan ada jauh lebih banyak orang yang maunya bahkan buah itu dikunyahkan dulu seperti bayi. Hueeeksss…. Secara literal, itu menjijikkan, tetapi jika ditinjau sebagai analogi, sadarlah kita bahwa kebanyakan dari kita memang cenderung ingin buah yang “sudah dikunyahkan dulu oleh orang lain”. Maksudnya? Contohnya: orang yang melemparkan tanggung jawab hidup sendiri kepada keputusan orang lain, orang yang menyerah pada situasi, orang yang gemar cari jalan pintas, yang tak peduli dengan proses, yang maunya dicekoki dengan nasihat-nasihat moral, dan sejenisnya.

Salah satu hal yang senantiasa saya harapkan dalam penulisan blog ini ialah mereka yang kristiani terlebih dulu membaca teks sumber inspirasi tulisan saya (yaitu Kitab Suci, yang linknya saya sediakan juga) karena di situlah terdapat Roh yang menuntun kemunculan tulisan saya. Lha njuk yang bukan kristiani gimana? Gak masalah, karena dalam proses memahami tulisan di sini pun orang non kristiani akan memakai filter Kitab Suci mereka juga; mana yang cocok akan diambil, yang tidak ya tak perlu diambil. Loh, kalau begitu, yang kristiani pun gak baca teks Kitab Sucinya gapapa dong toh nanti ujung-ujungnya filter Kitab Suci mereka juga nongol?! Haiya… justru maksud saya membaca Kitab Sucinya sendiri akan memberi filter atau kerangka yang lebih utuh untuk memahami tulisan di sini. Ya tapi ujung-ujungnya saya juga tak mau memberi nasihat moral “rajin-rajinlah membaca Kitab Suci”, haha…. jadi sumonggo Anda yang mengambil keputusan untuk hidup Anda sendiri. Wewenang saya hanya untuk menunjukkan pentingnya membaca Kitab Sucinya sendiri.  

Teks Injil hari ini omong soal Yesus memanggil dua belas rasul: bukan untuk mempertahankan atau menghancurkan agama Yahudi, bukan pula untuk membangun agama baru, melainkan untuk menyertai Yesus dan mewartakan kabar baik. Bagaimana itu dibuat? Untuk para rasul jelas lebih gampang. Mereka bisa nginthil ke manapun Yesus pergi. Setelah guru mereka mati, barulah kelimpungan. Untunglah ada cinta segi tiga: cinta mereka kepada Yesus diakomodasi oleh Roh Kudus yang dicurahkan dalam diri mereka (oleh Kristus yang bangkit), yang tentu saja berkat Allah sendiri. Begitulah cinta segi tiga yang sesungguhnya: Allah, Kristus, Roh Kudus, yang berelasi dua arah (dan bukannya A sukanya K dan K sukanya R padahal R sukanya A, sebagaimana terjadi dalam relasi antarmanusia).

Orang bisa masuk dalam relasi cinta segi tiga itu karena Roh Kudus. Ia bisa saja tak percaya pada Kristus, tak ada yang melarang, tetapi ia tak bisa menyangkal bahwa Roh Kudus (dan kadang atau sering juga roh jahat) bekerja dalam dirinya, dan Roh Kudus itulah yang memungkinkan relasi dengan Allah. Jika percaya kepada Kristus berarti ia berelasi dengan Allah (bersama Kristus) seperti dua belas rasul Yesus. Jika tidak, ia berelasi dengan Allah tidak seperti dua belas rasul itu, dan memang tidak semua harus seperti para rasul itu sebagaimana Yesus memilih ‘hanya’ dua belas. Begitu saja. Begitulah maksudnya menyertai Yesus dan mewartakan kabar baik.

Tuhan, mampukanlah aku senantiasa untuk tinggal dalam Sabda-Mu. Amin.


JUMAT BIASA II C/2
22 Januari 2016

1Sam 24,3-21
Mrk 3,13-19

Posting Tahun Lalu: Penangkal Selingkuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s